Islam di Indonesia Dipandang Dunia Sebagai Islam Damai

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan paham Islam yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, dipandang dunia sebagai Islam yang penuh kedamaian.  “Islam yang berkembang serta dianut oleh mayoritas masyarakat kita, suatu  paham Islam yang tawasuth, tasamuh, i’tidal, serta tawazun, yang dikenal dunia sebagai paham Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, dipandang dunia, sebagai Islam yang penuh kedamaian. Suatu  paham Islam yang sanggup berlangsung serta beriringan dengan demokrasi serta perkembangan zaman,” terang Menag saat memberi Tausiyah pada Malam Haflah Akhirussannah serta Khatmil Qur’an Pondok Pesantren al-Fahham, Purworejo-Jawa Tengah, Rabu (10/06) malam.

Hadir dalam peluang tersebut, keluarga besar Anak cucu Dahlan, Kakanwil Kemenag Jateng, Ahmady, Kakanwil Kemenag DIY Nizar, Ro’is Syuriyah PC NU Kabupaten Purworejo, Habib Hasan Aqil al-Ba’dud, Bupati Purworejo Mahsun Zain, Kakankemenag Kabupaten Purworejo, Kapolres Purworejo, Dandim Purworejo, sejumlah alim ulama, para pengasuh pondok pesantren, para santri serta masyarakat sekitar.


Menag melihat, Islam Indonesia adalah Islam yang khas, terlebih, penyebaran Islam di Indonesia, tak sama dengan penyebaran Islam di Timur Tengah, Eropa, Afrika serta bahkan tak sama dengan daerah Persia serta Asia Selatan. “Islam disebarkan di Nusantara, tanpa menumpahkan setetes darah pun. Walisongo saat itu, dalam menyebarkan Islam, menjaga serta merawat tradisi yang ada, kemudian mengembangkannya dengan memberi nilai-nilai serta aliran Agama Islam. Serta hasilnya, kami dapat menyaksikan, suatu  Islam khas Indonesia yang luar biasa” tambah Menag yang dalam peluang tersebut, didampingi istri tercinta, Trisna Willy Lukman Hakim.

Menag berharap, apa yang dilakukan para pendahulu yang sanggup menggabungkan antara tradisi khas nusantara dangan aliran Islam, esensinya, dapat diteruskan. “Apa yang sudah diwariskan oleh para guru serta pendahulu kita, selayaknya kami jaga serta pelihara. Mungkin ada perbedaan situasi serta kondisi, sebab zaman rutin bergerak, terlebih saat ini, adalah era globalisasi, di mana, sekat geografis terus samar serta tipis. Untuk itu, kami memperlukan suatu  kreativitas, kreasi baru di dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam yang kami yakini,” imbuh Menag.

Dalam peluang tersebut, Menag yang masuk dalam keluarga besar Anak cucu Dahlan (Keluarga pendiri Ponpes al-Fahham) dari garis Ibu, sangat bersyukur, sebab Ponpes Al-Fahham dengan cara kontinyu, melaksanakan Haflah Akhirussannah serta Khotmil Qur’an. Menurutnya, faktor itu adalah bukti bahwa program-program dalam Ponpes berlangsung dengan baik, para pengasuh sanggup menjaga serta merawat perjuangan para pendahulu, untuk pro aktif dalam menambah nilai pendidikan agama serta keagamaan masyarakat sekitar.

“Dan semoga kami diberi kekuatan serta rutin diridhai dalam rangka menjalankan kewajiban kami sebagai khalifatullah serta makhluk di muka bumi ini,” harapnya.

Dalam peluang tersebut, Menag menyerahkan hadiah lomba Hadrah tingkat Kabupaten yang diselenggarakan PC Ansor Kabupaten Purworejo, bekerja sama dengan Ponpes al-Fahham yang memperebutkan Piala Menteri Agama. Menag juga memberikan bantuan dengan cara langsung terhadap Ponpes al-Fahham. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel