Islamophobia Masih Terpatri di Benak Masyarakat Barat

“Sampai saat ini masyarakat Barat, terutama Amerika, tetap bernada sumbang berkata soal Islam. Islamophobia tetap terpatri di benak mereka. Di mana ada umat Islam, di situ ada konflik. Bila ada konflik, otomatis mereka menyimpulkan tentu ada umat Islam”, demikian penegasan Syamsi Ali, salah satu Delegasi Muslim Amerika saat kunjungan ke Ditjen Bimas Islam dan berdialog dengan berbagai Ormas Islam hari Rabu (29/4).

Penegasan Imam Masjid Islamic Center New York asal Bulukumba, Sulawesi Selatan ini adalah respon atas pertanyaan salah seorang peserta obrolan dari Badan Koordinasi Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) mengenai problematika keberagamaan masyarakat muslim sebagai kaum minoritas di Amerika sana. PR kita, menurutnya, wajib mengikis sedikit demi sedikit stigma tersebut. Salah satunya dengan menimalisir sikap anti-Barat dan berusaha menunjukkan Islam yang damai dan toleran terhadap sesama dan tidak sama agama. Menguatkan pandangan Syamsi Ali, seorang Delegasi Muslim Amerika lainnya, Farooq Kathwari, menyebutkan bahwa yang dibutuhkan terbukti pendidikan mengenai Islam yang damai terhadap anak-anak kita. Dengan itu kami berharap sepuluh alias dua puluh tahun bakal terus berkurang signifikan kesalahpahaman antara umat Islam dan masyarakat Barat.   

Islamophobia Masih Terpatri di Benak Masyarakat Barat

Dalam obrolan juga mencuat pertanyaan balik terhadap para ceo Ormasi Islam yang hadir, yaitu mengenai bagaimana kehidupan muslim di Indonesia yang plural ini. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Jihad Turk tersebut dikomentari penuh semangat dengan bahasa Inggris yang baik oleh Ustadz Luthfi Tamimi, Sekjen Lembaga Persaudaraan Ormasi Islam (LPOI). Dalam pandangannya, sesungguhnya tidak ada persoalan dalam kehidupan beragama umat Islam Indonesia. Problematika muncul saat ada pengaruh yang datang dari luar, terutama radikalisme. Kaum radikal ini bisa jadi asli orang luar atau bisa jadi orang Indonesia yang mendapatkan pendidikan radikal di luar terus dibawa ke Indonesia, jelasnya

Namun, peserta dari Ormas lain menimpali bahwasanya persoalan keberagamaan umat Islam wajib diakui tetap terjadi. Bila dikategorikan, menurut Ketua Persatuan Umat Islam (PUI), persoalan berkisar pada faktor yang bersifat internal antar umat Islam sendiri dan bersifat eksternal antara Umat Islam dan umat lainnya. Dalam pertemuan yang dimoderatori langsung oleh Dirjen Bimas Islam ini diikuti oleh 30 orang peserta dari berbagai Ketua Ormas Islam, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Direktur Penais, Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri, Kapus Kehidupan Beragama Balitbang, di samping lima orang Delegasi Muslim Amerika dan pendamping dari KBRI di Amerika, Kedubes AS dan Kementerian Luar Negeri. Pertemuan begitu hangat dan luar biasa sebab pembahasan nampak intens dan penuh semangat, seakan tidak bakal berhenti bila moderator tidak menghentikannya. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel