Taubat Yang Diterima dan Tidak Diterima

Islam mengajarkan umatnya untuk segera bertaubat apabila mengerjakan kedurhakaan (perbuatan maksiat), apalagi bila yang dilakukannya tergolong dosa besar. Setiap kali ia kembali melakukannya, ia harus bertaubat lagi. Dan berapa kalipun ia bolak balik antara durhaka dan taubat, Insya Allah taubatnya diterima oleh Allah SWT jika ia bertaubat dengan sungguh-sungguh dan bertekad tidak akan kembali melakukannya. Jika ternyata ia kembali melakukannya, ia harus segera bertaubat lagi dengan penuh kesungguhan dan tidak bermaksud mempermaikan taubat dengan berkalli-kali durhaka dan taubat.

Taubat Yang Diterima dan Tidak Diterima
Taubat Yang Diterima dan Tidak Diterima

Meskipun demikian, ada saatnya ketika taubat seseorang tidak diterima lagi oleh Allah SWT. Karena itu, jangan sampai dalam kehidupan ini kita terlena dengan perbuatan-perbuatan durhaka dan tidak sempat bertaubat sampai datang saat ketika taubat tidak diterima lagi.  Marilah kita perhatikan ayat 17 dari Surah An-Nisa berikut ini yang berbicara mengenai taubat dan kita simak pula penafsirannya menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Allah SWT berfirman :

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang." Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (QS. An-Nisa :17-18)

Makna ayat diatas " Sesungguhnya Allah hanya akan menerima taubat orang-orang yang melakukan kejahatan karena kejahilan kemudian ia bertaubat sebelum ruh sampai di tenggorokan. Mujahid, setiap orang yang durhaka lantaran salah atau sengaja, ia orang yang jahil sampa ia menghentikan dosanya itu. Qatadah mengatakanpara sabahat Rasulullah SAW berkata bahwa setiap dosa yang dilakukan oleh seorang hamba adalah kejahilan. Ibnu Abbas mengatakan penggalan ayat yang artinya : Kemudian mereka bertaubat dengan segera ialah jarak anatara keadaan dirinya sampai ia melihat malaiakat maut. Ad-dhanak berkata, "Masa sebelum terjadinya kematika disebut dekat." Al-Hasan Bashri berkata, "Dekat ialah sebelum seseorang sekarat." Sedangkan ikkrimah mengatakan, "Mass dunia seluruhnya disebut dekat."

Jika terjadi sekarat dan nafas naik turun naik pada tenggorokan, pada saat itu tiada lagi penerimaan taubat dan lenyaplah sudah kesempatannya. Oleh karena itu, Allah berfirman yang artinya, "Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang."

Allah SWT pun menetapkan kepada penghuni bumi perihal tidak akan diterimanya taubat mereka jika mereka telah melihat matahari terbit dari arah Barat, yaitu dalam firman-Nya yang artinya, "Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya (QS.An'am:158) (Hidayah.co/Alkisah)

Gambar : tawarikhkehidupan.blogspot.com

Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel