Sang Kekasih

Dengan apa kita bisa mengenang Kekasih Allah? Cahaya. Ya, dengan cahayalah. Dialah sejatinya cahaya yang menyuluh semesta. Bahkan, syahdan jauh sebelum semesta ini ada, sebelum Adam hadir, sebelum rupa-rupa makhluk lainnya tercipta, beliaulah yang pertama kali mengejawantah. Rabb Azza wa Jalla menciptakan dirinya dalam prototipe nur, sumber cahaya untuk ciptaan lainnya. Begitulah kamu sufi dalam beberapa literatur kerap menahbiskan posisi Baginda kita, Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah, Sang Kekasih Allah SWT
Terlebih, Allah SWT dalam hadist Qudsi pernah menyatakan : "Laulaaka...laulaaka...lamaa khalaqtul-aflaka", yang artinya "Jika bukan karenamu, jika bukan karenamu (wahai Muhammad) tidak akan kuciptakan semesta."

Karena itulah, ketika beliau lahir ada cahaya yang memancar dari timur hingga ke Barat. Demikian sebagian riwayat hadist mencatatnya. Ya, semesta memang menyambutnya, serupa menunggu pujaan hati yang lama tidak bersua, laksana kekasih yang lama dilanda rindu. Ternyata, nujum pemuka agama Yahudi dan Nasrani itu benar. Mereka yang lama menantinya bungah. Orang terpilih sudah lahir. Manusia kinasih sudah datang. Al Qur'an mengabadikan ikhwal ini : "Yaitu orang-orang mengikut Rasul. Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapat tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka" (QS.Al-A'raf:157)

"Dan ingatlah ketika Isa Putra Maryam berkata : 'Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)"(QS. As-Shaff:6). Harapan besar ada padanya setelah sekian lama manusia berjibaku dalam kegelapan langkah dan kekaburan iman. Ia benar-benar dinanti sebagai suluh jagat dan isinya.

Dengan apa kita semestinya meniru Rasulullah SAW? Adab dan akhlak. Untuk ini, tentu anda sangat hapal hadist mahsyurnya: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak". Ya, bukti kenabian junjungan kita yang paling hakiki memang pada akhlaknya yang indah dan luhur. Sebab akhlak mulianya adalah sebuah karya besar atas bantuan Allah SWT. Demikian Prof.Quraish Shihab menyebutnya. Dan kita mafhum, pada wilayah inilah, baik muslim terpelajar maupun tak terpelajar, entah ia non muslim terdidik atau non muslim tidak terdidik kerak kali tersungkur dan abai diranah ini. 

Tidak banyak yang meniru dengan setia dan bungah laku indahnya. Terutama sekali di zaman sekarang, kian terasa betapa adab dan berakhlak yang baik diangap "kurang gaul", "tidak modern", "kurang menguntungkan" dan seterusnya. Saya kadang suka berfikir "sederhana" untuk beragama. tidak perlu banyak teori, tidak mesti banyak wacana. Cukup ikuti jejak Rasulullah, berakhlak yang indah.

Lalu dengan apa seyogyanya berharap dari Baginda Nabi Muhammad SAW? Syafaatnya. Pertolongannya. Jika kesadaran tentang beliau adalah cahaya penyuluh jiwa, mari kita berharap syafaatnya.  Jika kesadaran tentang Rasulullah adalah akhlak mulia yang layak ditiru, marilah kita bercita-cita mengejar syafaatnya. Sebab padanya ada obat raga. Dialah muara pertolongan yang diridhai  Allah SWT.  Allahumma shali'ala sayyidina Muhammad wa'alihi wa sallim. (A.Muaz)

Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.


Gambar : pecintahabibana.wordpress.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel