Hakikat Hidup Berprestasi

ALLAH SWT adalah dzat yang Mahabesar dan hanya Dia-lah yang berhak menyebutkan keagungan Diri-Nya. Adapun segenap makhluk ciptaan-Nya adalah teramat kecil dan sama sekali tak layak merasa diri besar. Seorang hamba yang lisannya berucap, "Allaahu Akbar!" serasa jiwanya bergetar sebab sadar akan kemahabesaran-Nya, dialah orang yang menyadari kekerdilan dirinya di hadapan Dzat yang serba Maha. Sungguh, Allah sangat suka kepada orang yang merendahkan diri di hadapan-Nya, jadi diangkatlah derajat kemuliannya ke tingkat yang sangat tinggi di hadapan semua makhluk, apalagi di hadapan-Nya.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk" (QS. Al-Bayyinah: 7). Sebaliknya alangkah Allah sangat murka kepada orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS. An-Nisa: 36). Syurga pun mengharamkan dirinya untuk dimasuki oleh orang-orang yang di dalam kalbunya ada kesombongan mesikipun hanya sebesar debu. 

Segenap makhluk yang ada di alam semesta ini tiada mempunyai daya dan upaya, kecuali sebab karunia dan kekuatan dari Allah SWT? Laa haula walla quwwata illa billaah! yang menciptakan tubuh ini pun Allah. Yang mengalirkan darah dalam peredaran yang sempurna, yang mendetakkan jantung, singkat kata yang mengurus sekujur badan ini pun hanya Allah semata! Manusia sama sekali tak berdaya sekiranya Allah menghendaki sesuatu atas jiwa dan raga ini. Sebab itu, Allah SWT mengancam manusia yang melupakan hakikat dirinya. 

Ilustrasi - Tawadhu (voa-islam)
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi ini tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku" (QS. Al-A'raf: 146). Dalam ayat lain disebutkan, "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang" (QS. Al-Mu'min: 35). Nyatanya rahasia nasib berhasil alias sebaliknya nasib terhina dan tiada harga, tak terlepas dari seberapa sanggup seseorang menempatkan dirinya sendiri di hadapan Allah SWT. Tawadhu, inilah kunci bagi siapa saja yang ingin mempunyai pribadi unggul. Seseorang niscaya bakal lebih cepat maju manakala mempunyai sifat tawadhu dan tak sombong. Mengapa demikian? Kunci paling penting untuk berhasil adalah adanya kesanggupan menyerap ilmu dan meluaskan visi, performa mendengar dan menimba ilmu dari orang lain. 

Faktor ini bakal membikin kita terus cepat melesat dibandingkan dengan orang-orang yang sombong, merasa pandai sendiri, mengganggap lumayan dengan ilmu yang dimilikinya, jadi merasa diri tak lagi memperlukan pendapat, pandangan, dan visi dari orang lain. Ketahuilah, kita ini adalah makhluk yang serba terbatas. Buktinya, kita tak dapat melihat kotoran di mata alias hidung sendiri. Artinya, kita memperlukan cermin dan alat bantu lainnya supaya dapat menguji semua yang kita miliki ataupun melengkapi sesuatu yang belum kita miliki. Islam mengajarkan kita semua supaya tak sombong. Kita wajib berani mendengarkan segala sesuatu dari orang lain. Kita tak dilarang untuk punya pendapat, namun orang lain pun tak salah apabila mempunyai pendapat berbeda. 

Kita wajib bersedia mendengarkannya, paling tidak untuk menguji pendapat kita apakah dapat dipertahankan atau tidak. Atau, bahkan untuk melengkapi pendapat kita, jadi terus bermutu. Karenanya, berhati-hatilah dengan segala yang berbau kesombongan, merasa diri hebat, pemborong syurga, paling benar, paling mampu. Semua itu hanya bakal mengurangi performa yang ada pada diri kita. Sesungguhnya kesombongan itu bakal menutup faktor yang sangat fitrah dari diri manusia yaitu performa melengkapi diri. Kami wajib menjadi orang yang tamak kepada ilmu, serakah kepada pengalaman dan wawasan. Tiap berjumpa dengan orang, lihatlah kelebihannya, simaklah kemampuannya, lalu ambillah kelebihannya itu. Pasti ini tak bakal menjadikan orang tersebut gulung tikar dan tak mempunyai kelebihan lagi. Sebaliknya, performa orang yang kita mintai ilmunya bakal terus berkembang tidak hanya kita pun bakal terus maju. 

Tak mungkin kita ditakdirkan berjumpa dengan seseorang, kecuali pasti bakal menjadi ilmu dan pengalaman baru, sekiranya diri kita dibekali dengan hati yang bersih. Pasti yang dapat menjadi ilmu itu tak sekedar hal-hal yang membahagiakan saja. Aneka pengalaman yang tak menyenangkan, semacam penghinaan, kritik alias cemoohan, semua ini masih menjadi ilmu yang bakal menambah wawasan, kemampuan, karakter, mental ataupun keunggulan-keunggulan lain yang bakatnya telah kami miliki. Adapun faktor yang sangat mutlak dan paling menentukan bobot dari semua perilaku dan kiprah kita dalam menambah nilai dan keunggulan diri adalah hati yang bersih. Kedongkolan, kemangkelan, kejengkelan, kebencian, dan semua faktor yang dapat membikin tak nyamannya hati, jelas-jelas adalah sikap kejiwaan yang kontraproduktif. 

Kita akan banyak kehilangan waktu sebab hati yang kotor. Kalau kita tergolong jenis pemarah dan gemar memuaskan hawa nafsu dan kedendaman, jadi kita akan kehilangan waktu untuk kreatif dan produktif. Akan tetapi, sekiranya hati kita terasa bersih dan sejuk, jadi kendatipun hantaman persoalan dan kesulitan datang bertubi-tubi, niscaya kita bakal seperti intan yang tiada hilang kilauannya sepanjang masa. Bukankah intan itu tak akan hancur wujudnya dan berkurang kilauannya kendati dihantam dengan batu bata dengan cara bertubi-tubi, bahkan dirinya sendiri yang bakal hancur? 

Kesejukan, kebersihan, dan ketentraman hati, tak dapat tidak, bakal mempengaruhi pikiran ini menjadi lebih lebih berguna dan bermakna. Tampaknya umat Islam bakal bangkit bila sanggup bersinergis, saling menolong satu sama lain. Kuncinya adalah bebasnya hati dari kedengkian, dan kebusukan. Kita wajib belajar bahagia melihat orang lain maju. Kita pun wajib belajar ikut bersyukur melihat kesuksesan dan prestasi orang lain seraya membuat kami terbakar untuk dapat lebih maju lagi. Wallahu a'lam. (ROL/Hidayah.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel