Masa Orientasi Siswa

Balon, rambut kuncir alias potongan cepak cepak, papan nama besar diikat tali rafia, topi dari ember alias keranjang sayur, tas dari karung alias plastik sampah, hanyalah sedikit contoh ar ibut yang nyaris kita lihat setiap kali penerimaan siswa baru di SMP, SMA, universitas, bahkan saat ini ada sekolah dasar yang mulai ikut-ikutan.

Pernak-permik tersebut wajib dibawa siswa baru/maba, dengan perintah serta intruksi yang disampaikan "penuh semangat" sampai memunculkan rasa takut. Suara keras, bentakan, hukuman fisik, juga menjadi tahap yang lumrah terjadi.

Tidak jarang kita mendengar peraturan pertama yang berlaku selagi Masa Orientasi Siswa (MOS), Senior tidak sempat salah. Peraturan kedua, Apabila senior salah maka lihat aturan pertama. Peraturan tidak tertulis yang sulit diterima akal sehat, serta tetap dipegang oleh sebagian besar senior.

Alih-alih membangun mental, masa orientasi di sekolah yang demikian justru membikin siswa menjadi pengecut, penakut, sampai mematuhi apa saja yang diperintahkan senior sekalipun merepotkan tidak sedikit pihak--tidak hanya siswa baru yang bersangkutan, mahal, tidak logis bahkan tidak bermoral.

Ilustrasi - Masa Orientasi Siswa (viva)
Saya tetap ingat di tahun 2010, ketika salah satu orang tua anggota Paskibra mengadu ke Polda, KPAI, serta Komnas HAM terkait dengan permasalahan pelecehan yang dilakukan senior. Selagi masa penggemblengan anggota Paskibraka putri diperintah senior--yang juga perempuan--berbaris berhadap-hadapan, lalu membuka seluruh pakaian sampai telanjang bulat, sambil menadahkan tangan untuk menerima shampo serta sabun, berbaris telanjang di depan pintu kamar mandi, serta berbaris masuk ke kamar tidur, juga dalam keadaan telanjang bulat. Di kelompok paskibra pria ada Paskibra putra yang dipaksa beradu (maaf) kemaluan dengan Paskibra lain.

Kenapa ini dapat terjadi dalam organisasi terhormat yang dekat dengan anak-anak didik? Rasa takut dikombinasikan dengan kekuasaan penuh, hasilnya tidak terkendali. Meski terjadi lima tahun lalu, kami tidak dapat berbicara kalau fakta-fakta di atas merupakan kabar lama. Selagi rasa takut menjadi dasar kegiatan alias program resmi, maka hanya persoalan waktu sebelum faktor ini kembali terulang. Tinggal persoalan kapan, di mana, serta apakah terungkap alias tidak.

Jauh sebelumnya, di kampus Institut Pemerintahan Dalam negeri (IPDN) tahun 2007, Cliff Muntu, salah satu praja asal Sulawesi Utara, meninggal dampak perpeloncoan. Sejak kejadian tersebut terkuak fakta bahwa dalam kurun waktu dua dekade sejak 1990-an sampai pertengahan tahun 2000 tercatat setidak sedikit 35 praja tewas. Hanya 10 di antaranya yang tercium media masa.

Tahun 2013 di Akademi Ilmu Pelayaran Djadajat, David Richard Djumaati (18) meninggal seusai dipelonco seniornya. Saat melapor ke Badan Kemahasiswaan, David mengaku ia dikeroyok, dipukul, serta disiksa 10 seniornya. Tahun 2014, seorang pelajar SMAN 3 bernama Arfian Caesary meninggal juga sebab aktivitas perpeloncoan.  Korban bakal tetap berjatuhan selagi pendekatannya sama: RASA TAKUT serta intimidasi.

Sekalipun tidak ada pemukulan serta kekerasan fisik lain, rasa takut bakal membikin siswa yang sakit tidak berani mengaku sakit, mereka yang telah tidak kuat tidak berani meminta berhenti.

Pada tahun 2013 di Institut Teknologi Nasional Malang, Fikri Dolasmantya Surya meninggal dampak kelelahan serta kekerasan fisik saat Kemah Bakti Desa selagi lima hari (9 - 13 Oktober 2013) di Gua Cina, Kabupaten Malang.

Di tahun yang sama, di SMKN 1 Pandak Bantul, Anindya Ayu Puspita (16) meninggal saat mengikuti kegiatan MOS. Anindya pingsan seusai menjalani hukuman squat jump sebab tidak menggunakan seragam kaos saat latihan baris-berbaris. Ingin rasanya menyatakan semua nama korban masa orientasi supaya mereka menjadi pahlawan yang mengingatkan kami bahwa faktor ini tidak boleh terjadi lagi.

Sebab itu saya mendukung cara Mendikbud Anies Baswedan tahun ini untuk mulai melarang keras orientasi siswa yang bertindak melecehkan serta memberatkan biaya. Sewajibnya peraturan serupa diberlakukan di Perguruan Tinggi.

Saya bersyukur tahun ini anak saya beruntung masuk SMAN 2 Depok yang menjunjung tinggi keilmuan. Menyadari ada kebijakan menteri terkait kegiatan masa orientasi siswa baru, kepala sekolah serta OSIS dengan cara positif langsung menyesuaikan diri mengisi MOS dengan kegiatan yang edukatif serta informatif.

Sayangnya, tetap ada yang membandel, melakukan praktik perpeloncoan, serta pihak sekolah tutup mata. Bahkan walau orang tua telah mengajukan keberatan. Pasti saja cara tegas kepada pihak sekolah wajib ditegakkan. Terlebih seusai MOS, bakal tidak sedikit lagi kegiatan rekruitmen ekskul yang juga punya potensi perpeloncoan.

Semoga 2015 menjadi tahun terbaru. Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi rasa takut. Apapun namanya: OSPEK, OKK, MPA, MOS, MOPD, serta sebagainya, apabila rasa takut serta hegemoni merupakan dasar yang menggerakkan, penyimpangan bakal tetap terjadi. Orang tua serta anak didik punya opsi. Selamatkan anak-anak kami dari kekerasan MOS. Segera laporkan penyimpangan yang ada- walau MOS tahun ini telah beres- melewati http://mopd.kemdikbud.go.id/.

Jangan diam. Keberanian kami bertindak, sangat mungkin menyelamatkan tidak sedikit calon pemimpin serta tokoh masa depan. (Asma Nadia)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel