Masjid Qiblatain, Saksi Perpindahan Kiblat

Masjid Qiblatain, salah satu tempat ziarah di Madinah yang dikenal dengan  dua arah kiblat. Masjid yang dulu bernama Masjid Bani Salamah itu menjadi saksi perpindahan arah kiblat kaum Muslim.

Masjid Qiblatain terletak di Quba, di atas suatu bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah. Masjid Qiblatain mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah, sebab masjid ini dibuat di atas bekas rumah Bani Salamah. Masjid ini terletak kurang lebih 7 kilometer dari Masjib Nabawi di Madinah.

Saat kami mengunjungi masjid tersebut,  diterima oleh salah seorang pengurus masjid tersebut, Ibrahim Ahmad (50)  menceriterakan asal usul masjid Qiblatain ini,  diawali dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW beserta berbagai sahabat ke Salamah untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya.

Ketika itu bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, Rasulullah shalat Zhuhur di Masjid Bani Salamah. Ia mengimami para jamaah. Dua rakaat pertama shalat Zhuhur tetap menghadap Baitul Maqdis (Palestina), hingga akhirnya malaikat Jibril memberi tau wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika lelaki dijuluki Al-Amin ini baru saja menyelesaikan rakaat kedua.


Dalam Alquran Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144).

Begitu menerima wahyu ini, Rasul langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jamaah melanjutkan shalat Zhuhur menghadap Masjidil Haram. Yang tadinya menghadap Baitul Maqdis dengan tetap melanjutkan rakaat ke dua bersama makmum (pengikut shalat), sejak saat itu, kiblat umat Islam berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina (menghadap ke utara dari Madinah), menuju Masjidil Haram (menghadap arah selatan dari Madinah). Masjid Bani Salamah ini pun dikenal sebagai Masjid Qiblatain alias Masjid Dua Kiblat.­­­

Ibrahim Ahmad melanjutkan ceritanya, pada awalnya, kiblat shalat untuk semua nabi merupakan Baitullah di Mekah yang dibuat pada masa Nabi Adam AS, seperti yang tercantum dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 96 : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibuat untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Mekah yang diberkahi serta menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Sedangkan Al Quds (yang kudus: Baitul Maqdis) ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari bangsa Israel. Al Quds berada disebelah Utara. Adapun Baitullah di Mekah disebelah Selatan jadi keduanya saling berhadapan.

Kini bangunan Masjid Qiblatain terbukti mempunyai dua arah mihrab yang menonjol (arah Makkah serta Palestina) yang umumnya dipakai oleh Imam shalat. Seusai direnovasi oleh pemerintah Arab Saudi, dengan hanya memfokuskan satu mihrab yang menghadap Ka’bah di Makkah serta meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina.

Ruang mihrab menadopsi geometri ortogonal kaku serta simetri yang ditekankan dengan memakai menara kembar serta kubah kembar. Kubah mutlak yang menunjukkan arah Kiblat yang benar serta kubah kedua merupakan palsu serta dijadikan sebagai pengingat sejarah saja. Ada garis silang kecil yang menunjukkan transisi perpindahan arah. Di bawahnya tersedia replika mihrab tua yang menyerupai ruang bawah kubah batu di Yerusalem, bernuansa tradisional.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel