Agar Informasi tak Jadi Fitnah

Setiap informasi tak harus semuanya disebar kan alias disampaikan ke semua orang. Bahkan kabar dari orang yang baik dan isinya benar (shahih) sekalipun, tak dan serta merta langsung dapat dikonsumsi publik. Dalam faktor ini, ilmu Musthalahul Hadis mengajarkan dengan cara ketat mengenai verifikasi sebuah informasi ini. Para ulama hadis sangat teliti dan waspada dalam menerima kabar sebab khawatir terjadi kesalahan. 

Seperti dikisahkan, Busyair al- Adawy datang terhadap Ibnu Abbas ra sambil mengangkat sebuahriwayat hadis dan ia berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda…’(al-Adawy sambil mem simak kan hadis).  Ibnu Abbas tidak mendengar dan tidak memperhatikan hadisnya. Dia pun berkata, ‘Wahai Ibnu Abbas, mengapa engkau tidak mendengarkan hadisku? Apakah engkau tidak mau mendengar hadis dari Rasulullah Saw yang aku ucapkan kepadamu’? ‘Ibnu Abbas mengatakan, ‘Kami pernah suatu ketika bila mendengar seseorang berkata Rasulullah Saw bersabda…,maka mata kami segera melihatnya dan telinga kami mendengar. Namun ketika orang menempuh segala cara yang baik dan yang buruk, kami tidak mau mengambil hadis itu kecuali dari orang yang kami kenal’ (Shahih Muslim)

Pasca berkecamuknya fitnah di dalam umat Islam, para ulama lebih berhati-hati dalam menerima kabar. Mereka lebih memperhatikan penelitian dan pengecekan terhadap sanad dan latar belakang pembawa kabar. Seperti perkataan Ibnu Sirin: “Para ulama dahulu tak sempat menanyakan mengenai sanad, dan ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan, ‘Sebutkan nama perawi-perawi anda kepadaku!’. Jadi setiap kabar diperiksa, apabila asalnya dari Ahlussunnah jadi diambilnya kemudian dicek lagi dan apabila asalnya berasal dari pakar bid’ah jadi tak diambilnya. Al-Qur’an meng ajarkan, apabila orang fasik yang mengangkat berita, jangan lah langsung dipercaya kecuali seusai diverifikasi (QS. Al-Hujarat: 6). 

Adalah sebuah keharusan melakukan pengecekan sebuah berita, dan juga haram berpegang terhadap kabar orang-orang yang fasik yang tak sedikit memunculkan bahaya. Ayat ini mengajarkan bahwa mencari kebenaran kabar dan tak mempercayai kabar yang dibawa oleh orang yang fasik yang menentang Allah. 


Bukan berarti tak setiap kabar yang harus diragukan, tetapi setiap informasi harus diteliti sumber nya. Apakah memenuhi syarat dapat dipercaya. Lalu apakah isi informasinya sesuai dengan syariat alias bertentangan dengannya. Tetapi, sebuah informasi tak sekedar sumber dan konten (matan) yang harus diverifikasi, tetapi objek informasi harus diperhatikan juga dari segi kelayakan menerima, tujuan dan efeknya. Terkadang konten dan sumber telah benar dapat dipercaya, tetapi objek tak siap menerima informasinya. 

Seperti diceritakan dalam sebuahriwayat bahwa ketika Mu’adz bin Jabar ra memperoleh hadis berbunyi, "Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, melainkan Allah mengharamkan baginya api Neraka”, maka Mu’adz berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya aku beri tahukan hadis ini kepada orang banyak supaya mereka bergembira?” Nabi Saw menjawab: “Jika begitu (kau lakukan), maka mereka hanya akan mengandalkan hadis tersebut” (HR. Muslim) 

Jawaban Rasululllah Saw tersebut menunjukkan, bahwa Rasulullah Saw mengajari Mu’adz supaya riwayat hadis di atas disampaikan terhadap orang tertentu saja. Belum butuh disampaikan terhadap orang awam, yang tetap lemah imannya. Orang-orang yang tetap awam justru bakal meremehkan ibadah lainnya, mencukupkan diri dengan syahadat. Mereka bakal berpikir lumayan dengan menyimak syahadat orang dapat selamat dari api neraka, meskipun tak melakukan kewajiban-kewajiban lain nya. 

Sayid Muhammad bin Alawi al- Mali ki menjelaskan, adakalanya sebagian orang-orang yang bodoh menjadikan hadis seperti itu sebagai hujjah untuk meninggalkan beban kewajiban (taklif) dan menghapus hukum-hukum lainnya. Padahal, hujjah seperti ini menyebabkan mereka masuk neraka, bukan selamat dari neraka (Muhammad bin Alawi al-Maliki, Manhalul Lathif fi Ilmi al-Hadis, hal. 58). 

Maka, sebuah informasi yang didapat seorang Muslim dapat saja menjadi fitnah, apabila objek penerima informasi tersebut tak layak menerimanya. Dalam konteks ini Ib nu Mas’ud mengatakan: “Tidaklah engkau menceritakan sesuatu terhadap sebuah kaum sedang akal mereka tak mampu menerimanya, melainkan cerita itu memunculkan fitnah pada sebagian dari mereka” (HR. Muslim). 

Fitnah yang dimaksud merupakan ancaman dan kerusakan agama. Sebuah informasi yang benar tetapi dikonsumsi orang tak cocok jadi hingga muncul kesalah-fahaman. Salah faham ini lah penyebab kekeliruan dan kesesatan. Jadi dalam faktor ini Rasulullah Saw bersabda: “Cukuplah seseorang itu di nyatakan bohong apabila dirinya menceri takan semua apa yang ia dengar” (HR. Muslim). 

Petunjuk Nabi Saw ini mengajarkan sikap ilmiah. Bahwa seseorang dilarang menceritakan semua yang ia dengar tanpa terlebih dahulu memahami isinya dan yakin bakal kebenarnya. Sebab itu supaya sebuah informasi/kabar dan kabar tak menjadi fitnah bagi kaum Muslimin jadi ada hal-hal yang harus diperhatikan. Pertama, rujuklah sebuah kabar terhadap orang yang ahli, apabila kami tak memahami. Apakah layak kami konsumsi kemudian boleh disebarkan. Kedua,pikirkan isi beritanya. Apabila isi dan tujuannya baik jadi dapat dikonsumsi. Ketiga,Jika informasinya telah dipasti kan kebenarannya, jadi hendaknya memikirkan efek alias dampak dari disebarkannya informasi tersebut. Apakah meningkatkan kebaikan dakwah alias me rugikannya. 

Sedangkan dari segi objek (penerima informasi), juga butuh memperhatikan kaidah dan aturan yang telah digariskan para pakar ilmu. Di antaranya; apabila kabar nya menyangkut saudara Muslim, jadi kedepankanlah husnudzdzan sebelum ada pembuktian sebaliknya, apabila datang kabar jadi carilah sumber lain yang terpercaya berserta bukti-buktinya. Dan apabila informasi yang disampaikan terhadap kami berupa kabar yang sulit dipahami, jadi hendaknya dikembalikan terhadap orang yang pakar di bidangnya. 

Karena itu, setiap kabar harus ada tabayyun terhadap sumber dan verifikasi terhadap isinya. Para ulama menganggap bahwa seorang Muslim yang menyebar kan kabar tanpa tabayyun dan verifikasi hukumnya haram. Hendaknya, Muslim yang awam berdiam tak berkomentar apabila ragu atas sebuahkabar alias tak faham isi beritanya. Sebab apabila dipercaya alias disebarkan dapat memunculkan fitnah bagi dirinya dan kaum Muslimin lainnya. Dalam konteks ini Syaikh Nawawi al-Bantani berkata: Al-Shumtu Sayyidul al-Akhlaq yang artinya “Berdiam diri itu keutamaannya akhlak) (Nawawi al-Bantani,Nashoihul ‘Ibad,hal 48).

Kholili Hasib
Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel