Glaukoma Membawa Perubahan

Saya mudah sekali dikenali karena wajah saya yang berbeda, karena mata kanan saya berwarna biru. Entah bagaimana perasaan orang saat melihatnya, takut, seram atau kasihan. Itu wajar. Karena memang beginilah keadaan saya. Saat kecil saya sering diledek, di cemooh dan sebagainya. Dukungan dari ayah agar tidak mendengarkan kata kata mereka juga memberi semangat. Hingga saya merasa cukup percaya diri.

Glaukoma Membawa Perubahan
Glaukoma Membawa Perubahan
Saya bersekolah disekolah orang normal, hingga kini saya sudah lulus SMA. Banyak kendala yang saya hadapi. Mata kanan yang berwarna biru tidak dapat melihat sama sekali, sedang mata kiri alhamdulillah dapat melihat, namun tidak begitu sempurna. Saya sudah mencoba memakai kacamata, namun nihil. Karena biarpun sudah pakai kacamata, saya tetap saja kurang jelas kalau melihat, harus dari jarak dekat. Maka tubuh saya menjadi agak bungkuk kalau duduk, karena sering menunduk kalau membaca.

Sewaktu kecil saya sering dibawa kerumah sakit untuk check up  dan segala macam pengobatan glaukoma yang di derita ini. Tapi tidal berhasil. Saat remaja saya makin pasrah, biar Allah saja yang menyembuhkan. Saya mohon yang terbaik saja dari Allah, Dialah Yang Maha Tahu.

Kendala besar, bila guru menulis pelajaran di papan tulis. Walau sudah duduk dibangku paling depan, tetap saja saya tidak melihat apa yang mereka tulis. Terpaksa saya bertanya pada teman atau pinjam buku. Sewaktu di SD dan SMP, teman teman saya banyak, mereka juga sangat pengertian. Namun setelah SMA, teman saya sedikit dan berbeda dengan teman yang dulu. Saya mulai merasa, barangkali saya terlalu mengandalkan orang lain.

Saat tamat SMA itulah saya ulai berusaha mengurangi "kegiatan" menyusahkan orang lain. Awalnya saya jadi ketinggalan pelajaran. Saya kerap tidak mengerti apa yang disampaikan guru. Tapi saya berusaha sabar. Karena sebenarnya saya bisa belajar sendiri dengan membaca buku. Meski mungin karena kelainan pada mata, saya senang mendengar daripada membaca. Sikap teman di SMA juga mendatangkan hikmah lain. Saya jadi berusaha menyelami perasaan orang lain.

Dengan wajah yang berbeda saya lebih mudah dikenali dikenal orang. Mereka membicarakan saya, entah bicara apa, tapi saya possitive thinking saja. Saya pun bersyukur mempunyai orang tua yang sangat sayang sekali pada saya. Meski terasa mereka seperti terlalu khawatir. Dan saya tumbuh menjadi anak manja. Sulit sekali untuk mandiri. Tapi alhamdulilah saya terus berusaha mandiri. Saya ingin lebih berani dalam hidup ini, terus memperbaiki kelemahan diri, supaya bisa mewujudkan cita-cita. yaitu dapat bermanfaat untuk orang banyak. (Zahra Al-Banna)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel