Syahid Untuk Sebuah Kemenangan

Tubuhnya kurus, tulang tulangnya menonjol. Orang yang melihatnya pasti akan menyangka bahwa sosok ini telah menewaskan seratus orang musrikin dalam duel satu lawan satu. Dia pemberani luar biasa. Dialah al-Bara' ibn Malik al-Anshari, saudara dari Anas ibn Malik, pembantu Rasulullah SAW. Setelah wafatnya Rasulullah SAW yang mulia, saat kabilah-kabilah Arab mulia keluar dari Islam secara berbondong-bondong sampai kelompok yang beriman tinggal penduduk Mekkah, Madinah, Thaif dan beberapa dusun yang saling terpisah.   

Disaat kaum muslimin dihadapkan dengan nabi palsu dibawah pimpinan amirul mukminin Abu Bakar Ash Shidiq yang sudah mempersiapkan 11 bridge dari kaum Muhajirin dan Anshar untuk dikirim ke berbagai belahan Jazirah Arab dengan tugas mengembalikan orang-orang murtad ke jalan yang benar. Golongan murtad yang paling kuat adalah dari Bani Hanifah yang dikomandokan oleh Musailamah al-Kadzab. Pendukungnya mencapai 40.000 orang yang mahir berperang.

Pasukan Musailamah berhasil memukul mundur pasukan muslimin gelombang pertama yang di pimpin oleh Ikrimah ibn Abi Jahal. Selanjutnya Ash-Shidiq mengirimkan pasukan gelombang pertama yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pasukan muslimin bertemu dengan pasukan Musailamah di medan peran Yamamah, di kota Najd. Dalam waktu singkat pasukan Musailamah berhasil mendesak mundur kaum muslimin. Pasukan muslimin sadar akan kekuatan bahwa lawan benar-benar kuat. Bila sampai kaum muslimin kalah melawan Musailamah dan para pendukungnya, maka mungkin Islam tidak akan hidup lagi dan Allah Yang Maha Esa tidak akan disembah lagi di Jazirah Arab. 

Syahid Untuk Sebuah Kemenangan
Syahid Untuk Sebuah Kemenangan
Disaat peperangan bertarung hebatnya dan kedudukan kaum muslimin nyaris terkalahkan, Al-Bara' menorehkan semangat kekaumnya sampil berseru lantang, "Wahai saudara-saudaraku Anshar, jangan ada diantara kalian  yang berfikiran akan kembali ke Madinah! Tidak ada Madinah bagimu sekarang! Tidak ada, kecuali Allah dan Surga!". Tanpa menunda-nunda, dia menerjang barisan musyrikin dan menebas batang leher musuh Allah SWT itu. Pasukan Musailamah yang mulai goyah akhirnya memilih mundur ke sebuah kebun, yang setelah peristiwa itu dikenal dengan sebutan "Kebun Maut", karena banyaknya korban yang tewas didalamnya. Kebun tersebut luas dan dipagari dinding-dinding tinggi. Musailamah dan para pendukungnya berlindung di dalamnya dan mengunci pintu gerbang rapat-rapat. Dari dalam kebun itu mereka dengan leluasa menghujani pasukan muslimin dengan panah.

Kemudian majulah Al Bara' ibn Malik, "Wahai kaumku, aku akan duduk diatas perisai. Tugas kalian adalah menopang perisai itu tinggi-tinggi, kemudian melontarkannya ke dalam kebun. Aku punya dua pilihan, mati syahid atau membuka pintu kebun itu dan kalian semua bisa masuk dan bertemu Musailamah dan kawan kawannya. Al Bara' segera memulai rencana gila-gilaan itu. Dia duduk diatas sebuah perisai, tubuhnya yang kurus menguntungkan dalam segala hal ini, kemudian dilontar kedalam "Kebun Mati" ketengah tengah ribuan pasukan Musailamah. Begitu menjejaki tanah, Al Bara' membabat pedangnya dengan begitu lincah sambil berusaha mendekati pintu kebun. Ia berhasil membukanya setelah menewaskan puluhan pasukan Musailamah, tapi tak urung ia sendiri terluka parah terkena tusukan tombak, panah dan pedang. tercatat ada setidaknya 80 luka.

Pengorbanan Al Bara' tidak sia-sia. Dengan terbukanya pintu kebun pasukan muslimin mampu menyerbu kedalam dan menewaskan 20.000 kaum musyrikin. Mereka juga berhasil menemukan tempat persembunyian Musailamah dan menghabisi sekalian. Dalam penaklukn kota Tustur di Persia, pasukan muslimin juga mendapat perlawanan tangguh. Orang-orang Persia berlindung dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Pasukan muslimin kemudia mengepung mereka rapat-rapat. Pengepungan berlangsung cukup lama sehingga sedikit demi sedikit pasukan Persia mulai mengalami kesulitan, mereka lalu menerapkan siasat keji, yaitu memanaskan sampai membara besi-besi yang diikat dengan rantai. Dari atas tembok benteng yang tinggi, kait besi membara itu digunkana untuk memancing kaum muslimin yang berada dibawah. Mereka yang terkena pancingan kemudia disentakkan keatas dalam keadaan hidup atau mati. 

Pancing besar membara ini berhasil mengait Anas ibn Malik saudara Al Bara'. Karena menyaksikan saudaranya diperlakukan seperti demikian, tanpa pikir panjang Al Bara' melompat dan menarik rantai pancing itu kuat-kuat. Pada akhirnya dia berhasil membebaskan Anas ibn Malik walaupun itu dagingnya hangus terbakar dan tinggal tulang belulang. Dalam peperangan ini, juga setelah perisitiwa yang menimpa Anas ibn Malik, Al Bara'a berdoa sungguh-sungguh agar dikaruniai Syuhada. Dan kali ini Allah SWT mengabulkannya, Al Bara'a akhirnya gugur sebagai syahid dan mengahadap Rabb-nya sengan suka cita. Semoga Allah memuliakan Al Bara' di dalam surga dan menyejukkan matanya karena bisa kembali mendapingi Nabinya. Rahimakumullah Al Bara' ibn Malik Al Anshari. (Zulhakimi/Hidayah.co)

Jangan lupa tambahan akun sosial media FacebookLinkedinGoogle+ kami agar anda tetap terhubung dan mendapatkan update info artikel terbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel