Pesantren Hadits Untuk Keluarga

Rutinitas yang padat berakibat pada nilai hubungan suatu  keluarga. Kondisi inilah yang tak sedikit dialami warga di kota besar, semacam Jakarta. Fenomena tersebut menginspirasi Direktur Pusat Kajian Hadis Ahmad Lutfi Fathullah untuk mendirikan Pesantren Hadis untuk Keluarga. "Saya menyaksikan, pesantren ini adalah jawaban keperluan orang Jakarta yang antara bapak serta anak jarang sekali komunikasi. Bahkan, antara suami serta istri juga komunikasi tak lebih," kata dirinya, Selasa (4/8).

Sebab itu, kata dia, pesantren ini bakal membikin hubungan antaranggota keluarga menjadi lebih erat. Demikian pula dengan nilai spiritual dalam keluarga juga diasah.  Lutfi mengungkapkan, pesantren yang berlokasi di Desa Cinegara, Caringin, Bogor, Jawa Barat, ini telah dirintis sejak empat tahun lalu dengan masa pembangunan dua tahun. Saat ini, sejumlah fasilitas pesantren telah dibangun. "Insya Allah, sanggup menampung 70-80 orang," kata dia.

Tidak sama dengan pesantren pada umumnya, masa belajar para santri hanya tiga hari serta paling lama sebulan. Jadi, tahapannya ada ketika santri bakal belajar khusus di kelas suami, anak, alias istri. Tahap selanjutnya ada kelas keluarga. Pada setiap kelas, para santri bakal mendapat siraman rohani serta hadis. Umpama, di setiap kamar bakal disiapkan televisi yang berisi software video mengenai teladan Rasulullah SAW, semacam tata langkah mandi serta makan beliau. 

Ilustrasi (mujawwidin.com)
Pesantren ini juga dibekali fasilitas manasik. Menurut Lutfi, ide awal diadakannya fasilitas ini timbul dari keinginan membangun kampung manasik. Sebab  itu, fasilitas ini dibangun semirip mungkin dengan yang ada di Tanah Suci, tapi tak menyulitkan para santri untuk belajar. "Selama ini kan saya mengajar calon jamaah haji untuk melaksanakan manasik. Tetapi, walau telah mengikuti sekian kali manasik, pada saat berada di Tanah Suci, mereka tetap kerap nyasar," kata dia.

Begitu detailnya fasilitas manasik itu jadi pesantren ini mempunyai miniatur Gua Hira serta Ka'bah yang berada persis di depan asrama santri. "Kita kan berkhayal punya pesantren persis semacam Zam-Zam Tower di Makkah, begitu lihat keluar, tampak Ka'bah," kata dia.  Masih ada fasilitas lain, semacam outbond, tempat di mana para santri bisa belajar memanah serta berkuda. "Ke depan, kami buka perpustakaan hadis terlengkap di Indonesia. Di sini, kami ingin bikin suasana yang mendukung santri untuk belajar hadis," kata dia.

Mengenai biaya, Lutfi memastikan, konsep pesantren ini bukan untuk komersial. "Saya sadar, ini dibangun atas donasi umat. Jadi, kami tak pantas untuk menjadikan ini komersial. Sebab itu, kami hanya minta anggaran untuk kegiatan operasional," kata dia. Untuk syarat, Lufti menyebut, setiap calon santri harus mengetahui Rasulullah serta hafal hadis. "Insya Allah, pembelajaran yang bakal diikuti para santri tak sekadar teroritis, tetapi juga praktik. (rol/hidayah.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel