Pondokku di Tepi Waktu

Bangunan permanen dengan lima kamar itu, kini dilaburi warna abu-abu. Sore yang sejuk, halaman luas dengan deretan pohon besar tegak ditepi, dipenuhi sejumlah santri yang sedang bermain bola. Teriakan nya-ring dan tawa mereka menjadi melodrama yang menarik saya untuk menikmatinya bersama jejak yang pernah tertinggal di halaman bertabur pasir lembut, 26 tahun lalu ketika bangunan itu masih berwarna kuning pucat. 

Kamar kecil yang dahulu sesak, kini hanyalah ruangan dengan dua  boks (lemari kecil) dengan engsel pintunya yang terlepas, pakaian kotor teronggok dan tergantung di sudut lain kamar. Kamar itu kini kosong, sejak tahun lalu tidak lagi digunakan santri menepikan mimpi-mimpinya. Sebuah masjid tua masih tegak berdiri. Warnanya tetap putih dengan empat tiang kayu yang jadi soko utama pe-nyangga atap. Di altar dalam masjid, hawa sejuk mengalir mengisi ruang rapat pori-pori kulit, mendesir membelai-belai jiwa yang tertambat di masjid ini berpuluh tahun lalu. Saya berusaha meresapkan setiap zikir, pujian, dan doa-doa kyai dan santrinya agar kembali hadir menjadi energi, agar menjadi dian untuk bisa meraba setiap sudut  pondok yang sore itu lengang ditinggalkan mentari be-ranjak pulang ke ufuk barat. Saya pernah mengikatkan waktu di tempat ini meski hanya satu tahun, wajah suci, mata teduh dan  tawa riang mereka menenggelamkan kerinduan pada kehadiran orangtua yang seharusnya ada di usia belia itu.

Pesantren
Pesantren
Di depan masjid, masih kokoh berdiri asrama santri dengan fasad bangunan terbuat dari bilah-bilah (gedek) bambu, namun di sisi kanan dan belakang bangunan se-rupa kini hanyalah puing-puing kayu hitam yang roboh bersama waktu yang panjang. Di sudut lain, potret serupa terlukis. Waktu telah membuat bangunan asrama yang dahulu terjaga kebersihan dan keasriannya karena selalu dilombakan setiap hari kini berada ditepian, terpinggir lalu tumbang. Waktu menjadikan yang lama harus mengalah, karena evolusi juga membutuhkan ruangnya, ruang yang sore itu menggantikan kelas-kelas terbuat dari papan-pa-pan tipis menjadi tembok berlapis semen. 

Dalam pembicaraan pendek dengan seorang ustazah di pelataran masjid usai maghrib, ramah dan pilu ia menceritakan kondisi pondok. Secara kuantitas, santrinya berjumlah 700, namun yang disyukuri mereka berasal dari penjuru Nusantara. Ini menjadi pengakuan bahwa pondok ini masih mendapat mandat dan kepercayaan memberikan layanan pendidikan yang baik dari masyara-kat. Dampak lain dari menurunya santri, adalah buah dari kebijakan yang mengharuskan lulusan santri harus memiliki ijazah bila ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, sesuatu yang dahulu tidak diberikan, yakni ijazah. Kini pondok harus berdamai dengan kebijakan itu, ini adalah ijtihad bahwa pondok sebagai institusi pendidikan yang independen juga tunduk pada kebijakan pemerintah. 

Sinaran kecil menerobos keluar dari lobang-lobang kecil di dinding bambu asrama, dari dalamnya lapat ter-dengar jauh ayat-ayat suci, murottal dan lirih. Satu telapak halus menggemggam tangan Saya, senyum teduh pak Kyai menyapa lalu beranjak berkeliling asrama santri. Dentang jaros (bel) yang tergantung di dua pohon Melinjo memaksa Saya meninggalkan pondok, dentang jaros itu pertanda waktu makan malam tiba, di sudut waktu, ditepi waktu. (Dodo Murtado/Hidayah.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel