Makna Doa Kedua Orang Tua

Rabbighfir lii Waliwaalidayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayaanii Shagiiran (Wahai Tuhanku, Ampunilah dosa-dosaku dan kedua orang tuaku, dan kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil), begitulah redaksi lengkapnya. 

Mendoakan kedua orang tua adalah tanda bakti kami terhadap keduanya, baik saat masih hidup maupun seusai mereka berdua tiada. Mengabdi terhadap orang tua adalah adab manusia yang mutlak dan paling ditekankan Allah SWT dalam firman-Nya, seusai berkhlak terhadap Allah dengan “Larangan menyembah terhadap selain-Nya”. Ini setidaknya jelas disebutkan dalam QS. Al-Isra/17: 23 mengenai ketentuan Allah bagi manusia; QS. Luqman: 13-14 mengenai nasehat  Lukman terhadap anaknya.

Begitu utamanya mengabdi terhadap kedua orang tua, hingga-sampai Rasulullah Saw. yang begitu mencintai umatnya berlepas tangan dari seseorang yang tak mengindahkannya. Ali bin Abi Thalib Ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. sempat bersabda, "Aku berlepas tangan dari seseorang yang tak memenuhi hak kedua orangtuanya". Saat itu, Ali bertanya, "Rasulullah, bagaimana apabila dirinya tak mempunyai sesuatu?" Rasulullah menjawab, "Ia tetap berkeharusan untuk mendengarkan dan menaati apa yang dikatakan keduanya; mengatakan lemah lembut terhadap keduanya; dan tak membentak alias mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan kejengkelan dan ketidaksabaran.” 


Ada yang bertanya pada Nabi, "Bagaimana apabila kedua orang tuanya telah meninggal dunia?" Rasulullah SAW menjawab, "Dia bersedekah untuk kedua orang tuanya dengan memberi makan fakir miskin, membaca Al-Qur'an, dan berdoa. Apabila dirinya tak memperbuat itu, maka dirinya telah mendurhakai kedua orang tuanya. Ingat, orang yang mendurhakai kedua orang tuanya adalah orang yang berbuat maksiat. Seseorang yang shalat fardhu lalu berdoa untuk kedua orang tuanya pasti doanya juga diterima oleh Allah SAW. Dirinya pun diampuni berkah doanya itu mesikipun kedua orang tuanya itu fasik".   

Tetapi, yang luar biasa dari redaksi doa di atas adalah penggalan kata Warhamhumaa kamaa rabbayaani shagiiran yang tak lebih lebih maknanya “Kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku sewaktu kecil”. Dalam suatu  perkuliahan S2 di UIN Jakarta, seorang Guru Besar Tafsir berbagi pemahaman yang mengejutkan terhadap penggalan doa yang termaktub dalam QS. Al-Isra’/17:24 ini. Menurutnya, kata kamaa (sebagaimana) membahas makna proporsionalitas, di mana besarnya pahala yang berhak diterima oleh orang tua yang didoakan itu sesuai besarnya jasa mereka dalam mendidik anaknya dulu semasa kecil, baik balasan di dunia semasa mereka tetap nasib maupun kelak di hari akhir.   

Pendapat tersebut pasti bakal semakin menjadi perdebatan kalau dipahami dengan cara matematis, tetapi bagi penulis di balik itu ada makna spirit dan motivasi bagi orang tua untuk berbagi perhatian maksimal bagi tumbuh-kembang anaknya sedari kecil. Nah, salah satu bentuk perhatian yang sangat penting dari orang tua terhadap anaknya adalah obrolan alias komunikasi. Dalam faktor ini, ada suatu temuan ilmiah yang luar biasa soal obrolan antara orang tua dengan anaknya, yakni Tesis seorang Mahasiswi Universitas Ummul Quro, Makkah, pada Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan. Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri, demikian nama mahasiswi tersebut, judul Tesisnya:  “Dialog Orang Tua dengan Anak dalam al-Qur’an al-Karim dan Software Pendidikannya”. 

Kesimpulan hasil penelitiannya membahas bahwa tersedia 17 Dialog berdasarkan tema antara orang tua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surah, yang rinciannya sebagai berikut: 
- Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali); 
- Dialog antara bunda dan anaknya (2 kali); 
-Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali). 

Nyatanya al-Qur’an ingin memberbagi pelajaran bahwa untuk melahirkan generasi istimewa harus berbagi porsi lebih tak sedikit bagi ayah untuk berkomunikasi dengan anaknya. Al-Quran menyatakan ayah 7 kali lipat lebih tak sedikit dibandingkan dengan bunda (14:2) dalam faktor berdialog dengan anaknya.   

Mendukung temuan ilmiah dalam al-Quran tersebut, ada sejumlah hasil penelitian yang menunjukan efek absensi ayah. Dalam studi yang diperbuat oleh Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan, AS, dari 144 sampel anak dan remaja awal yang tak lebih pendidikan ayahnya, ditemukan tiga persoalan utama.   

Setidak sedikit 63 persen anak mengalami problem psikologis subjektif, semacam gelisah, kecewa, suasana hati mudah berubah, fobia, dan depresi. Setidak sedikit 56 persen performa berprestasinya rendah alias di bawah performa yang sempat mereka capai di masa sebelumnya. Setidak sedikit 43 persen meperbuat penyerangan terhadap orangtua.   

Dalam studi yang diperbuat khusus terhadap anak-anak perempuan ditemukan hasil yang tak lebih lebih sama. 69 persen mengalami problem psikologis, 47 persen punya persoalan akademis, dan 41 persen meperbuat penyerangan terhadap orangtuanya. Dalam Journal of Divorce Harvard University, AS, Rebecca L. Drill, mengatakan, “Akibat perceraian orangtua dan absennya ayah seusai itu mempunyai akibat luar biasa negatif terhadap perasaan anak. Sebagai contoh, perceraian orangtua dan kehilangan ayah memang berkaitan erat dengan kesusahan anak meperbuat adaptasi di sekolah, adaptasi sosial, dan adaptasi pribadi.”   

Menurut psikolog dan ahli pemerhati anak, Elly Risman, di antara maraknya permasalahan anak-anak dan remaja yang berpersoalan di negara ini salah satunya sebab hilangnya figur ayah dalam keluarga. Negara kami telah menjadi negara tanpa ayah, kata Ketua Yayasan Kami dan Buah Hati ini.   

Dengan demikian, dengan tak menegasikan pentingnya peran ibu, seorang ayah dituntut menyempatkan tak sedikit berdialog dengan putra-putrinya, sebagaimana dikuatkan dengan temuan ilmiah dalam al-Quran di atas. Faktor penting apa yang disampaikan dalam Dialog itu? Sebagai pelajaran, al-Quran telah menceritakan Dialog Luqman dengan anaknya yang termaktub dalam Surah Luqman/31 ayat 12-19. Jangan berharap terlahir generasi paling baik apabila seorang ayah tak sempat menjadi pribadi yang komunikatif bagi anaknya. Faktor inilah yang sejatinya tak dilupakan oleh kami yang berimpian menciptakan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah dalam nasibnya. Wallahu a’lam bish shawwab. (Edi Junaedi). Gambar : .zoya.co.id

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel