Remaja Masjid Solusi Atasi Kegalauan Remaja

Islam mengajarkan prinsip keseimbangan antara dunia dan akhirat. Prinsip ini terkesan dari manfaat masjid yang tidak tunggal. Bangunan yang menjadi bukti diri komunitas muslim ini tidak sekedar tempat sujud dan menyimak al-Quran, tetapi mencakup aspek-aspek lain. Faktor tersebut terkesan bagaimana Rasulullah dulu menjadikan masjid sebagai pusat keagamaan sekaligus pusat militer, ekonomi, sosial dan hukum.   

Remaja masjid, organisasi yang lahir dari institusi masjid, oleh karenanya mempunyai peran signifikan dalam menanggulangi problematika keumatan, khususnya problematika generasinya. Selama ini, generasi muda menghadapi problematika semacam tawuran, penyalahgunaan narkoba, saling menghina di media sosial dan beberapa bentuk kenakalan khas remaja. Lemahnya penglihatan orangtua dan rendahnya penanaman nilai-nilai keagamaan turut menjadi pemicu kenakalan tersebut. Remaja masjid butuh mendapat perhatian dari tidak sedikit pihak. Keberadaannya jangan hingga dipandang sebelah mata, tapi wajib memperoleh kesaksian dan  bimbingan supaya peran mereka dalam menangkis perilaku-perilikau negatif bisa berjalan. Mereka butuh didorong melakukan beberapa kegiatan yang berdampak postif, baik yang bersifat keagamaan maupun sosial-kemasyarakatan. Dengan demikian, peran mereka lama kelamaan dikenal oleh masyarakat. Sehingga masyarakat bakal bahagia hati mendorong anak-anak mereka turut menjadi bagian.

Remaja Masjid Solusi Atasi Kegalauan Remaja
Remaja Masjid Solusi Atasi Kegalauan Remaja
Tidak hanya berfungsi sebagai pusat spiritual masjid berfungsi sebagai pusat sosial-kemasyarakatan. Oleh sebab itu masjid seyogyanya turut merespon problematika yang terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat dimana masjid berada. Masjid tidak bisa berdiam diri ketika di sekitarnya sedang dipagelarkan drama kemiskinan, tawuran antar pelajar, peredaran narkoba, dan segenap kemunkaran lain. Sebagai instrumen yang lahir dari rahim Islam, sebuah agama yang dalam ajarannya menekankan hubungan serba sebanding antara spiritual  (hablul minallah) dan sosial (hablun minnnas), masjid tidak boleh dimonopoli untuk urusan peribadatan saja – dalam pengertian ibadah mahdah. Bukankah ibadah sendiri dalam Islam senantiasa menekankan sudut sosial kemasyarakatan tidak hanya sudut vertikal. Bahkan seorang tidak bisa dikatakan beriman jika dirinya sibuk beribadah sendiri sementara tetangga di sekitarnya lapar, bodoh, dan terzalimi1.   

Hadirnya organisasi Remaja Masjid menjadi andalan tersendiri di tengah masyarakat yang  sibuk dengan urusan duniawi. Melewati remaja masjid kekosongan peran orangtua dalam mendidikkan nilai-nilai keagamaan bisa terisi. Dengan demikian ketika nantinya telah menginjak dewasa dan bersentuhan dengan adat dan kebudayaaan lain, mereka tidak lagi kaget sebab telah mempunyai pegangan kualitas yang kuat. Sayangnya organisasi remaja masjid tidak lebih dikenal di kalangan masyarakat. Bisa jadi faktor ini sebab masyarakat apriori terhadap kegiatan remaja masjid yang berakibat mereka tidak mau tahu terhadap urusan remaja masjid. Tetapi yang pasti sikap masa bodo tehadap remaja masjid, bahwa urusan remaja masjid turut memberi andil terhadap kurang dikenalnya remaja masjid. Remaja masjid menjadi tidak lebih percaya diri sebab berpendapat peran mereka sebagai pelengkap semata.   

Remaja masjid hanya terkesan dalam kepanitiaan kegiatan-kegiatan agenda hari besar Islam, semacam pada hari raya. Sementara sehari-hari biasa peran mereka yang bersifat sosial dan kepemudaan seolah lenyap. Remaja masjid menjadi pasif. Oleh sebab itu, supaya peran remaja masjid bisa kembali pada fungsinya semula, butuh diberikan angan-angan ulang tentang manfaat masjid yang meliputi sudut teologi dan sosial kemasyarakatan. Tempat bersujud terhadap Allah sekaligus mengatur urusan keumatan dan tempat mengikis atribut-atribut yang memungkinkan mereka berjarak di dalam kehidupan sehari-hari seperti perbedaan status sosial, afiliasi organisasi, partai dan sebagainya.   

Pembinaan remaja masjid menjadi sebuah keniscayaan mengingat tantangan zaman kini demikian berat. Dengan majunya teknologi informasi, mereka dengan mudahnya mengakses info yang kadang tidak bermanfaat. Dunia menjadi demikian sempit. Mereka tidak lagi mengetahui batas. Mereka menjadi asyik dengan dunianya, yang jauh, tetapi tidak jarang melalaikan masyarakat di sekitarnya. Masyarakat modern, dengan info yang serba mudah menjadi generasi muda yang tidak sensitif dengan kasus sosial. Keadaan semacam ini jika kami biarkan jadi pada masa yang tidak terlampau jauh masyarakat yang timbul sangatlah masyarakat robot. Masyarakat yang tercukupi harta bendanya tetapi miskin ruhaninya.   

Mengembalikan manfaat remaja masjid yang berorientasi bisa dimulai dengan melakukan kegiatan yang berguna terhadap masyarakat. Program-progam remaja masjid wajib menyasar pada kepentingan masyarakat yang lebih luas. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa mengambil momentum hari-hari besar ataupun tanpa mengaitkannya dengan hari-hari besar Islam. Kegiatan-kegiatan yang berguna terhadap masyarakat. Semacam olahraga, memberantas buta al-Quran, menggalang beasiswa untuk anak fakir miskin, bakti sosial, dan kegiatan-kegiatan sosial yang berguna terhadap masyarakat. Dengan demikian, sedikit demi sedikit citra remaja masjid bisa terangkat di mata masyarakat. Jadi remaja masjid tidak lagi sekumpulan orang-orang yang mengasingkan diri dan tidak sama dengan remaja pada umumnya.   

Hemat penulis, tujuan pembangunan masjid tidak untuk menunjukkan kelimpahan harta sebuah kelompok masyarakat. Pembangunan sebuah masjid adalah ekspresi keimanan dan ketakwaan terhadap Allah swt, yang berfungsi untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, melewati ibadah mahdah maupun ghairu mahdah. Ibadah mahdah semacam shalat, zikir, dan menyimak al-Quran, sementara ghairu mahdah meliputi aspek-aspek yang bersinggungan dengan kehidupan umat. Dalam faktor ini bisa mencakup sosial, pilitik, ekonomi, seni, pendidikan, dll.   

Dewasa ini persoalan sosial yang terjadi di masyarakat seringkali luput dari masjid. Padahal kehadiran masjid adalah wadah yang mempersatukan umat, tanpa memandang status sosial. Tempat umat mencari solusi bersama terhadap problematika mereka dengan dilandasi iman dan nilai-nilai keagamaan. Tergolong dalam persoalan sosial yaitu yang berkaitan dengan ramaja. Kami pasti sepakat generasi muda adalah aset berharga yang menggantikan tampuk kepemimpinan di masa depan. Sayangnya, kehadiran mereka tidak jarang belum memperoleh pengakuan, sebab dianggap belum menemukan jati diri.   

Apalagi lemahnya penglihatan orangtua sebab berpendapat tanggup jawab mereka berakhir seusai menyekolahkan mereka. Akhirnya mereka melampiaskan lewat kegiatan-kegiatan yang cenderung negatif semacam tawuran dan penyalagunaan obat-obat terlarang. Ditambah majunya teknologi komunikasi yang memungkinkan mereka mengakses info dari luar yang belum pasti positif, jadi makin menjauhkan mereka dari akar keislaman mereka.   

Akhir kata, remaja masjid bisa menjadi solusi menanggulangi kegalauan remaja yang tetap mencari jati diri. Lewat pembinaan yang intensif  dengan menanamkan nilai-nilai keislaman, dan dukungan dari beberapa pihak, remaja masjid kiranya sanggup menjadi tempat alias wadah yang bisa menyalurkan gairah remaja terhadap jalur yang benar, semoga (Ahmad Syamsuddin)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel