Manusia dan Moralitas

Pernahkah kita bercermin pada diri kita yang sebenarnya? Kita sering menyebut diri sebagai manusia. Tapi perilaku kita belum mencerminkan perilaku manusia. Perbuatan kita sehari hari terkadang masih didasari oleh sifat kebinatangan dan kesombongan. Kita begitu membanggakan diri, tanpa sadar keberadaan di bumi ini untuk apa.

Aristoteles (384-322) SM mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang berfikir. Akal adalah sifat yang dimiliki manusia yang dapat memisahkan watak tidak manusiawi (sub human nature). Sementara Plato (428-248 SM) pun berasumsi bahwa manusia adalah makhluk berakal, dimana akal berfungsi mengarahkan budi pekerti.

Manusia dan Moralitas
Manusia dan Moralitas
Senada dengan pendapat dua filosofi Yunani diatas, hal yang sama juga ditegaskan oleh Allah SWT dalam Kitab-Nya. Hanya saja secara tekstual, Al Qur'an menggunakan kata insan, basyar, nas serta Bani Adam untuk menyebut nama lain dari manusia. Manusia menggunakan nalar dalam menjalankan aktifitasnya. Dalam hidup bermasyarakat, manusia diatur dalam norma-norma agar dan masyarakat, sedang binatang tidak.

Perbedaan yang timpang inilah yang menjadikan manusia lebih sempurna ketimbang binatang. Sebagaima sudah dijelaskan dalam Surah At-Tin:4 yang artinya "Sunguh Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik baik penciptaan." Artinya manusia mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lain. Manusia mempunyai potensi dalam dirinya untuk mengetahui fungsi dan nama benda, mampu mengetahui pengalaman hidup, kenikmatan dan mudah menerima petunjuk agama.

Keunggulan manusia atas makhluk lain, termasuk malaikat, tersirat dalam kisah Adam yang diceritakan dalam Surah Al Baqarah : 30-39 Ketika Tuhan hendak menciptakan manusia,  para malaikat protes. Kenapa Tuhan menciptakan makhluk yang namanya manusia, toh nantinya akan membuat kerusakan dan berbagai konflik di bumi? Tapi Tuhan melihat sisi lain dibalik itu semua. Kemudian Tuhan mengajarkan pada Adam tentang ilmu pengetahuan, yang tidak diketahui malaikat. Apakah kamu tahu tentang benda-benda itu? Namun malaikat hanya diam membisu.

Dialog antara Tuhan dan Malaikat itu semakin mengukuhkan esensi penciptaan manusia di Bumi. Ada diberi sesuatu yang menjadikannya unggul, yaitu kemampuan untuk mengetahui nama-nama benda. Dengan demikian, manusia bisa mengakumulasikan pengalamannya secara sistematis sehingga menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah uang menjadi dasar manusia untuk bisa mengemban tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Sebagai khalifah manusia memiliki kemampuan untuk mengolah alam semesta dan segala isinya. Segala tindak tanduknya diharapkan bisa mencerminkan citra Illahi dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk aktualisasi kecintaan pada Sang Pencipta. Dalam konteks inilah, moral mempunyai peran yang signifikan untuk tetap menjaga keseimbangan perilaku manusia. Dengan bekal moral, manusia bisa mengetahui yang baik dan buruk, bisa membedakan dan menyadari konsekuensi pilihan sikap dan tindakannya. Moral berfungsi mengarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu, dengan cara cara yang diinginkan. Oleh karenanya, moral bisa membawa manusia pada kemajuan dan kehidupan yang lebih baik. Dengan moral manusia bisa memainkan peran sosialnya secara baik, bagaimana dalam hidupnya manusia bisa menciptakan sebensar-besarnya bagi kamakmuran bumi serta bermanfaat bagi sesama makhluk lain, lingkungan dan dirinya sendiri.

Rasanya kita sudah bosan melihat kebusukan kebusukan, kemunafikan, dan segala penyimpangan moral yang ada dihapadan kita. KKN begitu subur, banyak konspirasi demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu dengan cara yang keji, banyak kerusuhan dan kejahatan dimana-mana. Ini bukti bahwa moralitas manusia telah dikesampingkan di negeri ini.

Harusnya kita mempertanyakan pada diri kita sendiri sekali lagi. Apakah kita sudah layak menyandang gelar "manusia"? Bukankah kejadian manusia berasal dari sperma yang hina? Dengan mengingat segala kelemahannya, patutkah kita menyombongkan diri dan berbuat semaunya? Apakah kita mau disamakan dengan teori evolusi yang dikemukakan Darwin? Sudah selayaknya manusia menyadari tujuan kehidupan bahwa ia diciptakan untuk mengagungkan asma Allah. Wallahu'alam bis shawab. (Herry Munhanif) . Gambar : kompas.com


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel