Melihat Telaga Yang Sejuk Nan Indah di Raudhah

Raudhah adalah salah satu tempat paling diincar jamaah haji kala mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah. Raudhah merupakan salah satu titik mustajab untuk berdoa, yang terletak di antara rumah Rasulullah dan mimbar masjid Nabawi.

Raudhah


Menurut keterangan, jarak antara rumah Rasulullah yang kini menjadi makamnya dan mimbar sekitar 26 meter. Ada karpet hijau membentang di Raudhah. Tidak begitu luas memang, hanya sekitar 22m x 15 m. Ini tentu tak sebanding dengan jutaan peziarah yang berebut ingin masuk kesana.

Di tempat itulah para jamaah haji Indonesia dan Negara lainnya berebut sholat sunnah dan berdoa disana. Raudhah juga disebut oleh Rasulullah sebagai taman surga. Karena menjadi incaran tempat berdoa jamaah, tentu saja Raudhah selalu ramai. Jamaah kerap antri untuk masuk ke kawasan Raudhah.


Sujiono (50 tahun) memang sudah lama mendengar kisah tentang Raudhah yang mustajab. Karena itu mumpung melaksanakan ibadah haji pada tahun ini, ia juga ingin berziarah ke Raudhoh, seperti impian setiap orang yang berhaji.


Demikian halnya dengan Sujiono. Ia sebelumnya tidak tahu namun sering mendengan orang lain menyebutnya sebagai salah satu taman yang ada di surga, ia pun penasaran. Lelaki ini tidak ingin melewatkan kesempatan itu begitu saja. Ia sangat ingin sekali bisa berziarah ke Raudhah.

Hanya saja, ia tidak tahu persis dimana Raudhah berada. Maklumlah ia baru pertama kali menginjakan kaki di Tanah Suci. Pak Kyai Hamid yang melihatnya dalam kondisi penasaran itu dimaktab yang sama, lalu mengajaknya begitu saja, tanpa memberitahu kemana tujuan nya. Namun ternyata diajak ke Masjid Nabawi.

“Sudah, ayo ikut aku?” ajak sang Kyai.

“Betul, Pak Kyai?”

“Mari ikut aku”.

“Baik, Pak Kyai”

Akhirnya, pagi itu mereka berangkat menuju Masjid Nabawi. Hingga tibalah mereka di tempat yang dituju. Keduanya langsung menjalankan sholat sunnah. Sujiono tampak khusuk. Bukan saja menjalankan sholat sunnah saja, namun juga melanjutkan dengan berdzikir.

Sadar bahwa teman nya ingin terus bermunajat, pak kyai meminta izin untuk undur diri dulu. Pak Kyai sengaja meninggalkan di Raudhah dengan harapan mendapatkan suatu pengalaman tertentu meskipun apapun bentuknya.

“Pak, teruskan saja zikir dan doanya. Aku tinggal dulu sebentar. Nanti aku kesini lagi”, kata sang Kyai. Baik pak Kyai. Saya betah disini. 

Sesudah sang kyai beranjak dari Raudhah, Sujiono kembali melanjutkan zikirnya, mulutnya terus berzikir, bersholawat, tahlil dan baca bacaan lain. Lelaki itu begitu larut dalam doanya dan merenungi sekali. Hingga diantara sadar dan tidaknya, ia terasa diperlihatkan sebuah telaga yang sangat indah. Airnya begitu putih nan jernih, ditingkahi angin semilir yang sejuk. Dipinggir pinggir telaga, rerumputan hijau menghampar. Dan tak jauh dari telaga, beberapa pohon kurma tumbuh subur degan daun yang melambai-lambai diterpa angin. Sungguh pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. 

Sujiono tampak menikmati berada ditempat yang sangat indah tersebut. Mulutnya terus berzikir atas anugerah Allah. Ingin rasanya meminum air telaga itu, membasuh muka dan badannya dengan air yang bersih dan pastinya menyegarkan untuk tubuhnya. Ingin juga rasanya tubuhnya direbahkan diatas hamparan rerumputan hijau yang halus, bersih nan cantik itu. Ingin rasanya menghirup terus udara segar yang betiup sepoi sepoi disekitar sembari memetik kurma yang manis rasanya. Pokoknya pemandangan yang ada di depannnya itu adalah pemdangan terindah yag ian belum pernah temukan sebelumnya.

Lelaki sederhana yang demikian khusuknya dalam doa dan zikirnya di Raudhah itu merasakan hawa sejuk semakin lama. Tubuhnya agak gemetar menahan dingin, padahal orang orang disekitarnya yang juga sedang berdoa dan berzikir tidak merasakan hawa dingin sejuk seperti yang dialami Sujiono. 

Pak Kyai yang sudah kembali ke Raudhah melihat kondisi itu. Ia keheranan melihat Sujiono. Lalu menepuknya. 

“Ada apa denganmu pak?” 

Sujiono tak menjawab, masih diam saja. Hanya menoleh pada orang yang menepuk pundaknya. 

“Apa yang kamu alami pak?”. Nanti saya cerita di maktab saja, ujarnya kepada Pak Kyai.

Sujiono kemudian meninggalkan Raudhah bersama sang Kyai. Dalam hati, sang kyai penasaran dan bertanya tanya. “Kenapa ia tadi kuperhatikan merasa kedinginan sekali, tubunya serasa menggigil? Padahal jamaah yang lain tidak, Kenapa saat kutepuk pundaknya dan kutanya ia tidak segera meresponnya. Ia hanya merenspon dengan berdiri dan menuruti ajakanku untuk kembali ke maktab?”

Pagi berganti siang. Keduanya sudah sampai di maktabnya. Setelah Sujiono merasa tenang, barulah ia mulai membuka pembicaraan dihadapan sang Kyai.

“Begini pak Kyai, di Raudhah tadi saya mengalami pengalaman yang luar biasa hebat. Saat saya tenggelam dalam zikir, medadak saja saya merasa berada di sebuah telaga nan indah dan sejuk sekali. Dimana airnya sangat jernih, ingin rasanya masuk di dalamnya dan meninum sejuknya air telaga itu. Di tepi telaga terdpat rerumputan hijau yang sangat menyejukkan mata, saya juga ingin berbarig ditempat itu sakng indah dan bersihnya. Belu lagi angin nya yang bertiup sepoi sepoi dan semilir, hingga badan ini merasa sejuk sekali. Subhanallah Kyai.. benar benar pemandangan indah luar biasa yang belum saya lihat sebelumnya.

Subhanallah…bersyukurlah. Engkau telah mendapat anugerah yang sangat besar. Engkau diperlihatkan oleh Allah SWT sebuah karunia yang tak ternilai harganya. Insya Allah apa yang engkau lihat dan rasakan itu benar benar raudhah min raiyadhil jannah (salah satu taman diantara taman surga) Aamiin yang Rabbal’alaminn”

Sujiono tak mampu menyembunyikan kebahagiannya, Air matanya berkaca kaca saking bahagianya. Sungguh ia tak menyangka mendapatkan kenikmatan yang kuar biasa. Betul betul ia sangat bersyukur, belum tentu orang yang berkunjung ke Raudhah bisa mengalami hal yang serupa. “Ya Allah, jadikanlah hamba termasuk orang orang ya beruntung dan mati dalam keadaan khusnul khatimah” Aamiin. 
(Herry Munhanif)


Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.



Sumber gambar : syahrilkadir.files.wordpress.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel