Mengenal Sosok Abdurrahman bin ‘Auf

Apabila Rasulullah SAW pernah memberitahukan ada sepuluh sahabat yang dijanjikan bakal masuk surga, maka nama Abdurrahman bin ‘Auf tergolong di dalamnya. Nabi menyebut namanya di sela-sela nama para sahabat agung yang lain, tidak terkecuali empat pengganti Rasulullah (al-khulafaur rasyidun).

Mengenal Sosok Abdurrahman bin ‘Auf
Mengenal Sosok Abdurrahman bin ‘Auf
Saat berita hadits itu sampai di telinga Abdurrahman bin ‘Auf, dadanya tidak latas membusung. Ia justru gemetar takut. Suasana batin seperti ini berjalan semakin-menerus hingga ia memberanikan diri menemui Rasulullah.

Abdurrahman bin ‘Auf sendiri adalah kerabat Nabi. Silsilah keturunan mereka berdua berjumpa di generasi keenam ke atas, yakni Kilab bin Murrah. Tetapi demikian, kedekatan hubungan darah tidak dan-merta mengurangi sikap takzim Abdurrahman terhadap Sang Utusan Allah.

Abdurrahman bin ‘Auf tetap semakin terngiang  dengan perkataan Rasulullah ketika bakal berjumpa denganucapan itu.  Bagusdahan hatinya lah yang membikin hatinya diliputi kecemasan lantaran berita yang mengistimewakan dirinya di antara para sahabat ternama itu.

“Allah sudah memberimu hutang yang indah, yang membebaskan kedua kakimu,” tutur Rasulullah sebagaimana tercatat dalam kitab At-Thabaqatul Kubra karya Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani.

Melewati Nabi, Jibril lantas memberinya pesan anjuran terhadap Abdurrahman bin ‘Auf untuk senantiasa memuliakan tamu, memberi makan kaum miskin, dan menolong orang-orang yang perlu pertolongan. “Apabila semua lakukanan ini dilakukan maka lunas lah hutang-hutang tersebut.”

Abdurrahman bin ‘Auf sejak awal terkenal sebagai orang yang super dermawan. Ia pernah menyedekahkan 700 rahilah, yang mayoritas untuk para faqir dan miskin. Rahilah adalah tipe unta tunggangan yang harganya lebih mahal dari unta biasa. Abdurrahman memberbaginya beserta barang bawaan dan pelana berikut alasnya.

Di mata Rasulullah, Abdurrahman istimewa salah satunya sebab kepedulian sahabat As-Sabiqunal awwalun (golongan orang pertama masuk Islam) ini terhadap masyarakat lemah. Hatinya tetap lapang walau harta bendanya tidak sedikit didermakan untuk kepentingan itu.

Suatu kali Rasulullah pernah dari arah belakang mengalungkan serban dan menutupi kedua bahu Abdurrahman bin ‘Auf. “Inilah hamba yang shalih,” lisan Nabi yang lembut melontarkan pujian.

Abdurrahman bin ‘Auf adalah orang dengan ketawadukan yang menarik. Sebabnya, berita tersanjung yang mengistimewakan dirinya pun direspon dengan rasa khawatir. Bukan tidak percaya alias tidak suka. Baginya, di hadapan Tuhan dirinya tidak ada apa-apanya. Karakter ini seolah menjadi tamparan keras bagi orang alias kelompok yang merasa paling benar dan mulia walau tanpa jaminan surga.

Al-Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin ‘Auf wafat pada tahun 32 hijriyah dan disemayamkan di Baqi’, Madinah, dekat dengan makam Rasulullah SAW (NU/Hidayah.co)

Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel