Lindungi Remaja dari Bahaya Rokok

Global Youth Tobacco Survey (GYTS) melakukan survey kepada remaja berusia 13-15 tahun di Indonesia mendapati fakta 18,3 persen pelajar telah terbiasa merokok. Total anak muda yang disurvei, yakni 5.981 orang yang mencakup 72 sekolah dengan sampel 212 kelas. 

Angka itu saat ini pasti merisaukan kami semua. Dunia internasional menjuluki Indonesia sebagai negara baby smoker sebab jumlah perokok terbanyak dari usia remaja serta anak-anak. Perokok remaja itu berpotensi menggantikan perokok dewasa di Indonesia yang jumlahnya memprihatinkan. Diperkirakan saat ini sebanyak 67 persen laki-laki dewasa di Indonesia menjadi perokok aktif. Jumlah perokok di Indonesia paling atas ke-3 di dunia seusai India serta Cina.

Dampak kurang baik rokok bagi kesehatan telah tidak sedikit diungkap. Aktivitas merokok sejatinya selain berdampak bagi kesehatan tapi juga ekonomi. Pada tahun 2013, anggaran perawatan medis rawat inap maupun rawat jalan untuk penyakit-penyakit terkait rokok di Indonesia mencapai Rp 2,1 triliun setiap tahunnya. Akibat yang tidak kalah penting adalah hilangnya produktivitas akibat kematian prematur, morbiditas, maupun disabilitas yang jatuh sakit. Diperkirakan kerugiannya mencapai Rp 105,3 triliun.

Bahaya Rokok
Ilustrasi - Bahaya Rokok (sitkes.com)
Lentera Anak Indonesia sempat mengungkapkan temuan bahwa naiknya jumlah anak serta remaja perokok dikarenakan iklan rokok. Produsen rokok sukses menciptakan kesan bahwa merokok adalah sesuatu yang baik serta biasa. Sebanyak 70 persen remaja mempunyai kesan positif kepada iklan rokok serta 50 persen remaja merasa lebih percaya diri sebagaimana yang dicitrakan dalam iklan.

Produsen rokok terbukti punya kepentingan untuk mengiming-imingi remaja untuk mengisap tembakau. Apabila remaja sanggup melalui masa mudanya tanpa merokok besar kemungkinan ketika dewasa dirinya tidak bakal berminat untuk merokok.

Harus diakui bahwa perhatian pemerintah bakal bahaya merokok tetap sangat rendah. Itu terkesan dari tidak kunjungnya Indonesia meratifikasi Konvensi Pengendalian Tembakau atau yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

FCTC adalah dokumen perjanjian yang diwadahi konvensi Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengendalikan zat adiktif, terutama rokok. Salah satu poin penting dari FCTC adalah setiap negara anak buah WHO diminta serius memberlakukan kebijakan pengurangan permintaan kepada produk tembakau. Indonesia adalah salah satu negara yang ikut menganjurkan draf FCTC.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada Ahad (31/5) kemarin seharusnya menjadi momentum bagi kami semua untuk melindungi anak-anak remaja dari bahaya merokok. Salah satunya adalah dengan menggerakkan kampanye antirokok di kalangan remaja. 

Kampanye produsen rokok yang masif dalam bentuk iklan serta aktivasi wajib dilawan dengan gerakan yang sama. Apabila tidak, para remaja kami hanya bakal menjadi target empuk buaian iklan rokok tanpa sempat memahami alangkah berbahayanya mengisap rokok bagi kesehatan.

Dalam rangka merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, kami mengingatkan pemerintah untuk sungguh-sungguh memberi perhatian pada bahayanya merokok, terutama bagi remaja.  Kami berharap pemerintah lebih tegas melindungi warganya, terutama para remajanya, dari bahaya merokok. (republika/hidayah.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel