Pentingkah Muhasabah Untuk Diri Kita?


Kita terlahir di dunia sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mempunyai kekurangan dan kesalahan, baik kesalahan kepada diri kita sendiri, kepada kedua orang tua, teman, guru dan yang terpenting kepada Allah SWT. Oleh karena itu, muhasabah adalah salah satu jalan terbaik untuk mengakui dan menyadari kesalahan tersebut. Lalu, seberapa pentingkah muhasabah untuk diri kita?"

Pengertian Muhasabah
Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikan dengan menilai diri sendiri atau  mengevaluasi, atau introspeksi diri. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang  kamu kerjakan”. [Q.S.Al-Hasyr (59):18] Dari firman Allah di atas tersirat suatu perintah untuk senantiasa melakukan muhasabah supaya hari esok akan lebih baik.

Urgensi Muhasabah
Hari berganti hari, demikian juga dengan bulan dan tahun. Kalau kita memperhatian pergantian waktu ini, sesungguhnya kehidupan dunia makin lama makin menjauh sedang pada kesempatan yang sama kehidupan akhirat makin mendekat. Kita perhatikan keadaan di lingkungan tempat kita kerja dan di tengah keluarga, apakah masih tetap ? Secara jujur kita harus jawab tidak, kemana mereka? Sebagian karena sudah meninggal, Apakah yang meninggal hanya mereka? Jawabnya tentu tidak. Kitapun pasti akan meninggal. Firman Allah dalam Al Qur’an : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati “ (Q. S. Ali Imran. 3:185). Kemudian sesudah mati kita akan dihidupkan kembali, sebagaimana firman-Nya : ”Sesungguhnya kamu akn dibangkitkan sesudah mati “ (Q. S. Huud, 11 : 7)

Untuk apa? Untuk mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan kita, baik yang burhubungan dengan ibadah maupun amaliah. Maka dalam melakukan muhasabah, seorang muslim menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik ataukah lebih banyak berbuat kesalahan dalam kehidupan sehari-harinya. Dia mesti objektif melakukan penilaiannya dengan menggunakan Al Qur’an dan Sunnah sebagai dasar penilaiannya bukan
berdasarkan keinginan diri sendiri.

Oleh karena itu  melakukan muhasabah  atau introspeksi diri merupakan hal  yang sangat  penting untuk menilai apakah amal perbuatannya sudah sesuai denganketentuan Allah.  Tanpa introspeksi, jiwa manusia tidak akan menjadi baik. Imam Turmudzi meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga Maimun bin Mihran mengenai urgensi  muhasabah. Umar r.a. mengemukakan: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk  akhirat (yaumul hisab)".

Al Hasan mengatakan : Orang-orang mumin selalu mengevaluasi dirinya karena Allah. Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia”. Maimun bin Mihran r.a. menyampaikan: “Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya”.

Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah SWT. sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.  Firman Allah : “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan
sendiri-sendiri.”  [QS. Maryam (19): 95] Aspek-aspek yang perlu dimuhasabahi “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56] Berdasarkan ayat di atas, maka yang harus dimuhasabahi meliputi seluruh aspek kehidupan kita, baik yang berhubungan dengan Allah (ubudiyah) maupun hubungan dengan sesama manusia (muamalah) yang mengandung nilai ibadah. Aspek-aspek tersebut diantaranya adalah:

1. Aspek Ibadah yang berhubungan dengan Allah
Dalam pelaksanaan ibadah ini harus sesuai dengan ketentuan dalam Al-Quran dan Rosul-Nya. Dalam hal ini Rasulluh SAW telah bersabda : “Apabila ada sesuatu urusan duniamu, maka kamu lebih mengetahui.  Dan apabila ada urusan agamamu, maka rujuklah kepadaku “. (HR. Ahmad).

2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki
Aspek ke dua ini sering dilupakan bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan. Karena aspek  ini diangggap semata-mata urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:

‘Tidak akan bergerak telapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)

3. Aspek Kehidupan Sosial
Aspek kehidupan sosial dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu ?’ Sahabat menjawab:  “Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.”

Rasulullah saw. bersabda: ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa),  menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Apabila melalaikan aspek ini, maka pada akhir khayatnya orang akan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain. Jadi, muhasabah dapat diraih dengan melakukan hal-hal berikut:
1. Melakukan perbandingan sehingga menjadi terlihat kelalaian yang selama ini belum disadari.
2. Memikirkan kelemahan yang ada dalam diri.
3. Hendaknya ditanamkan dalam diri rasa takut kepada Allah SWT
4. Menanamkan ke dalam dirinya perasaan bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah dan bahwa Allah melihat semua yang tersembunyi dalam dirinya, karena sesungguhnya tiada sesuatu  pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah. Seperti yang tersirat dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” [QS. Qaaf (50):16]. Oleh Yuyu Yulia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel