Konsumsi Hewan Liar

Banyak alasan yang diajukan orang ketika memakan hewan liar sebagai kebiasaan atau keharusan. Alibi yang sering kita dengar adalah untuk kepentingan obat atau penambah stamina. Hewan liar yang sering diburu sebagai pangan antara lain:  kadal, buaya, kobra, monyet dan lain- lain. Meski sudah jelas bahwa hukum Islam tidak menghalalkan memakan hewan liar, tetapi masih saja ada muslim yang merasa tidak masalah mengonsumsi hewan tersebut. Bahkan sering menjadi topik perbincangan dikalangan mereka untuk mencari pembenaran.   

Ada keyakian yang tak berdasar ketika para penikmat hewan tersebut meyakini khasiat dari hewan liar yang dimakan. Mungkin maksud yang dituju seakan tercapai, tetapi sesungguhnya dibalik itu telah memasukan sejumlah zat perusak ke dalam tubuh. Banyak yang tidak dipahami, bahwa khasiat terhadap hal ini lebih dipengaruhi oleh sugesti.  

Hukum Konsumsi Hewan Liar Dalam Islam
Hukum Konsumsi Hewan Liar Dalam Islam
Saat ini bukan hal yang sulit untuk menemukan restoran yang menyajikan makanan dengan menu hewan liar. Bahkan para produsen sudah makin giat mempromosikan ke ruang publik aneka menu dengan berbagai sajian. Sungguh sebenarnya ini adalah hal yang tidak ditempatnya tetapi semakin dibuat agar dianggap biasa. Disamping menyajikan pangan yang tidak baik untuk kesehatan juga telah mengikis faktor kesejahteraan terhadap hewan. Ironis memang.  

International Journal of Food Microbiologytelah mengungkap bahwa mengonsumsi hewan liar dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Orang yang mengonsumsi daging reptil seperti buaya, kadal atau ular lebih berisiko mengalami beberapa penyakit tertentu seperti trichinosis (penyakit yang disebabkan oleh cacing pita di hewan terutama babi yang membuat sakit perut dan diare). Selain itu juga berpotensi menularkan penyakit hewan  pada manusia seperti pentastomiasis, gnathostomiasis dan sparganosis. Menurut WHO, selain itu masih ada resiko mikrobiologis yang berasal dari bakteri patogen terutama Salmonella, Shigella, E.coli, Yersinia enterolitica, Campylobacter, Clostridium dan Staphylococcus aureus. Bakteri bakteri jahat ini dapat menimbulkan penyakit dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.   

Ada hal sangat penting yang selalu terabaikan ketika hewan liar dijadikan sebagai pangan. Suatu makhluk hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks dan  saling mempengaruhi timbal balik. Hubungan timbal balik antara makhluk dengan lingkungannya membentuk  ekosistem yang meliputi  rantai makanan, aliran energi dan siklus biogeokimia. Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan    yaitu dengan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan.   

Memakan hewan liar yang ternyata mempunyai peran kompleks dalam menjaga keseimbangan alam telah memutus siklus rantai makanan. Dengan memutus rantai makanan hewan liar di alam, sesungguhnya telah memutus peran hewan tersebut dalam mempertahankan keutuhan alam dari upaya distorsi campur tangan manusia. Termasuk terkacaukannya aliran energi dan siklus biogeokimia.  Sebagai contoh: rantai makanan antara burung pemangsa, ular, tikus, kodok, serangga, mikroorganisme pengurai dan tumbuhan semakin dirancukan. Semakin banyaknya manusia yang mengonsumsi reptil menyebabkan terganggunya habitat dan populasi mereka. Ular makin diburu sehingga membuat perannya dialam mengalami kendala mengatasi tikus yang semakin menjadi hama. Burung pemangsapun kesulitan mencari santapan yang akhirnya berupaya mencari unggas peternakan.   

Atau populasi kodok yang makin sedikit menyebabkan hama serangga pada ekosistem makin mewabah. Dampak ini membuat aneka jenis serangga mendekati kehidupan manusia. Yang tentunya tetap saja akan menyebabkan berbagai penyakit bagi manusia. Termasuk seringnya gagal panen para petani karena meningkatnya populasi hama tikus dan serangga. Apalagi dampak buruk yang makin parah  ketika manusia menggunakan segala cara untuk mendapatkan hewan dimaksud.  Tanah, air, tumbuhan dan habitat mereka makin dirusak sehingga hubungan timbal balik antar makhluk hidup makin tidak seimbang.   Sudah seharusnya para penikmat hewan liar memikirkan hal ini. 

Bencana dan sumber penyakit tidak lain karena perilaku manusia yang tidak sesuai dengan garis ketentuan yang seharusnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an:  “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS al-Nahl: 114).   Dengan ini mari memperlakukan alam secara bijak dengan mengonsumsi pangan halal. Karena sessungguhnya ketersediaan pangan halal di alam jauh lebih banyak dibandingkan ketersediaan pangan tidak halal.  

Mengonsumsi pangan halal selain berpengaruh baik terhadap kesehatan, juga akan membersihkan hati dan menjaga ucapan. InsyaAllah akan semakin meningkatkan derajat kemuliaan  kita disisi Allah SWT. Amin ya rabbal alamin. (Lady Yulia, Pelaksana pada Subdit Produk Halal, Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama RI)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel