Kejujuran

Alquran menjanjikan lewat salah satu ayat-Nya: ''Barangsiapa bertakwa kepada Allah, akan dikaruniai-Nya pertolongan dari arah yang tak tersangka-sangka.'' (QS 65:3).

Bagi mereka yang tidak tahu asal-usulnya, lebih-lebih yang tidak mengetahui kekuatan dahsyat ibadah, pertolongan semacam yang dinyatakan Alquran itu dianggap sekadar keajaiban alam. Padahal pertolongan itu adalah fenomena supranatural yang tidak terjelaskan melewati kata-kata. Hanya dapat ditangkap dengan penghayatan serta ketajaman mata batin yang dinamakan bashirah.

Karena itu beberapa istilah dipakai oleh para ahli nonagamis untuk mengenali fenomena supranatural tersebut. Sedangkan dalam pandangan ulama sufi, pertolongan itu dibedakan sesuai tingkat ketakwaan seseorang. Untuk kelebihan yang dimiliki para wali, dinamakan karomah, artinya kemuliaan, lantaran datangnya dari Tuhan sebagai isyarat ketinggian martabat seorang hamba yang sangat taat terhadap Penciptanya.



Dalam suatu hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda, ''Sesungguhnya Allah berfirman: Tidak seorang pun yang mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib dan amalan sunat yang Aku sukai, kecuali Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, ia akan mendengar dengan telinga-Ku, akan melihat dengan mata-Ku, akan menjamah dengan tangan-Ku, dan akan melangkah dengan kaki-Ku. Jika ia memohon pada-Ku pasti Kukabulkan, dan jika meminta perlindungan-Ku niscaya Kulindungi.''

Selain itu, karomah dapat timbul pada seseorang yang tawakal dengan disertakan kejujuran, yakni dua sifat kewalian yang utama. Dari sifat tawakal serta jujur bakal lahir rasa keadilan serta kebijaksanaan yang lapang. Semacam keajaiban yang dimiliki Kyai Jamil, ulama sederhana di kota kecil Pemalang, Jawa Tengah, yang weruh sadurunge winarah atau dapat menebak pikiran orang.

Suatu hari, seorang tukang becak bertengkar dengan istrinya. Pasalnya, si suami keliru memberikan sedekah terhadap Kyai Jamil. Niatnya hanya mau mengeluarkan dua ratus rupiah dari dompet bututnya untuk pembangunan majlis taklim Kyai Jamil, namun yang diserahkan satu lembar sepuluh ribuan serta satu lembar ratusan.

Tegur si istri, ''Itu kan hasil memeras keringat selagi seminggu.'' Tiba-tiba wajah si suami berubah pias. ''Ssst, jangan ngomel terus, kelak Kyai Jamil dengar,'' tukasnya. ''Dengar dari mana, wong rumahnya jauh,'' bantah si istri. Hanya terpaut beberapa saat, sekonyong-konyong Kyai Jamil sudah timbul di depan pintu. Sesudah mengucapkan salam, ulama sepuh tersebut langsung menyodorkan uang sepuluh ribuan sambil berkata, ''Tolong ambil uang ini, serta ganti dengan seratus rupiah saja.''

Pasangan suami istri itu tidak dapat menolak alias bersuara. Mereka kian yakin, Kyai Jamil betul-betul wali yang serba tahu. Padahal keajaiban tersebut semata-mata berkah kejujuran serta nalar Kyai Jamil sehat. Mana mungkin tukang becak sanggup memberi sedekah sepuluh ribu seratus rupiah, padahal penghasilannya sehari hanya kurang lebih dua ribu alias tiga ribu rupiah?

Lagipula jumlah sepuluh ribu seratus rupiah rasanya sangat ganjil. Yang pantas seharusnya dua puluh ribu alias dua ratus rupiah. Menurut pandangan Kyai Jamil, untuk tingkatan tukang becak lebih masuk akal kalau hanya sanggup bersedekah dua ratus rupiah.

Oh, andaikata semua pemuka agama, penggede negara, pengelola perusahaan, serta panutan masyarakat, mempunyai kejujuran serta nalar yang sehat semacam Kyai Jamil, siapa tahu Nabi saw takkan butuh mengingatkan, ''Inna syarra ummati aimmatuhum, sesungguhnya seburuk-buruk umatku adalah para pemimpin mereka.'' (ROL/HIDAYAH)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel