Gaza in Jakarta

Siapa sangka, kawasan Kemang, Jakarta Selatan, kini mirip semacam di Gaza. Bangunan tembok yang tinggi menjulang di kawasan itu mempersusah warga sekitar untuk beribadah, menjangkau Masjid mereka, Masjid Al Futuwwah.

Masjid Jami' Al Futuwwah yang persisnya berlokasi di RT 02 RW 10 Cipete Utara, Kabayoran Baru, Jakarta Selatan itu menjadi terisolir sebab jalan masuk jalan menuju masjid tertutup. Pagar beton kokoh dengan tinggi dua meter dibangun di sekeliling masjid. Tembok kokoh itu telah merampas kebebasan para jamaah berlangsung untuk beribadah bersama.

Merupakan Fahira Idris, anggota DPD asal DKI Jakarta, melalui akun twitternya menyoroti pembangunan kawasan elite Kemang itu, yang berimbas kurang baik bagi warga setempat ini. Fahira memperoleh laporan miris dari salah satu konstituennya, @arisakti terkait dengan fenomena yang disebutnya Gaza in Jakarta, Selasa (16/6).

"Sementara kami menyambut dengan penuh suka cita ada pula cerita nestapa menghampiri #GazaInJakarta," katanya melalui akun Twitter, @fahiraidris. "Di selasar pekarangan kita. Di tengah kota #Jakarta ada anak dan ibu menangis sebab dihalangi ke masjid. Biadab!"

Masjid di Kemang

Fahira mekualitas, kejadian yang menimpa warga itu bagai mengungkap segi gelap Kemang, yang dikenal sebagai kawasan hiburan malam. "Kemang dimana keriuhan dan gemerlap malam beradu. Dimana peluh memburu menemani sampai jelang pagi. #GazaInJakarta."

Wakil Ketua Komite III DPD ini melanjutkan, "Tetapi sepelemparan batu dari tmpt memburu nikmat dunia, anak susah sekali berangkat ke masjid & ibu dihalangi oleh kawat berduri #GazaInJakarta."

Yang membikinnya miris, tidak sedikit bocah dan tidak jarang jatuh dari tembok tinggi dan berlapis duri hanya sebab ingin mengaji. "Lihat.. alangkah kejam yg memasang kawat berduri & kaca beling hanya u/ menghalangi orang berangkat ke masjid. Laknatullah #GazaInJakarta."

Fahira memuji 'perjuangan' para anak kecil yang bertekad mengaji, walau mendapat rintangan bangunan. Pun dengan kaum tua juga wajib bersusah payah melalui tembok yang dibangun merintang.

"Al Quran dipelajari selepas maghrib selalu di bawa dengan peluh. Mereka lari dan melompati pagar berduri demi alif, demi ba dan demi tsa," ucap Ketua Umum GeNAM ini. "Ibu tua renta pun kepayahan sebab wajib naik tembok. Padahal hanya ingin menghadiri taklim."


Tidak lupa, aktivis antimiras tersebut mengunggah gambar seorang nenek wajib dituntun lantaran melalui tembok, demi bisa ikut majelis taklim. "Coba lihat alangkah seorang nenek wajib dibantu tidak sedikit orang... padahal beliau hanya ingin ke masjid."

Fahira meningkatkankan, "Mohon perkenan doa supaya anak-anak dan nenek dan ibu bisa mengaji dgn tenang.. sungguh hanya itu yg dipinta." Dirinya berharap, "Penutupan yg biadab & pihak pemerintah hanya netral. Itu yg dikemukakan oleh aparat. Tdk mau brpihak. Kpd tmpt ibadah pun tidak." Fahira berdoa, pada ni niat baik mereka dipermudah Sang Pencipta. "Semoga perjuangan mereka ini dimudahkan oleh Allah SWT #GazaInJakarta."

Minta Jalan masuk Jalan ke Ahok

Sementara itu, terkait persoalan ini, masyarakat sekitar Masjid Al Futuwwah, Kemang, Jakarta Selatan, mendesak Gubernur DKI, Ahok untuk turun tangan dalam persoalan jalan masuk menuju masjid ini. Sanwani, pengurus yayasan, berbicara selagi ini dari pihak Pemkot Jakarta Selatan tidak memiliki solusi terkait faktor ini.

"Kami memegang rencana Ahok yang hendak membeli lahan mereka supaya persoalan berakhir. Sehingga jalan jalan masuk menuju masjid bisa ada," ucap Sanwani di Masjid Al Futuwwah, Rabu (17/6), semacam dikutip Republika Online.

Sebelumnya, Sanwani terbukti telah melakukan pertemuan dengan Ahok. Ahok menjanjikan untuk membeli kembali tanah warga yang telah dibeli oleh pengusaha Ichsan Thalib tersebut. Tanah tersebut dijanapabilan Ahok bakal dibangun ruang terbuka hijau.

Ichsan Thalib menolak tawaran tersebut. Ia sengaja memasang harga tinggi untuk harga satu meter tanahnya. Sebelumnya, Thalib hanya membeli Rp5 juta permeter dari warga. Tetapi, saat ada sengketa tanah Thalib malah memasang harga Rp15 juta per meter.

Menyaksikan kenyataan ini, Sanwani tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya berharap kepada Pemprov DKI untuk bisa memediasi permasalahan ini. Sebab, tidak sedikit warga yang terbukti membutuhkan keberadaan masjid tersebut untuk tempat beribadah. (si online/hidayah.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel