Angka Perceraian di Kota Sukabumi Meningkat Tajam!

Salah satu problem keluarga saat ini merupakan meningkat dengan tajam angka perceraian di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Menurut para pengamat, tingginya perceraian saat ini mulai terkesan dari masa era pasca reformasi. Diantara sebabnya merupakan adanya kesadaran kaum perempuan terhadap hak-hak perempuan yang dilindungi melewati Undang-undang KDRT. Yang kedua merupakan besarnya pengaruh lingkungan, terutama media sosial yang menjadi media perselingkuhan.      

Khusus di daerah Kota Sukabumi, permasalahan perceraian cenderung semakin meningkat. Dalam tiga bulan terakhir,kasus perceraian meningkat kisaran 60 sampai 70 persen.Demikian berdasarkan laporan yang dihadirkan oleh Kantor Pengadilan Agama Kota Sukabumi. Berdasarkan data media, setahun sebelumnya, permasalahan perceraian pasangan suami istri hanya di kisaran 30 sampai 35 permasalahan setiap bulannya. Tetapi saat ini perceraian meningkat rata-rata sampai kisaran 60 perkara/bulan.Ini menunjukkan bahwa pondasi keluarga masyarakat di Sukabumi lumayan mengkhawatirkan.   


Berdasarkan penelusuran pada data kantor Pengadilan Agama (PA) Kota Sukabumi, perceraian terjadi tidak hanya akibat perselingkuhan, dikarenakan persoalan ekonomi, juga faktor diperolehnya tunjangan sertifikasi di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi salah satu penyebab perpisahnya kedua pasangan suami istri (Pasutri) itu. Dari data tersebut, naiknya perolehan ekonomi bukan menjadi meningkatkan kehorminisan, tetapi justru menjadi pemicu perselingkuhan serta akhirnya terjadi perceraian.   

Tetapi demikian, rerata pasangan yang mengajukan perceraian tetap belum mapan, baik dengan cara materi maupun mentalnya. Padahal para pasangan tersebut sebagian besar telah dikaruniai anak. Tidak hanya itu ada sebagian pasangan yang bercerai sebab istrinya bakal bekerja menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri. Faktor yang memprihatinkan adanya persidangan digelar tanpa keberadaan pihak wanita yang telah terlebih dulu pergi menjadi TKW ke luar negeri.   

Data menunjukkan bahwa meningkatnya angka perceraian belakangan ini didominasi oleh pasangan yang menikah tak lebih dari lima tahun. Artinya, perceraian itu telah menyisakan anak-anak yang tetap kecil, serta akibatnya bakal memunculkan akibat sosial yang serius. Timbul orang-orang miskin baru sebab rata-rata kaum perempuan (istri) tak bekerja yang bergantung terhadap suami

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel