Selamat dari Kelumpuhan & Maut Berkat Sedekah

Tak terbayangkan susahnya perjalanan hidup lelaki bernama Randi. Di usianya yang masih muda, ia harus tertimpa penyakit yang membuat seluruh aktifitasnya vakum, tanpa sedikit pun dapat ia lakukan. Randi tiba-tiba saja merasakan sepasang kakinya lumpuh total. Itulah salah satu siksaan yang membuat Randi seperti kehilangan segalanya. Ia menyesali keadaannya dengan ratapan, dengan sumpah sarapah dengan berteriak, "Kenapa bisa begini?" "Saya tidak terima!" Saya tidak mau menjadi lelaki yang lumpuh tanpa daya!"

Sedekah
Sedekah
Randi terus berkubang sesal setiap harinya. Kadang ia meratap sembari mengingat kesalahan yang telah ia lakukan. Ia juga mencari tahu lewat batinnya, apakah ia telah berlaku zalim terhadap orang lain atauakah pernah menyakiti seekor kucing, menyepaknya hingga binatang itu lumpuh dan kini ia menerima balasannya.

Sepanjang pencarian kesalahannya, Randi merasa tak pernah melakukan itu semua. Lalu mengapa penyakit kelumpuhan ia alami. Ooo..betapa menderitanya Randi, ketika setiap saat harus menjalani kehidupannya dengan berjalan menggunkana bokong, beringsut sedikit demi sedikit untuk mencapai tujuan.

Bila rasa malunya telah dikesampingkan, barulah Randi mau menerima bantuan orang lain. Tetapi ketika gengsi bersarang di dadanya, Randi malah mengahardik orang yang ingin meringnkan bebannya.

Saya masih bisa melakukan itu, tak perlu dibantu!" hardiknya. Kadang Randi membenarkan egonya, tapi disaat lain, menyesali. Mengapa ia harus menghardik orang baik itu?" Saat Randi berfikir tentang perubahan, tentang kebaikan yang harus ia lakukan, ketika tulah Randi mengingat sedekah. Ya, sedekah selain membuka rezeki, ia juga dapat menjauhi seseorang dari keterhampitan, kesusahan dan yang lainnya. Niatnya sudah bulat untuk bersedekah sekecil apapun. Randi ingin mendermakan sebagian hartanya.

Saat waktu shalat hampir tiba, Randi beringsut ke beranda rumahnya. Kali ini ia tidak mengeluh dengan cara berjalan yang tidak wajar. Baginya, kini itu adalah ujian hidup yang harus dijalani. Di depan rumahnya, Randi duduk, seperti memandang kesatu arah, sebuah gang kecil. Dari situ rupanya biasa seseorang yang ditunggu Randi muncul. 

Ah, itu si Asep, "ucap Randi dalam hati, wajahnya terlihat sumringah. Saat Asep mendekat dengannya, Randi segera menegur, "Sep, bolehkah saya menitip ini?" Tanya Randi sambil menyodorkan selembar uang yang telah dilipat. "Tolong masukkan ke dalam kotak amal masjid ya, " lanjut Randi sebelum Asep berkomentar. "Oh.." itu komentar Asep sambil tersenyum. "Tolong ya sep, "tambah Randi seperti memohon. Sedekah ini pasti akan sampai ke kotak nya, Kang Randi, ujar Asep.

Terima kasih, tukas Randi. Begitulah setiap harinya yng dilakukan Randi. Meski sedikit, ia terus tutin sedekah sedekah di Masjid melalui Asep yang rajin sholat berjamah di masjid. Allah Maha Mengethui niat hambanya. Beberapa ratus hari setelah Randi mendawamkan sedekahnya, alhamdulillah sedikit demi sedikit tungkai kakinya mampu digerakkan.

Ranting Tajam
Kalau biasanya Randi bersedekah di masjid melalui tangan Asep. Alhamdulillah kini ia dapat melakukan sendiri. Mendawamkan sedekah lewat tangan sendiri dirasanya lebih afdol. Lebih terasa.
Randi selalu merasakan kelegaan di dalam hatinya. Ada kebahagiaan yang entah apa penyebabnya. Ketika ia baru saja menyelesaikan sholat berjamaah di masjid, kebahagiaan itu terus menyeruak di hatinya selepas meninggalkan masjid. Kebahagiaan itu seperti tak berujung. Pun ketika Randi sudah berada di rumah, sampai ia kembali keluar rumah membeli sesuatu, kebehagiaan itu terus membuntuti perasaan nyaman dan terus menempel.

"Tersenyum terus ran, seperti habis dapat rezeki nomplok," ujar Asep. Asep yang sejak tadi menyaksikan sikap Asep. "Senyum itu ibadah loh. sep dan ibadah itu berbuah pahala, " jawab Randi. Asep tertawa, kamu benar Ran, ujarnya. Baru saja Asep selesai tertawa, dari kejauhan terdengar suara angin menderu. Hembusannya semakin lama sekamin terasa. Sangat kuat. Rumah-rumah beratap seng menimbulkan suara berisik, karena seng seng itu terangkat oleh angin ribut yang datang tiba-tiba.

Seng seng atap rumah banyak yang terkoyak, tercerabut dari tempatnya, terbang sesaat dan terhempas ke bumi. Pohon yang ada di sekitarnya juga ada yang tumbang, patah. Astagfirullah. Randi sempat panik. Begitu juga Asep. yang berada tak jauh dari Randi. Angin terus mengamuk, menghantam kambali pohon yang berusaha bertahan. "Kraak!". Bagia atas pohon itu sempal. Rantingnya besarnya patah terhempas kuat dan meluncur dengan cepat. Bagai anak panah terhempas dari busurnya.

Astahfirullah. Asep memekik saat menyaksikan ranting lancip yang meluncur bagai anak panah mengarah tepat ke wajah Randi. "Awass Randi!!. Asep berteriak. Randi seperti patung membeku. Ia melihat patahan ranting tajam meluncur ke arah wajahnya, bahkan tepat kearah matanya, tapi Randi tak kuasa bergerak, ia seperti terkesima. Namun saat beberapa sentimeter lagi ranting tajam itu menghujam bola mata Randi, mendadak seperti ada kekuatan yang mampu mengalihkan arah ranting itu darinya. Seperti kemudi yang secara mendadak membanting stir oleh supirnya, ranting itu bergeser arah. Arah seharusnya tepat menhujam bola mata Randi, tapi bergerak meyamping beberapa sentimeter dari bola mata Randi.

Randi nyaris tak percaya. Allah Yang Maha Kuasa telah menyelamatkan dirinya dari maut. "Alhamdulillah.." Saat angin riut itu reda, Randi merasa sekujur tubuhnya lunglai tnpa daya. Dan Asep segera menghampiri. "Allahu Akbar, kamu terhindar dari maut itu, Ran, " ujar Asep. Randi memandangi Asep tanpa ada sepatah katapun yang teruicap. Namun dalam hati, ia meuji kebesaran Allah mengagungkan Kekuasaan Allah. Dirinya semakin yakin dengan kekuatan sedekah. Wallahu'alam bisshawab (Zubair Mahmud)


Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel