Kehidupan Keagamaan Indonesia Kian Dinamis

Menteri Agama Lukman Hakim mengungkapkan bahwa kehidupan keagamaan di dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, kian dinamis. Dinamika sosial itu harus direspon dan dikelola oleh Pemerintah. Negara hadir untuk menciptakan kenyamanan dan ketertiban masyarakat di tengah kemajemukan warga, selain juga menjadi bentuk adanya pelayanan dan perlindungan negara. Faktanya, negara sudah hadir dan menangani, hanya saja banyak pihak belum tahu namun dengan mudah menuduh “negara tidak hadir!”   


“Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan hadir dalam konteks itu. Ia merekam informasi, data, laporan, ataupun penjelasan tentang kondisi dan kasus-kasus keagamaan yang terjadi sepanjang Januari hingga Desember 2014”, ujar Menag saat Milad Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal serta Promosi Kelitbangan Kementerian Agama di Gedung Bayt Al-Quran TMII-Jakarta, Rabu (6/5). Dikatakan Menag, meski berbasis data media, Menag berharap Laporan Tahunan ini tidak larut dalam media setting. Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan ini harus dilengkapi perspektif dan supporting data hasil penelitian, sebab laporan ini sesungguhnya berposisi mewakili Kementerian Agama, atau Pemerintah, atau bahkan negara. 

“Maka perlu didukung data dan informasi yang lebih luas dan mendalam. Melibatkan anasir dan unit lain di Kementerian Agama, serta kontribusi bahan dari unit-unit di daerah,” ucap Menag. “Misalnya, pendeteksian kasus-kasus keagamaan dilakukan langsung dari KUA-KUA di tingkat kecamatan, sehingga lebih lengkap dan terbebas dari bias media,” Menag menambahkan. Terlepas dari kekurangan yang ada, ujar Menag, upaya Balitbang dan Diklat menghadirkan Laporan Tahunan, baik itu tentang kehidupan keagamaan maupun pendidikan agama dan keagamaan, patut mendapat apresiasi yang tinggi, karena merupakan kontribusi yang mulia bagi kehidupan keagamaan di Indonesia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel