Indonesia Masa Depan Islam

Shaarik Zafar, seorang Muslim Amerika Serikat mengatakan, Indonesia merupakan Negara yang sangat penting, negara demokratis dan memiliki harmony yang baik.Hal itu disampaikan saat Delegasi Muslim Amerika Serikat (AS) berkunjung ke Indonesia dan berdialog dengan OrmasIslam Indonesia yang dipimpiin oleh Prof. Dr. H. Machasin, MA, di Kantor Kementerian Agama, Jl. MH. Thamrin, Rabu (29/4). Muslim Indonesia, menurut Zafar adalah masa depan Islam dan perlu meningkatkan perannya di level dunia. “Indonesia sebagai masa depan Islam, perlu berkontribusi terhadap Dunia”, katanya saat membuka dialog. 

Delegasi ini dipimpin Perwakilan Khusus Departemen Luar Negeri AS untuk Komunitas Muslim AS, Shaarik H Zafar, dan beranggota Farouq Kathwari, seorang chief executive officer (CEO) perusahaan furnitur terkemuka Ethan Allen, dan pakar komunikasi dan media yang juga menjabat sebagai Managing Director Outreach Strategist Mustafa Tameez. Dari kalangan akademisi dan ulama ikut serta juga Jihad Turk, pendiri Bayan Claremont, sebuah lembaga yang menyediakan pendidikan pascasarjana bagi pelajar Muslim dan pemimpin agama Islam, serta peneliti dari University of Maryland, Alejandro Bautel, dan Shamsi Ali, seorang imam Indonesia yang tinggal di AS, dan Ketua Masjid Al Hikmah di New York. 

Islam-Indonesia

Sementara Ormas Islam Indonesia hadir 19perwakilan Ormas Islam tingkat pusat, seperti perwakilaan PB Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, MUI, Pesatuan Islam Tionghoa Indonenesia(PITI), Al-Wasliyah, Dewan Masjid Indonesia (DMI) dll, serta pejabat Kementerian Agama, dianatranya Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, M.Ag, dan Direktur Penerangan Agama Islam, Dra. Hj. Euis Sri Mulyani, M.Pd.   Dalam pertemuan ini, Mustafa Tameez menjelaskan tentang berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Islam di AS, seperti kuatnya ikatan suku bangsa, ras yang berbeda-beda dan perbedaan madzhab (aliran) dalam Islam."Saat ini, banyak tantangan yang dihadapi oleh ummat Islam di AS seperti perbedaan rasial. Misalnya, kelompok “Black Moslem”yang membentuk kelompok tersendiri, juga perbedaan suku bangsa seperti Muslim Asia Selatan dari India, Bangladesh dan Pakistan yang cenderung eksklusif,"tutur Mustafa.   

Akibatnya, lanjut Mustafa, banyak masjid di AS yang didirikan atas sentimen kebangsaan atau suku bangsa tertentu. Misalnya, masjid untuk suku bangsa Arab, suku bangsa Melayu, masyarakat Asia Selatan seperti India, Bangladesh dan Pakistan serta 'Black Moslem' untuk Muslim Afrika.  Masalah lainnya, ialah aliran dan pemahaman Islam yang berbeda di AS, antara Sunni dan Syiah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel