Cara dan Waktu Yang Tepat Bermuhasabah



Pada artikel sebelumnya sudah di bahas mengenai "Pentingkah Muhasabah Untuk Diri Kita?", bagi yang belum membaca silahkan bisa membacanya terlebih dahulu. Lalu, bagaimana cara bermuhasabah, kapan seharusnya kita memulai bermuhasabah dan apa kegunaaan muhasabah? Berikut ini adalah ulasannya

Bagaimana cara yang mudah untuk bermuhasabah
Setelah selesai shalat Isya, atau sebelum tidur, melakukan evaluasi perilaku atau perbuatan yang telah dijalani, mulai dari pagi sampai dengan sore hari.
1.  Mulailah dengan hal-hal yang berkaitan dengan rukun islam dan rukun iman.
2. Kemudian mengingat hal-hal yang berkaitan dengan sesama manusia seperti orang tua kita, istri, suami, anak, saudara,tetangga, teman di tempat kerja dll.
3. Akuilah kegagalan-kegagalan dalam mengatasi ujian Allah sepanjang hari,  beristigfarlah kepada Allah, bertaubatlah kepada-Nya. Semoga Allah berkenan menerima taubat kita, lalu berniatlah untuk tidak mengulangi kesalahankesalahan tersebut dan tekadkan niat kita bahwa besok akan tampil lebih baik
lagi.
4. Jika ternyata kita ada masalah dengan sesama manusia maka kita harus berani minta maaf dan mintalah kerelaan mereka.

Kapan seharusnya kita memulai muhasabah?
Pengalaman menunjukkan bahwa kita samasekali tidak tahu kapan, dimana sedang apa seseorang menemui kematiannya, karena itu sudah semestinya kita lakukan  sejak sekarang. Dan barangsiapa yang melakukan introspeksi diri hari ini, niscaya dia akan memperoleh keamanan hari esoknya

Apa gunanya muhasabah yang singkat ini ?
Manfaat dari muhasabah ini adalah jika Allah takdirkan kita meninggal malam itu maka kita akan menghadap kehadirat-Nya dalam keadaan telah bertaubat. Akan tetapi jika kita ditakdirkan bisa menghirup udara segar pada esok harinya, maka kita akan mendapatkan manfaat yang antara lain, yaitu:
1.  Kita akan selalu berusaha untuk menghindari kesalahan
2.  Atau, apabila kita terjerumus kembali dalam kesalahan kemudian kita bertaubat kembali, demikian seterusnya hingga kita akan merasa malu terhadap Allah setelah berkali-kali bertaubat.

Menurut Khalid bin abdul Aziz Al-Jubair (2007) banyak orang yang bisa meninggalkan kebiasaan buruknya melalui cara ini. Mudah2an kita juga bisa melakukannya. Selain itu, menurut Albasyah (2005) untuk memelihara “kesadaran” agar tetap tinggi, kita perlu mencoba langkah berikut ini dengan konsisten, yaitu:
Setiap akan meninggalkan rumah, kita coba merenung sejenak untuk:
1.  Bertekad dengan segenap kesungguhan hati akan mengontrol nafsu dan akan bertindak sesuai dengan “aturan main” Allah, baik pada jalur hablum minallahmaupun pada jalur hablum minanas,
2.  Menyadari (mengantisipasi) bahwa sepanjang hari ini akan menghadapi ujianujian Allah, seperti: bergunjing, berprasangka buruk, dengki, malas shalat, ataupun diperlakukan tidak baik. InsyaAllah kita semua merupakan orang-orang yang bertakwa, yang dalam menempuh hidup ini memiliki visiyaitu untuk mendapatkan ridha Illahi, sehingga bisa melakukan muhasabah.

Imam Hasan Al-Bashri berkata:
“Seorang mukmin adalah panglima untuk dirinya sendiri, ia mengatur dan menginspeksi dirinya sendiri karena mengharapkan keridhaan Allah SWT”. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi seorang hamba untuk bersikap objektif terhadap dirinya sendiri. Jika dia  melihat dirinya melakukan kekeliruan, hendaknyalah dia menanggulanginya dengan cara meninggalkannya, melakukan taubat yang bersih, dan berpaling dari semua hal yang menyebabkan dia melakukan kesalahan tersebut.

Jika setiap individu bisa memperbaiki diri, insya Allah  akan tercipta keluarga, masyarakat, institusi, negara yang baik pula.  Rasulullah SAW membagi manusia dalam 3 golongan:
1. Golongan beruntung, jika hari ini lebih baik dari hari kemarin.
2. Golongan merugi, jika hari ini sama dengan hari kemarin.
3. Golongan celaka, jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.

Semoga hari demi hari yang kita lewati bersama-sama ini, menjadi awal menuju perbaikan diri. Aamiin. (Yuyu Yulia)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel