Inspiratif dan Rendah Diri Kepada Sesama

Salah satu pengalaman Rasulullah dalam rangka mendidik taqwa terhadap umat manusia. Momen Isra’ serta mi’raj direkam dalam berbagai tempat dalam al-Qur’an. Khususnya dalam surat al-Isra’, yang juga bernama surat anak cucu Israil. Sebab terbukti tak sedikit menuturkan kaum anak cucu Israil. Serta terbukti Isra’ merupakan momen napak tilas nabi Muhammad untuk menonton sambungan (transmisi) misi risalah Nabi dengan misi nabi-nabi sebelumya yang dalam konteks Timur Tengah sebagian besar merupakan keturunan nabi-nabi Israil. Israil artinya merupakan hamba Allah, ia merupakan gelar nabi Ya’qub, anak dari nabi Ishaq, cucu dari Ibrahim. Sepintas kami bisa merenungkan makna dari Isra’ mi’raj ini, serta kami tarik pelajaran dari momen Isra’ mi’raj ini untuk kehidupan kami dalam beragama di masa kekinian serta yang bakal datang.   

Al-Qur’an membahas dalam surat al-Isra’:1 yang artinya: Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari masjidil haram ke masjidil aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran kami, Sesungguhnya dia maha mendengar lagi maha melihat. Ayat-ayat (tanda-tanda yang diperlihatkan Allah terhadap Nabi Muhammad pada waktu Isra’ itu tak lain merupakan Riwayat para Nabi sebelumnya serta perjuangan mereka dalam rangka memberi penyegaran kembali terhadap nabi kami mengenai tugas suci sebagai akhir dari para nabi serta rasul. 

Jadi dari itu di Yerusalem itulah Nabi memiliki pengalaman shalat dengan semua nabi yang sempat ada serta beliau sendiri menjadi imamnya. Abu Dzar sempat bertanya terhadap Rasulullah,”berapakah jumlah nabi seluruhnya wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “124.000 orang”, 315 orang di antaranya merupakan rasul”. Sebuah jumlah yang sangat besar. Ini semua memberikan landasan, untuk bisa mengerti mengapa nabi menyebutkan jumlah yang begitu besar. Sebab jumlah itulah yang ditemui nabi di al-Quds. Di masjid yang disebut masjidil al-Aqsa di Yerusalem serta beliau menjadi imam.   


Butuh diketahui bahwa masjid Aqsa didirikan oleh Nabi Daud kurang lebih 200-an tahun seusai nabi Musa. Nabi Musa bertugas hanya mendidik terhadap anak cucu Israil untuk taat terhadap hukum dengan jalan sembahyang menghadap sebuah kota, yang kota itu isinya merupakan teks dari the ten commandements. Dalam al-Qur’an disebut Tabut. Selagi 40 tahun nabi Musa mendidik kaumnya, dengan pengabdian yang menarik banyaknya. Tapi seusai 40 tahun, jadi dibentuklah sebuah komunitas yang teratur serta tunduk terhadap hukum yang dalam bahasa ibrani disebut medinat (bahasa arabnya madinah), sebuah pola menetap yang tunduk terhadap hukum.  Inilah modal bagi anak cucu Israil dibawah Daud untuk melaksanakan rencana yang lebih lanjut yaitu kembali ke kanaan, tanah yang dijanjikan (al-ardl al-muqadasah). Jadi Daud-pun memilih  salah satu bukit di tengah Yerusalem itu yang disebut bukit Muria. Di bukit datar itulah dirinya mendirikan taber nakelnya tadi. Miskan yang besar serta diletakkan tabut. Jadi di sana mereka sembahnyang.   

Ketika nabi Sulayman mengganti Daud, kemah tadi diganti dengan bangunan yang besar, indah serta megah sekali, yang disebut masngit dalam bahasa ibraninya. Yaitu sebuah masjid yang orang-orang Makkah menyebutnya sebagai masjid Aqsa, sebab jauh dari Makkah. Kadang-kadang juga disebut dengan Haykal Sulaiman. Yang menjadi dasar bagi istilah inggris solomon temple. Didirikan kira-kira 3000 tahun yang lalu, 1000 tahun lebih muda dari pada ka’bah di Makkah yang didirikan kembali oleh Ibrahim bersama putranya Ismail 4000 tahun yang lalu. Inilah yang dihancurkan oleh Nebukadnezar seusai berdiri selagi 500 tahun. Kemudian orang Yahudi diboyong ke Babilonia serta dijadikan budak. Lalu dibebaskan bangsa Persi dibawah raja Darius yang menang perang dengan Babilonia orang yahudi dibolehkan kembali ke Palestina serta mendirikan masjid tadi. Masjid Yerusalem itulah yang dalam literatur Inggris disebut the second temple. Ini semakin berjalan hingga zaman Isa al-Masih. Sebuah saat Nabi Isa berangkat ke kota kelahiranya Yerusalem, beliau marah sebab masjid itu sangat mewah namun akhlaq  anak cucu Israil rusak. Di luar masjid tak sedikit sekali bangku-bangku lintah darat, kemudian di marah serta mengutuk bahwa masjid itu bakal dihancurkan oleh Allah. Kutukan itu menjadi kenyataan pada tahun 70 M, ketika kaisar Romawi Titus menyerbu Palestina serta menghancurkan semuanya.   

Dari sejarah di atas, menunjukkan transmisi religious yang diperlihatkan Allah terhadap nabi Muhammad ketika Isra’ mengenai riwayat-riwayat Nabi sebelumnya. Untuk itu Nabi dengan Isra’nya tersebut merupakan Napak tilas. Dengan cara langsung disebutkan dalam al-Qur’an maksud dalam surat al-Isra’ yang disebut juga surat Anak cucu israil. Kemudian Rasulullah Saw Mi’raj ke sidratul muntaha. Sidrah merupakan pohon sidrah (luth tree). Muntaha artinya penghabisan. Pohon sidrah merupakan pohon kebijaksanaan serta kearifan. Jadi kalau nabi kami hingga ke sidratul muntaha artinya mencapai tingkat kearifan yang tertinggi, yang tak ada lagi kearifan seusai itu sepanjang performa manusia. Nabi melihatnya dalam bentuk pohon yang terang ketika pohon itu diliputi sesuatu. Jadi dengan cara misterius pengamatan Nabi tak bisa berkutik, serta hatinya tak bisa menyimpang, malah terpukau oleh keindahan pohon itu. Inilah sidratul muntaha. Dalam agama semitik ada lambang pohon terang. Pada peringatan natal ada pohon terang. Pohon terang itu merupakan lambang dari wisdom (kebijaksanaan). Sama dengan yang dilihat Musa As di gurun Sinai. Pada malam yang sangat gelap dirinya menonton seolah pohon terbakar, namun tak terbakar. Di balik pohon itulah dirinya dengar suara Aallah yang menyebutkan dirinya sebagai Rasul.   

Tapi yang lebih penting ialah nabi Muhammad yang telah hingga ke sidratul muntaha, yang telah hingga kepuncak pengetahuan serta kearifan tetap diajari Allah supaya berdoa “Ya Tuhan tambahilah ilmuku”. Sebab ilmu tak bakal habis, sebab itu nabi sepulang dari sana disuruh untuk shalat. Dalam shalat, wacana yang paling penting merupakan al-Fatihah. Dalam al-Fatihah wacana yang paling penting merupakan memohon petunjuk ihdina al-sirat al-mustaqim. Sebab kebenaran itu tak mudah diperoleh, setiap kali kami wajib bertanya terhadap Tuhan. Ujungnya merupakan setiap kali kami wajib rendah hati. Kami rutin memiliki kemungkinan untuk salah serta tak bakal mungkin memiliki kebenran mutlak. 

Jadi dalam berteman sehari-hari kami wajib demokratis. Yaitu mau mendengarkan pendapat orang sebagaimana kami memiliki hak untuk menyebutkan pendapat terhadap orang. Jadi sebenarnya sholat merupakan Inspirasi serta pendidikan untuk rendah hati dengan inti al-sirat al-mustaqim. kalau kami memohon petunjuk terhadap Allah kami wajib membersihkan diri dari kesaksian bahwa kami telah tahu. Wa Allahu a’lamu. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel