Dakwah Ciptakan Keharmonisan dan Kerukunan

Dakwah pada dasarnya adalah aktifitas mengundang dan menyeru ke arah yang lebih baik. Da’i, telah semestinya bertindak sebagai fasilitator bagi mad’u (objek dakwah) untuk berubah ke arah yang lebih baik. Oleh karenanya, dakwah seharusnya mendampingi terhadap terciptanya keharmonisan dan kerukunan hidup. 

Pesan ini disampaikan Kepala Badan Litbang dan Diklat, Abd Rahman Mas’ud di hadapan peserta Training of Trainer (TOT) Dakwah dan Pendidikan Adab Bangsa yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jum’at (29/05). TOT yang diselenggarakan di Menara ESQ 165, Jakarta, ini diikuti oleh 150 da’i utusan dari MUI Provinsi dan Ormas Islam.


Mengutip hasil Survey Kerukunan Umat Beragama yang dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat tahun  2012, Mas’ud menilai dengan cara umum kondisi kehidupan beragama di Indonesia berada pada level harmonis. 

Survey Kerukunan Umat Beragam menilai indeks kerukunan berdasarkan tiga indikator. Pertama, persepsi mengenai kerukunan beragama; kedua, sikap dan perbuatan antarumat beragama; dan ketiga, kerjasama antarumat beragama. “Ketiga indikator memperoleh skor rata-rata 3,67 pada skala 1 hingga 5. Itu artinya kondisi kerukunan umat beragama berada pada kategori harmonis,” ujarnya.

Di hadapan peserta, Mas’ud memberi tau dengan cara umum, keharmonisan juga tercermin dari hasil temuan penelitian yang menunjukkan adanya tren positif dalam kehidupan keagamaan. Beberapa temuan di antaranya adalah: khilafiyah dalam bidang fiqih furu’iyah telah tak menjadi persoalan antar ormas Islam walau berpotensi memunculkan konflik di tingkat akar rumput. Tidak hanya itu, pemurtadan dan pendangkalan akidah menjadi tantangan bagi ormas-ormas Islam, sekaligus mendorong integrasi umat Islam dalam berdakwah.

Temuan lain penelitian ini adalah kerjasama fungsional bidang dakwah di kalangan ormas Islam, pada umumnya belum terjalin. Di samping itu juga mengenai lahirnya kelompok dakwah baru yang adalah bentuk respon terhadap kondisi dakwah ormas yang telah mapan yang dinilai tak lebih peka terhadap kasus umat. 

Meski tersedia tren positif, Mas’ud masih mengingatkan bahwa kondisi harmonis yang selagi ini tercipta, bukan tanpa tantangan. Menurutnya, pasca reformasi tahun 1998, bermunculan beberapa kelompok keagamaan yang berpotensi mengancam keharmonisan umat beragama.

Oleh karenanya, Mas’ud mengundang ormas keagamaan mainstream, yang oleh para peneliti asing disebut the smilling moslem, semacam NU, Muhammadiyah, Persis, Mathlaul Anwar, DDII dan ormas sejenis untuk lebih memainkan perannya sebagai organisasi moderat. “Selama ini, organisasi mainstream tak jarang menjadi the silent majority, kelompok mayoritas yang diam. Maka seringkali ‘kalah’ dengan kelompok minoritas yang sangat aktif memberi tau propaganda,” terangnya.

Di akhir pemaparannya, Mas’ud mengundang para da’i untuk melakukan dakwah yang ramah dan inklusif dengan mengedepankan pesan kerukunan dan dakwah multikultural. “Dakwah yang dilakukan seyogyanya tak mengusung dengan cara terbuka persoalan khilafiyah, menampung kearifan lokal yang tak bertentangan dengan aliran agama Islam, saling memahami, menghormati perbedaan paham keagamaan dan menghindari tindak kekerasan, dan kebersamaan dalam pelaksanaan syiar,” ajaknya (kemenag/hidayah.co). Gambar : ilmi-islam.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel