Aturan Iklan Rokok di Sekitar Sekolah Disiapkan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengaku sangat menyayangkan maraknya iklan yang terpasang di sekitar sekolah. Untuk itu, Anies mengaku telah menyiapkan aturan ketat berkenaan dengan faktor tersebut.

"Sudah ada aturan-aturannya, kelak saya cek detailnya soal iklan itu," ucap Anies saat ditemui usai penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen-LHK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Kementerian Agama (Kemenag), Lembaga Angkasa dan Penerbangan (LAPAN), dan Badan Info Geospasial (BIG) di kantor Kemen-LHK, Jakarta, Selasa (16/6).

Menurut Anies, para pemasang iklan rokok hendaknya berpikir ulang terkait sikap yang merugikan anak bangsa itu. Dirinya menegaskan, mereka juga wajib berkaca apabila seandainya anak mereka berada dalam kondisi demikian. 

Ilustrasi - Iklan Rokok
Dia menjelaskan, pelaku industri rokok pasti tak mau apabila buah hati mereka dijadikan sasaran penggunaan rokok. "Untuk itu, mereka seharusnya menyadari faktor yang telah dilakukan itu," katanya menegaskan. 

Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik Direktorat Pembinaan SMP Dirjen Dikdas Kemendikbud Supriano mengungkapkan, pihaknya bakal merevisi larangan iklan rokok di kurang lebih lingkungan sekolah. Terlebih tentang jarak yang diperbolehkan untuk memasang iklan rokok.

"Tidak ada sponsor rokok di radius berapa dari sekolah sedang digodok," katanya di Jakarta, Senin (15/6). Supriano menuturkan, aturan tersebut adalah upaya melindungi siswa dari paparan iklan dan promosi rokok supaya tak terpengaruh iklan rokok.

Selain merevisi larangan iklan, ia mengatakan, Kemendikbud sedang berusaha menguatkan mental dan karakter siswa supaya tak tergoda iklan rokok. Menurutnya, akibat iklan tersebut sangat keras, khususnya lingkungan sekolah. Tidak hanya itu, iklan bisa memengaruhi karakter anak. 

"Tetapi, kalau pendirian anak benar, ia tak bakal mengikuti. Untuk itulah kita lakukan penguatan karakter," ucap Supriano. Ia mencontohkan penguatan karakter dilakukan melewati kegiatan ekstrakulikuler dan pembiasaan lingkungan tanpa asap rokok. Walau begitu, ia berbicara usaha sekolah melindungi siswa terbatas sampai lingkungan sekolah. Sebab, saat mereka berada di luar lingkungan sekolah, pemantauan bakal susah untuk dilakukan.

Untuk itu, ia berbicara usaha melindungi generasi muda dari kebiasaan merokok memperlukan dukungan dari beberapa pihak. Tidak hanya dari sekolah, masyarakat kurang lebih juga seharusnya mengingatkan siswa supaya tak mulai merokok.

Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) sebelumnya menyatakan, sebanyak 85 sekolah di lima kota yang dipantau terpapar iklan rokok. Iklan tersebut berada di tempat penjualan berupa warung, toko, dan minimarket yang berada di kurang lebih sekolah.

"Beragam iklan di tempat penjualan berupa warung alias toko bisa ditemukan pada area kurang lebih di 85 persen sekolah yang diamati. Paling tak jarang iklan timbul dalam bentuk spanduk alias display yang terkesan jelas," kata anak buah Tim Monitoring YPMA Hendriyani dalam peluncuran hasil pemantauan berjudul "Serangan Iklan Rokok di Kurang lebih Sekolah" di Jakarta, Senin (15/6).

Aturan Jarak
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah membikin aturan melarang iklan rokok dekat dengan sekolah, setidaknya dalam radius satu kilometer. Ketua Harian YLKI Tulus Kekal mengatakan, adanya iklan rokok menandakan bahwa industri menjadikan anak-anak itu menjadi sasaran mereka untuk penjualan produk dan promosinya. 

"Karena, seharusnya di lingkungan sekolah alias kurang lebih sekolah tak boleh diperjualbelikan bahan-bahan adiksi sesuai dengan fungsinya, sehingga rokok wajib dibatasi dan dikendalikan," katanya pada Republika, Selasa (16/6). 

Dia memisalkan, iklan rokok dilarang untuk radius jarak 1-500 kilometer dari sekolah. Tujuannya supaya anak-anak sekolah tak terpapar. Dirinya mengaku, YLKI sempat mengadakan survei bahwa 90 persen pelajar di Jakarta sempat menonton iklan rokok. Para pelajar pun hafal dengan pesannya. Sebab berfungsi untuk pemasaran, mereka akhirnya mencoba.

Pihaknya juga sempat menerima komplain dari konsumen Indonesia lantaran ada reklame iklan rokok dengan foto kartun. Padahal, kata dia, kartun identik dengan anak-anak.

Pengamat industri rokok dari Badan Khusus Pengendalian Tembakau, Widyastuti Soerojo, menganggap bahwa usaha perindustrian pengolahan tembakau menjadi rokok bukan adalah industri normal. "Ini faktor yang berbeda, tembakau bukan produk normal, bukan industri normal semacam usaha tas dan sepatu," kata Widyastuti beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, perbedaannya adalah industri rokok mempunyai akibat kurang baik lebih besar ketimbang industri lainnya, khususnya bagi kesehatan. Menurutnya, perbedaan ini belum dianggap serius oleh Pemerintah Indonesia.

Sebaiknya, dirinya menilai produksi rokok dikendalikan, bukan hanya didiamkan alias justru dimaksimalkan pemasarannya. "Penjualannya tetap bebas, bahkan tetap bisa iklan dan sponsor di mana-mana sampai memberi beasiswa, ini berarti mendukung," ujarnya.

Ia berpendapat, sebaiknya kualitas nominal cukai rokok dinaikkan supaya tak semua orang leluasa membelinya dan keuntungan dari cukai dipakai untuk akibat yang timbul dari rokok. Tidak hanya itu, sponsor dan beasiswa bisa diberikan dari pemerintah melewati keuntungan cukai rokok. (republika/antara)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel