Kenapa Daging Halal Berkualitas Tinggi?

Permintaan daging halal dalam satu dekade mengalami peningkatan lumayan tajam. Jepang sejak tahun 2010 terus gencar memproduksi daging halal. Permintaan pasar produk halal Jepang, menjadi penyebab terus ditingkatkannya produksi daging halal. Pasar produk halal di Amerika Serikat juga terus berkembang, sebab pesatnya pertumbuhan penduduk muslim di Amerika Serikat dan penduduk Amerika Serikat non muslim juga mempunyai minat terhadap produk halal. Faktor keamanan dan higenis yang menjadi argumen mereka memilih mengonsumsi produk halal.   

Begitu juga Singapura, Malaysia, Australia dan negara lainnya. Di Inggris, penduduk muslim 4% dari total penduduk, sedangkan  ketersediaan produk daging halal mencapai 15% dari seluruh daging yang dijual. Minat masyarakat non-muslim mengkonsumsi daging berlabel halal didorong oleh faktor nilai daging yang dinilai kaya rasa, lebih lembut, lebih aman dan lebih higienis.Banyak perusahaan lokal sudah sukses mengambil keuntungan dari aturan Islam dalam akuisisi pasar Islam dan penciptaan pasar muslim yang menciptakan gaya hidup muslim pada masyarakat Eropa (Ameur: 2011).  

Kenapa Daging Halal Berkualitas Tinggi?
Kenapa Daging Halal Berkualitas Tinggi?
Alasan nilai menjadi pertimbangan konsumen, memilih daging halal untuk dikonsumsi. Bagaimana hewan ternak (halal) yang disembelih dengan cara Islam bisa menghasilkan daging yang kaya rasa, lebih lembut, lebih aman dan lebih higienis? Berikut ulasan singkatnya. Daging halal dihasilkan dari penyembelihan hewan halal dengan cara Islam. Dalam faktor ini, daging halal menjadi faktor yang sangat penting bagi setiap Muslim, sebab tak hanya berpengaruh baik terhadap kesehatan tetapi  juga mempengaruhi pembentukan perilaku. Penyembelihan adalah salah satu metode untuk mematikan fauna dengan melakukan pemotongan pada leher dengan tujuan mengonsumsi dagingnya. 

Daging halal dimaksud adalah tipe hewan yang dibolehkan umat muslim untuk mengonsumsinya. Penyembelihan dengan cara Islam diartikan sebagai penyembelihan sesuai syariat Islam, yaitu; penyembelihan yang diawali dengan menyimak Basmallah yang dilakukan dengan memakai pisau tajam, dengan memotong 3 saluran pada leher, yaitu : saluran makan, saluran napas dan dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis. Penyembelihan bakal mengalirkan darah hewan keluar tubuh dengan cara cepat.   

Darah yang tetap bersarang didalam tubuh hewan bakal bisa menjadi tempat perkembangbiakan kuman, bakteri dan toksin. Mikroorganisme yang berkembang bakal bisa menyebabkan beberapa penyakit. Sedangkan ketika darah hewan sudah keluar dengan cara sempurna dari tubuh hewan sembelihan, bakal  dihasilkan daging yang lebih segar dan tahan lama. Tetapi tentang paradigma penyembelihan dengan cara Islam, sebagian pendapat kalangan mengkhawatirkan bakal menyakiti hewan dengan cara tersebut dan dengan melakukan pemingsanan alias menembak hewan terlebih dahulu dianggap yang lebih baik. Sebab dianggap lebih mengedepankan kasih sayang terhadap fauna sembelihan. Tetapi dari hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim dari Universitas Hanover (Jerman) menepis faktor itu.  

Dua peneliti ini, melewati eksperimennya memakai Electroencephalogram (EEG–alat yang mencatat aktivitas listrik otak) dan Electrocardiogram (EKG–alat yang mencatat gelombang listrik yang dihasilkan oleh detak jantung) bahwa: : Tiga detik pertama saat dilakukan penyembelihan dengan cara Islam; yang tercatat pada EEG–tidak menunjukkan perubahan dari grafik sebelum disembelih, yang mengindikasikan bahwa hewan tersebut tak merasa sakit seusai disembelih. Setelah 3 detik berikutnya, EEG mencatat kondisi tidur nyenyak alias tak sadar. Faktor ini dikarenakan darah yang memancar keluar dari tubuh dalam jumlah besar. 

Seusai fase-fase setelah 6 detik tersebut, EEG mencatat level nol, menunjukkan hewan tak lagi merasakan sakit sama sekali. Saat pesan menuju otak (EEG) turun ke level nol, jantung tetap berdebar dan tubuh tetap kejang-kejang keras sebagai perbuatan refleks sumsum tulang belakang, untuk mendorong darah keluar maksimal dari tubuh.   

Sebaliknya, hasil pengawasan terhadap metode dengan pemingsanan alias penembakan hewan terlebih dahulu justru bakal menyebabkan memar pada otot dan otak yang mengindikasikan rasa sakit yang parah, akibatnya jantung kehilangan performa untuk luar biasa darah dari seluruh organ tubuh dan tak sanggup lagi memompanya keluar maksimal dari tubuh, darah itu pun membeku di dalam urat/pembuluh darah dalam daging. Ini menjadi media sangat baik bagi tumbuh kembangnya bakteri dan mikroorganisme lain yang bisa merusak nilai daging. Dalam daging hewan tersedia glikogen yang adalah karbohidrat sumber energi. Setelah hewan disembelih, glikogen dalam daging diubah menjadi asam laktat. Ini menjadikan pH daging lebih rendah, dan kondisi ini bakal menahan serangan bakteri pembusuk,sehingga dengan demikian daging tak cepat busuk.   

Di samping itu dengan menurunnya pH jadi warna daging menjadi lebih cerah, sehingga kualitas daging lebih baik. Dengan ini mengindikasikan bahwa penyembelihan dengan cara Islam bersifat manusiawi dan menghasilkan daging berkualitas tinggi. Mari jadikan halal sebagai gaya hidup! (Lady Yulia, Pelaksana Subdit Halal Diturais dan Binsyar Kemenag). Gambar : mysharing.co

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel