Masjid Agung Malang, Simbol Dua Keharmonian

Masjid Agung Malang adalah salah satu masjid tertua di Jawa Timur. Masjid yang didirikan di atas tanah seluas 3000m2 ini dibuat dalam dua bagian, yakni pada tahun 1890 serta 1903. Yang unik, corak masjid ini memadukan arsitektur Arab serta Jawa dengan cara menarik. Apabila tidak masuk ke dalam masjid, pengunjung alias pelancong yang melihat masjid ini dari depan tidak bakal mengira bahwa bagian dalam masjid sangat kental dengan nuansa arsitektural Jawa. Bagian dalam yang sekaligus adalah bangunan orisinil masjid ini sangat dipengaruhi oleh arsitektur orisinil Nusantara. Jumlah pilar di bagian dalam terdiri dari 20 buah yang melambangkan 20 sifat Allah, beserta 4 pilar mutlak sebagai simbol sifat Nabi Muhammad Saw. Pilar-pilar tersebut menyangga atap berbentuk tajug bertumpang dua yang adalah bangunan khas tradisional Jawa pada zaman dahulu. Nyaris keseluruhan bagian dalam masjid ini beraksen kayu, dengan balutan warna coklat maka meningkatkan kesan tampilan bercitarasa Indonesia.   

Sedangkan dibagian depan, arsitektur khas Timur Tengah nampak dominan dengan kubah besar berwarna hijau dipadankan dengan garis-garis diagonal berwarna putih. Kubah mutlak beraksen lembut itu dibekali dengan sejumlah kubah kecil di tiap-tiap atap menara serta bagian atas serambi masjid. Sejumlah kubah ini mempercantik keseluruhan fasade masjid tiga lantai tersebut dengan ornamen geometris yang menarik. Seorang jamaah yang datang dari kabupaten Lumajang, Jawa Timur,  Iqrok Wahyu Perdana, berbicara masjid ini seperti “bertopeng”, dalam pengertian, tampilan bagian depan masjid menyembunyikan tampilan bagian belakangnya. Dari luar, padu padan Jawa-Arab ini terbukti tidak bakal nampak kecuali apabila pengunjung melihat bangunan masjid dari sebelah samping. Dari segi kanan, pencampuran dua corak ini bakal nampak terilihat, dimana bagian depan masjid yang berbentuk kubah bernuansa Arab, seolah menjaga bagian belakang Masjid yang berbentuk tajug bertumpang khas bangunan Jawa.   


Masjid yang terletak di sebelah barat alun-alun Kota Malang ini hanya berjarak kurang lebih 20 meter dari GPIB Immanuel, Malang. Kedua rumah ibadah ini sudah berdampingan lebih dari seratus tahun yang melambangkan keharmonian umat beragama di Kota Apel tersebut. Dua bangunan bersejarah ini menjadi bukti bahwa warga kota Malang sudah mempunyai toleransi beragama, serta nasib dalam keharmonian jauh sebelum Indonesia merdeka. Oleh sebab itu, masjid ini melambangkan dua keharmonian sekaligus, yaitu harmoni intra umat beragama yang disimbolkan dengan padu-padan arsitektur Islam bernuansa Jawa-Arab di dalam masjid, serta keharmonian antar umat beragama dimana masjid ini sudah berdampingan dengan rumah ibadah pemeluk Kristen sejak zaman penjajahan.

Tidak hanya itu, Masjid Agung Jami’ Malang juga sudah dibekali dengan penyediaan air bersih bagi keseluruhan aktivitas masjid. Pengelola masjid ini sudah membangun sumur bor artesis berkedalaman 205 meter. Debit air dari sumur artesis itu mencapai 15 liter per detik serta mengeluarkan air sendiri tanpa butuh memakai pompa. Berdasarkan hasil uji PDAM kota Malang, air sumur artesis masjid ini memenuhi syarat untuk langsung diminum dengan kandungan Total Dissolved Water (TDS) mendekati kandungan TDS air zam-zam. TDS air artesis masjid jami Malang sebesar 437 sedangkan air zam-zam 430. 

Takmir masjid ini juga mempunyai usaha dengan memproduksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sendiri  bernama Q-Jami’ dalam beberapa ukuran untuk mendukung syi’ar Islam. Tidak hanya hingga di situ, masjid yang beralamat di Jalan Merdeka Barat Nomor 3, Kota Malang, ini juga mempunyai stasiun radio Madinah FM  yang mengudara pada frekuensi 99,8 FM.  Pengelolaan masjid dengan cara profesional seperti ini diharapan bisa menjadi contoh bagi takmir masjid lain di seluruh  Indonesia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel