Ayat-Ayat Yang Menangis

Laki-laki itu menangis, di tangannya Alquran terbelah menjadi dua. Dirinya menunduk semacam mengeja ayat-ayat yang berbaris. Basah oleh air matanya. Perlahan matanya mengeja satu persatu huruf-huruf yang berbaris rapi, bibirnya mulai komat-kamit, tanpa suara. Tidak lama seusai itu, air matanya kembali membasahi lembaran kitab yang dipangkunya, diikuti seduan-seduan kecil yang ditelannya.

Malam itu sunyi, tidak ada angin tidak terdengar binatang-binatang sawah. "Apakah Kamu tetap ingin melanjutkan?" Ustadz Alung menyaksikan lelaki itu menagis. Laki-laki itu tetap mengangguk, tanda semangatnya tetap tidak bertidak lebih.

"Kalau begitu, bacalah pelan- pelan, tidak butuh tergesa-gesa," pinta Ustadz Alung. Perlahan Laki- laki itu mengeja penuh hati-hati. Tidak sempat habis satu baris, Ustadz Alung menghentikan bacaannya, lalu dengan terlaten dirinya membahas satu persatu kekeliruannya. Tapi, Laki- laki itu terus menangis histeris, tersedu-sedu, semacam seorang anak yang merengek-rengek terhadap ibunya. Hari ini air matanya tumpah ruah.


"Mengapa Kamu terus menangis?  Apakah ada yang salah dengan langkah mengajar saya?"  "Tidak, Ustadz," sanggah Laki- laki itu.

"Lalu, mengapa setiap kali saya perbaiki langkah membacanya rutin dibarengi dengan tangisan?" Laki-laki itu hanya diam. Merunduk menyembunyikan matanya yang lebam. Orang yang dipanggilnya ustadz itu mengelus-elus pundaknya. Laki-laki itu perlahan mengangkat kepala.

"Ceritalah apabila ada persoalan?" pinta Ustadz Alung.

"Tidak ada, Ustadz," jawabnya pendek sambil menahan seduhan.  "Kalau begitu, mari kami lanjutkan lagi," pinta Ustadz Alung lagi.

Laki-laki itu kembali melanjutkan walau mulutnya semacam terkunci oleh seduan-seduan yang ditahannya. Dirinya terus berusaha, nadanya pelan.

"Salah..."

Laki-laki itu diam, suasana sunyi, lalu dirinya kembali melanjutkan sambil mengulang ayat sebelumnya.

"Salah!" Tegur lagi Ustadz Alung diikuti dengan membenarkan langkah bacaannya. Laki-laki itu menirukan macaan sambil melajutkan kalimat selanjutnya.

"Salah..."

"Salah!" Laki-laki itu kembali diam. Kepalanya merunduk, napasnya terengah-engah, keringatnya jatuh diikuti dengan air matanya. Alquran itu terus basah. Dirinya tetap merunduk menahan desahannya.

"Apabila ada yang salah saat saya membaca. Bolehkah saya minta di pukul, Ustadz," pinta laki-laki itu sambil membawa kepalanya pelan lalu kembali merunduk. Ustaz itu tertegun mendengar permintaannya.

Laki-laki itu tetap menekuk kepalanya ke bawah, menantikan ja wab an. Di sela-sela menantikan, wajah almarhum ibunya terlintas dibenaknya. Lalu dirinya teringat masa kecilnya saat ibunya meminta dirinya mau mengaji. Tiba-tiba dirinya rindu bakal jeweran ibunya saat dirinya menolak untuk berangkat mengaji waktu itu.

Apabila azan Maghrib berkumandang serta suara laki-laki itu tidak terdengar di rumah,ibunya dengan sigab berdiri di tempat dirinya bermain, sambil menekuk tangannya semacam ceret berdiri tegak serta sorotan matanya yang tajam. Tidak lupa juga dengan kayu panjang di tangan siap melesat ke tubuhnya. Dengan begitu, dirinya pun tanpa pikir panjang berlari menuju kamar mandi.

Lalu sosok yang lain berkelebat kepala Laki-laki itu. Keh Suqi, begitu para murid yang mengaji terbukti gilanya. Keh Suqi dikenal tegas, tidak segan-segan memberbagi jamu pahit terhadap muridnya yang tidak hafal bacaan shalat. Dirinya juga bakal meminta muridnya yang jahil terhadap kawannya untuk membaca surah Yasin 10 kali di kuburan. Kembali dirinya terkenang saat menjadi penghuni kuburan hingga dirinya hafal surah Yasin yang bacanya. Dirinya rin du pukulan rotan Keh Suqi yang membikin tubuhnya memar sekaligus membikinnya lancar membaca Alquran.

"Adakah langkah lain tidak hanya memukul?" Ustadz Alung membuyarkan lamunan Laki-laki itu.

"Adakah langkah lain supaya saya dapat kembali mengaji semacam puluhan tahun yang lalu?"

"Telah sekian lama saya meninggalkan ayat-ayat suci itu, adapun yang dapat saya baca mungkin surah Yasin serta berbagai surah juz 'Amma yang pendek-pendek peninggalan ajaran ibu serta Keh Suqi dulu. Semenjak ke luar dari tanah kelahiran, menuntut ilmu di kota asing, saya habiskan waktu untuk belajar serta buku-buku menjadi santapan yang menggiurkan."

"Alquran pemberian ibu yang sewajibnya dibaca, diabaikan, berdebu, tertimbun bersama buku-buku yang telah berakhir saya baca. Saya ingin lancar membaca Alquran lagi. Saya merasa hanya dengan membaca Alquran diri lebih tenang. Di sisa-sisa hidup ini saya ingin menghabiskan waktu untuk beribadah, Ustadz."

"Pukullah apabila saya salah saat membaca Ustadz," pintanya lagi.

"Mengapa wajib dipukul?" Sebab, dengan dipukul saya bakal dapat serta termotivasi untuk terus belajar, semacam masa kecil dulu. Sekarang, saya sangatlah miskin kemauan, miskin motivasi.
Mungkin, dengan pecutan rotan, saya dapat membangun motivasi dari ketakutan-ketakutan. Serta rasa sakit itu bakal terasa lebih sakit saat saya tidak dapat mengeja ayat-ayat itu.

"Tidak! Itu melanggar," seru Ustadz Alung. "Apabila itu menjadi kehendakmu, mungkin bakal melanggar. Tapi ini kehendakku, sehingga tidak butuh takut."  "Memukul itu tindakan tidak terpuji, itu bakal mendekatkan saya pada dosa."  "Saya yang tanggung."  "Tidak ada dosa ditanggung orang lain."

"Jangan ngawur. Anda lebih tua dari saya. Apa kata orang kalau saya membimbing Anda dengan langkah memukuli. Bacalah lagi, semua bakal dilewati dengan baik. Asal Anda lebih tenang," bujuk Ustaz Alung sambil menyuguhkan segelas air untuk laki- laki itu.

"Masih ada hari esok. Saya bakal menantikan di sini serta menemanimu, hingga dapat."

"Besok bakal tidak sama, Ustadz. Semangat ini sungguh berharga bagiku. Percayalah, saya telah tidak jarang berharap pada hari esok, tapi rutin gagal. Lalu saya menjadi pengkhianat janji sendiri. Jangan biarkan itu terjadi lagi, Ustadz. Ayolah, saya mohon," lelaki setengah baya itu mendesak.

"Pukul saya dengan rotan ini setiap saya salah membaca." Bujuknya kemudian sambil menyodorkan rotan yang telah dipersiapkannya. Ustadz Alung menatap Laki-laki itu. Raut wajahnya penuh ambisi. Mereka saling pandang. Lalu, Laki-laki itu mengangguk sebagai isyarat ke yakinan atas permintaannya. Tapi, Ustadz Alung tetap dengan pendiriannya. "Kita cari langkah lain tidak hanya langkah ini," pintanya.

"Tidak ada langkah lain Ustadz, tidak hanya langkah ini. Saya telah sempat mencoba segala langkah sebelum ini. Keh Suqi telah meninggal beberapa tahun yang lalu, demikian Ibu yang begitu sabar menuntunku untuk belajar. Ayolah Ustadz, waktu terus berjalan. Saya tidak mau digilas waktu tanpa memperoleh apa-apa." Sunyi.

"Bukankah Anda telah sempat membaca hingga lancar. Anda tidak bakal kesusahan melakukannya lagi. Anda tentu dapat, cobalah untuk bersabar," Ustadz Alung terus menolak.

"Telah sekian waktu saya bersabar. Sekian waktu pula saya habiskan. Berkali-kali saya mencoba untuk membaca. Tapi hasilnya rutin mengecewakan, setiap dicoba, bayang-bayang gelap itu menghalang pandang. Semacam menutup harakat serta ayat-ayat. Bayang-bayang itu rutin timbul setiap kali saya membaca, Ustaz. Barang kali dengan pecutan serta rasa sakit itu, bayang-bayang gelap itu buyar serta membukakan mata hati yang sekian lama dipenuhi kekurang baikan."

"Ayolah Ustadz, saya mohon. Sungguh saya ihklas serta rela dipukul berkali-kali untuk dapat membaca kembali," desak Lelaki itu.

"Baiklah, tapi jangan salahkan saya apabila ada apa-apa."

"Tidak Ustaz, saya telah siap dengan segala risikonya," tegasnya. Lalu, Ustaz Alung menyuruh laki- laki itu membaca. Perlahan dirinya membacanya penuh semangat. Tidak hingga satu baris, rotan itu melesat ketubuhnya. Laki-laki berhenti sambil menyimak penjelasan ustaz itu, kemudian dilanjutkan lagi.

"Salah..." "Tass...!" Rotan melesat lagi ke tubuhnya. "Salah!!!" Pukulan itu berjalan setiap ada kesalahan. Ustaz Alung sembari melepas pukulan, air matanya mengalir bersama seduan-seduan yang tertahan. Sedangkan, Laki-laki itu tetap dengan semangatnya yang merah semacam tubuhnya yang memar.

Malam sunyi, angin tidak berembus, yang terdengar hanya suara pukulan, desahan, serta ayat-ayat suci diikuti dengan tangisan serta seduhan yang tertahan.
Jejak Imaji 2013-2015 (Sule Subaweh/ROL)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel