Ada Cinta di Balik Masakan Ibu

Masakan Ibu enak!" "Ibu hebat" Begitula kira kira pujian yang meluncur untuk para ibu ketika anak-anak dan suaminya merasakan puas dengan hasil masakannya. Cita rasa lezat masakan ibu, dinilai selalu punya pengaruh besar bagi anggota keluarga. Cita rasa yang akan membangkitkan kenangan hingga ke masa masa berikutnya. Betapa tidak.

Masakan Ibu
Masakan Ibu
Kepiawaian memasak seringkali menjadi obat rindu setiap anak manakala jauh dari keluarga. Sering pula menjadi alasan para suami lebih memilih untuk makan dirumah ketimbang makan diluar. Sehingga tak heran bila dalam iklan iklan yang bermuara dari dapur ibu menjadi ikon nomer satu tak tergantikan. Ibu menjadi rujukan dalam penentu sebuah rasa.

Yang repot tentu jika ibu tak piawai masak dan memang tidak menyukainya. Seperti Ida, ibu yang dikaruniai satu orang putra dan tak piawai memasak. Belasan tahun membina rumah tangga, ia mengaku jarang sekali memasak. Jangankan untuk memasak masakan berat seperti rendang, opor, cuma numis aja berat. Males. Ngga suka.

Tapi jangan ragukan soal urusan rumah. Wanita yang tinggal dibilangan Timur Jakarta itu sangat apik dan suka sekali kebersihan. Tak betah mata dan tangannya membiarkan rumah berantakan apalagi bau. Ia sangat apik merawat rumah. Bersih ngga bisa dibeli diluar, tapi masakan bisa lho," terangnya diiringi derai tawa, suami dan anaknya memang tak pernah menuntut atas sikapnya selama ini.

Ulama Bicara Tegas Rumahtangga
Bagaimanakah pandanga fikih Islam menilai kasus Ida? Sebab kuat sekali anggapan bahwa memasak merupakan salah satu tugas wajib yang dilakukan seorang Istri. Dalam hal ini, para ulama berbeda pandangan.

Para ulama mazhab yang diwakili Imam Al-Kasani dari kalangan Mazhab Hanafi menyatakan bahwa istri tidak boleh dipaksa untuk mengolah masakan. Pendapatnya yang tertera di dalam kitab Bada' ini menjelaskan bahwa suami diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap saja. Demikian pula Imam Ad-Dardiri dari kalangan Mazhab Maliki dalam kitab As-Syarhul Kabiir menyatakan bahwa suami wajib melayani istrinya walaupun  istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat. Jika suami tak mampu, maka wajib baginya menyediakan pembantu. Lalu Asy-Syairozi dari kalngan Mazhab Safi'iyah dalam kitab Al-Muhadzdzab pun menyakan bahwa istri tidak wajib memasak, mencuci dan melakukan bentuk khidmat lainnya untuk suami.

Bagitu juga dengan yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa istri tidak wajib berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air dan bentuk pekerjaan rumah lainnya. Serta yang disampaikan Ibnu Hazm dari kalangan Mazhab Dzahiri dalam kitab Al-Muhalla.

Para ulama dari kalangan mazhab meyakini bahwa kewajiban istri terletak pada wilayah istimta'/pelayanan yang berhubungan seksual. Namun, Ibnu Taimiyah menyatakan pendapat berbeda. Menurutnya istri wajib melakukan tugas tugas rumah namun sebatas kemampuan dirinya. Yang wajib dilakukan adalah menaati suami bukan dalam rangka maksiat.

Tetapi, fakta lain di zaman Rasulullah dan para sahabat sendiri beragam. Seperti yang dilakukan Asma' binti Abu Bakar yang bersuamikan Zaubair nan miskin sehingga tak mampu memberikan pelayanan kepada Asma. Untuk hal tersebut Asma bertindak langsung mengambil air, memberi makan kuda, membuat roti, membawa biji-biji kurma diatas kepalanya dari kebun Zubair yang diberi Rasulullah.

Tak berbeda juga dilakukan oleh Aisyah ra yang sibuk mengolah adonan roti hingga tangannya melepuh dan sempat meminta Rasulullah mencarikan pembantu untuknya. Aisyah dan Ali hidup dalam keterbatasan meski keduanya memiliki power untuk hidup layak dengan mudah. Sebab bagaimana pun para istri merupakan pemimpin dalam rumah tangganya. "Setip kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya". Seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya. Dan ia akan ditanyai tentangnya.

Namun ulama kontemporer seperti Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tarirul Mar'ah menyatakan bahwa maksud dari perkataan wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggungjawab tentang kepemimpinannya adalah bukan berarti ia harus melaksakannya sendiri semua tugas rumah tangganya. Tapi yang dimaksud dari semua itu merupakan tanggung jawab (pengawasan) sementara eksekutornya bisa dilakukan orang lain seperti pembantu, anak-anak, kerabat atau bahkan dibantu suaminya sendiri. Semuanya tergantung finansial suami.

Bangunlah rumah tangga yang didirikan atas dasar cinta tentulah tidak akan pernah terwujud bila hanya didominasi oleh salah satunya saja. Suami terlalu mendominasi peran istri ataupu sebaliknya. Cinta tumbuh atas dasar 'rasa saling' dari keduanya.

Rasa saling kasih mengasihi, saling tolong menolong, saling menghormati dan saling ridho. Rasa saling inilah yang gilirannya akan melahirkan keterikatan kuat baik secara lahir maupun batin. Bilamana rasa saling sudah tumbuh, apapun yang dilakukan tak lagi terpaku pada ruang lingkup wajib ataupun sunnah, melainkan tumbuh dari rasa cinta dan pengabdian untuk memberi yang terbaik. Maka cita rasa masakan ibu, tentu lahir dari rasa cinta itu sendiri. (Sari Narulita)

Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel