Indonesia Diminta Bantu Rohingya Dengan Diplomasi

Organisasi sosial kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera melakukan langkah-langkah diplomatik guna menolong warga Muslim Rohingya. Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis mengatakan, apabila Pemerintah Indonesia tak segera melakukan langkah diplomatik, dikhawatirkan Muslim Rohingya di Myanmar bakal kehilangan status kewarganegaraannya (stateless). 

"Jalur diplomatik bisa dilakukan melewati ASEAN serta PBB, baik dengan cara negara maupun nonnegara," ucap Joserizal saat ditemui di kantor pusat MER-C di Jakarta, pekan lalu (3/6). Ia menjelaskan, Pemerintah Indonesia bisa menjadi inisiator untuk mengadakan pertemuan dengan negara-negara ASEAN guna mengulas hidup Muslim Rohingya. Pemerintah Indonesia juga diminta untuk mendesak PBB supaya lebih memperhatikan persoalan kemanusiaan yang terjadi di Myanmar. 

''Harapannya, Muslim Rohingya mendapatkan hak yang sama dengan warga negara Myanmar lainnya, seperti hak bersekolah, bekerja, serta lain sebagainya. Sedangkan, MER-C, menurut Joserizal, bakal berupaya melakukan langkah hukum terhadap Pemerintah Myanmar supaya warga Muslim Rohingya serta Muslim lainnya di Myanmar mendapatkan hak yang sama dengan warga negara Myanmar lainnya. Dengan demikian, diskriminasi atas nama suku, etnis, ataupun agama tak terjadi lagi. Saat ini, MER-C tetap melakukan proses pengumpulan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengajukan gugatan tersebut. 


Selain melakukan langkah-langkah diplomatik terkait status kewarganegaraan Muslim Rohingya serta Muslim lainnya di Myanmar, MER-C juga meminta Pemerintah Indonesia segera mengembalikan pengungsi Rohingya yang berada di Aceh ke negara asal mereka.  Menurut Joserizal, tak seharusnya Muslim Rohingya dipindahkan ke negara Asia lainnya, tapi wajib dikembalikan ke negara asalnya. Sebab, apabila tak dikembalikan ke Myanmar jadi Pemerintah Myanmar bakal merasa menang. ''Dan, faktor itulah yang dinginkan oleh Pemerintah Myanmar, yakni mengusir Muslim Rohingya dari negara mereka. 

Untuk proses pemberian bantuan kemanusiaan ke Myanmar, MER-C berharap, Pemerintah Myanmar butuh membuka jalan masuk yang lebih luas lagi serta memudahkan proses perizinan supaya bantuan bisa tersalur lebih cepat serta lebih luas. "Hal ini diinginkan bisa terealisasi melewati langkah-langkah diplomatik tersebut.''

Bangun pusat kesehatan
Rencananya, MER-C bakal membangun suatu  pusat kesehatan di Myanmar, yakni Indonesia Health Centre. Lokasinya di wilayah Minbya di mana tersedia sekolah Indonesia. Menurut Joserizal, wilayah Minbya tetap sangat minim sarana kesehatan untuk para pengungsi. Sebab itulah, pusat kesehatan rencananya dibuat di daerah tersebut. "Melihat langsung kondisi kamp evakuasi di Sittwe serta Rakhine yang telah berkembang lumayan baik jadi MER-C rencananya membangun pusat kesehatan di wilayah yang tetap minim kondisinya, yakni Minbya," katanya.

Ia menjelaskan, pembangunan Indonesia Health Centre ini adalah program kegunaaan jangka panjang yang dilakukan MER-C melewati donasi dari rakyat Indonesia. Ia menambahkan, pada misi kedua kemanusiaan yang dilakukan pada Februari lalu, MER-C menyalurkan bantuan berupa satu unit ambulans, obat-obatan, makanan, sprei, serta selimut sebanyak 200 paket yang disebar ke seluruh klinik serta rumah sakit (republika/hidayah.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel