Meneladani Al-Hafidz, Sang Maha Pemelihara

Seorang petani bersujud sambil menangis. Awalnya, ia sempat memaki-maki diri. Semua hasil panen yang akan dijual kepasar rusak karena ia terpelanting jatuh ketika melewati pematang sawah. Pagi itu, ia urung menjual menjual barang dagangannya karena tertinggal angkutan yang biasa membawa sekolompok petani ke kota. Sambil melangkah lesu, ia mengaduh kepada sang istri yang melepasnya sebelum Subuh. Namun, selang matahari setinggi tombak, seisi kampung terhentak. Kabarnya, para petani yang tadi pagi menjual hasil panen ke kota semua telah meregang nyawa, tak tersisa. Mobil masuk jurang. Petani itu menghela nafas. Ia tersadar bahwa Allah ternyata memeliharanya dari musibah masuk jurang, dengan cara terpelanting ke pematang.

Meneladani Al-Hafidz, Sang Maha Pemelihara
Meneladani Al-Hafidz, Sang Maha Pemelihara

Berdasarkan cerita diatas, kita bertanya, mengapa manusia selalu terlambat memecah rahasia Allah yang berlaku kepadanya? Bukankah Allah Maha Pemelihara?

Al Qur'an sendiri telah memberi informasi tentang Sang Maha Pemelihara itu, misalnya "Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang (Q.S.Yusuf:64) Dalam ayat 2 Surat Saba, ayat 34 berbunyi, "Tuhanmu Maha Pemelihara segala sesuatu" (QS.Hud:57). Termasuk, "..Dan adalah Kami Pemelihara mereka" (Q.S. Al Anbiya:82)

Secara bahasa, Al-Hafidz berarti memelihara segala sesuatu agar tidak berubah. Makna lainnya adalah menjaga dan mengingat. Bila dikaitkan dengan sifat Allah, al-Hafidz adalah Dia yang memelihara segala yang ada agar tidak binasa. Dia yang menjaga ciptaan-Nya dari kerusakan dan kekacauan. Dia mengetahui dan mengingat semua yang dipikirkan, diucapkan, dilakukan oleh semua makhluk baik saat ini, nanti atau yang telah lalu. 

Pentas jagat raya yang ditingkahi berotasinya miliaran benda angkasa tetap beriringan tanpa benturan merupakan manifestasi dari Asma-Nya, yakni Al-Hafidz sebagai Sang Maha Pemelihara, Dia menganugerahkan kita naluri untuk memilih yang baik, melempar yang buruk sehingga hidup kita teratur, terpelihara dan tetap lestari.

Allah memelihara manusia untuk tidak membunuh sesamanya karena hal itu akan menimbulka malapetaka dan kehancuran. Ketika manusia membutuhkan makan maka Al-Hafidz mengajarkan manusia bekerja (bertani, berdagang). Saat rangsangan seksual meningkat, Al-Hafidz menghalalkan pernikahan. Sebab perzinahan akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Naluri makan, minum yang halal dan baik sehingga manusia dapat hidup secara sehat, tak lepas dari peran Allah Sang Maha Pemelihara. Allah juga menegaskan untuk menjauhi khamar, berzina, bejudi, bertindak anarkis, munafik, iri, menebar fitnah, berlaku boros, dll.

Allah memelihara semua itu karena hal itu merupakan pangkal dan sumber kerusakan dan kehancuran fisik dan psikis. Secara lebih rinci, makna Al-Hafidz yaitu :
1. Allah memelihara insrastruktur yakni bumi dan isinya untuk kenikmatan dan kesejahteraan manusia
2. Allah mengutus malaikat, para nabi dan orang-orang shaleh untuk memelihara manusia

Saudaraku, untuk bisa bahagia dan saling membahagiakan, siapapun kita, seharusnya kita menjadi pemelihara, seperti Allah Sang Maha Pemelihara kita (DR.KH. Syamsul Yakin, MA)

Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel