Kesombongan Yang Tak Berarti

Pada zaman Rasulullah SAW ada sesorang bernama Rukana, dia adalah pegulat yang tak terkalahkan di zamannya. Pada saat itu, Umar ibn Khatab dan Khalid ibn Walid adalah pegulat, tapi tidak ada seorang pun yang pernah mengalahkan Rukana. Dan pada suatu ketika, Rukana mendatangi Rasulullah SAW dan berkata “Wahai Muhammad, jika kau mengalahkanku, maka aku akan masuk Islam!”. Rasulullah SAW menjadi bahagia, rasul berkata “Apakah kau benar-benar akan masuk Islam jika aku mengalahkanmu?”, Rukana menjawab “Ya.”

Rasulullah mencengkram rukana dan merobohkannya, sedangkan rukana tidak pernah dirobohkan oleh siapapun sebelumnya. Kemudian dia bangkit, lalu memberikan alasannya, “Oh, aku belum siap, kakiku terpeleset.” Lihatlah ini, Rasulullah SAW sudah siap bertarung dengan orang-orang untuk membawa mereka kepada yang haq.

Kesombongan Yang Tak Berarti
Kesombongan Yang Tak Berarti

Kemudian rukana bangkit lagi dan dia berkata “berikan aku kesempatan lagi’, rasulullah SAW mencengkramnya dan dia merobohkannya lagi. Rukana sangat terkejut, hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Rasulullah SAW berkata “Wahai Rukana, jalan-jalanlah bersamaku maka aku akan menunjukkanmu hal yang lebih hebat daripada aku membantingmu”. Rukana berkata “apa lagi yang bisa lebih hebat dari ini?” dan Rasulullah SAW menunjuk sebuah pohon yang pohon itu terbelah sampai ke akarnya. 

Kemudian pohon itu berdiri di hadapan Rasulullah SAW dan dia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya!. Rasulullah SAW menoleh kepada rukana, dan berkata “Wahai rukana, sudah kuberitahu jalanlah bersamaku, aku akan menunjukkanmu hal yang lebih hebat daripada aku membantingmu.”

Terlihat jelas bahwa apa yang bisa kita sombongkan di hadapan Allah, sehebat apapun kita Allah Maha Hebat karena Allah Sang Maha Pencipta. Allah yang menjadikan kelebihan dan kekurangan pada diri kita, lalu bagaimana mungkin bahkan mustahil kiranya kita bisa melakukan hal diatas Sang Pencipta. Sebagai seorang mukmin bersikap tawadu (rendah hati) merupakan akhlak yang utama. Bersikap tawadu muncul karena adanya kesadaran hakikat kejadian manusia dan hari akhir (Drs. H. Romelan IS, MM). Gambar : impianclub.com

Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel