Hikmah Dibalik Buta Warna

Hikmah Dibalik Buta Warna


Saya hidup dalam keluarga besar. Kakak saya berjumlah tujuh orang. Alhamdulillah bapak yang bermata pencarian sebagai petani bisa menyekolahkan anak anaknya. Namun, saya sendiri sudah sejak lama dibiayai oleh kakak kakak saya. Sebagai anak bungsu saya sudah tidak bisa mengandalkan bapak lagi, karena bapak sudah tua. Apalagi menjelang saya lulus SMP bapak terkena penyakit jantung, lever dan maag. Setelah bapak meninggal semua biaya sekolah saya diserhakan kepada kakak kakak saya.

Saya ingin sekali membalas kebaikan kakak kakak saya dengan prestasi saya. Sehingga ketika kakak saya menganjurkan masuk Sekolah Menengah Farmasi, saya setuju saja. Singkat cerita, saya mengikuti tes tertulis. Ada 800 orang yang mengikuti tes. Alhamdulillah saya termasuk 36 nama yang dinyatakan lulus. Saya mengikuti tes berikutnya, tes kesehatan. Tapi ketika dilanjutkan dengan tes warna saya mengalami hambatan, saya tidak lancar membaca angka saat tes warna. Seorang suster mengatakan bahwa saya mempunyai penyakit buta warna. Saya kaget, tidak percaya, bingung. Saya tau penyakit ini merupakan penyakit turunan. Saya menangis, begitu juga kakak.

Sejak saat itu saya menjadi murung, tidak pede. Meski hati kecil saya berusaha menerima dan mengatakan ini yang terbaik. Tapi saya jadi kurang ceria, bahkan dalam menjalani sekolah kurang bersemangat. Tapi keajaiban dimulai dari sini. Suatu hari, saya dipanggil oleh guru saya. Beliau mengatakan bahwa saya diminta menghadap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Garut saat itu juga. Saya penasaran dan bertanya tanya dalam hati. Saya pun tiba ditempat yang dituju. Disana sudah menunggu beberapa orang.

Alhamdulillah, panggilan itu adalah panggilan berkah. Karena Allah telah menunjukan takdir Nya. Saya berhak mendapatkan beasiswa sekolah penuh di SMU Plus di Jawa Barat. Saat itu, saya mengingat ingat saat tidak lulus masuk SMF. Ternyata saya mendapatkan yang lebih baik. Saya dapat melanjutkan sekolah gratis. Tentu nikmat ini menjadi kabar baik bagi keluarga saya. Selama tiga tahun saya mendapat berbagai fasilitas sekolah gratis. Dan ditempat itu saya bisa kembali menumbuhkan rasa percaya diri.

Setelah lulus SMA Plus, saya diterima di IPB melalui jalur PMDK. Kembali, Allah mempermudah saya. mendapat bantuan dana masuk IPB dari Bupati Garut. Sedang dana SPP dan biaya hidup  tiga tahun berikutnya berasal dari kakak kakak saya. Alhamdulillah di tempat ini saya kembali menumbuhkan rasa percaya diri saya. Melalui kegiatan ini pengajian dan kepanitian di IPB, perlahan saya bisa menerima penyakit buta warna itu.


Dindin Jaenudin, Bogor

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel