Mentakjubi Mereka Yang Berbagi

Sesungguhnya lubang jarum tak kan terlalu sempit bagi dua orang saling mencintai. Adapun bumi tak kan cukup luas bagi dua orang yang saling membenci (Al-Khalil ibn Ahmad).

Mentakjubi Mereka Yang Berbagi
Mentakjubi Mereka Yang Berbagi
Dan Clark, seorang penulis dan pembicara ternama bekisah tentang masa kecilnya. Suatu ketika, ujarnya, "Aku dan ayahku berdiri mengantri untuk membeli tiket pertunjukan sikus, ketika menunggu, kami memperhatikan sebuah keluarga yang juga mengantri tepat di depan kami."

Seingat Dan Clark, itu adalah sebuah keluarga besar. Sang Ayah dan si Ibu saling berpegangan tangan denagn mesra. Anak anak mereka yang berjumlah delapan orang berdiri berderet-deret dan bertingkah laku sopan. Menilik usianya, mereka semua berumur kurang dari 12 tahun. Pakaian pakaian mereka sederhana namun bersih dan rapi. Mereka jelas bukan orang kaya. Para anak asyik saling saling berceloteh menebak menebak hal menarik macam apa yang akan mereka lihat dalam sirkus.

"Sirkus," kata Dan Clark, "Pastilah suatu pengalaman yang benar benar baru bagi mereka." Ketika pasangan ini mendekat ke loket, sang penjaga bertanya berapa tiket yang akan mereka beli. Dengan nada bangga sang ayah menjawab, "Kami akan membeli dua tiket dewasa dan delapan tiket anak, agar kami semua bisa menonton pertujukan sirkus itu.

Ketika penjaga loket menyebutkan jumlah harga yang harus dibayar, si Ibu melepas tangannya dari genggaman sang suami, Kepalanya terkulai lemah. "Berapa tadi kamu bilang?" ujar sang ayah mendekat kepalanya ke loket. Si penjaga menyebutkan angkanya sekali lagi. Tampak jelas mereka sekeluarga tidak memiliki cukup uang. Sang ayah kelihatan terpukul.

Ayahku melihat semua kejadian itu, kisah Dan Clark. "Lalu di memasukan tangannya ke dalam saku lalu mengambil uang $20 kemudian menjatuhkan nya ke tanah." Ayar Clark lalu menunduk kebawah, lalu ditepukkan nya dengan tangah bahu sang pria beranak delapan yang sedang kebingungan. "Pernisi pak, "ujarnya. "Maaf uang bapak tadi jatuh dari dompet anda.

Pria beranak delpan itu sadar dan mengerti apa yang sedang terjadi. Dengan mata berkaca kaca dia melihat langsung mata Ayah Clark lalu memegang tangan nya dan menyalami dengan erat. "Terima kasih, terima kasih pak.", katanya dengan air mata mengalir di pipi. Ini sungguh berarti bagi saya dan keluarga.

Hari itu, kata Dan Clark menutup cerintanya, "Aku dan Ayah pulang tanpa menonton sirkus. Uang kami tak cukup. Tapi tidak masalah, Kami senang telah menjadi bagian keluarga itu.



Dalam dekapan ukhuwah, mari kita mentakjubi kisah orang yang tulus hati. Mereka yang berbahagia ketika mampu memberi manfat kepada sesama. Mereka yang merasa bangga bisa menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain. Mereka telah berada di puncak keteladanan kebajikan yang menyejarah. Semoga bermanfaat (Al Kisah)



Sumber gambar : oediku.files.wordpress.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel