Bagaimanakah hukum parfum beralkohol?

Tak dapat dipungkiri, tak sedikit sekali wewangian yang memakai pelarut dari alkohol. Bahkan diantara berbagai bahan dasar wewangian, ada yang tak dapat larut kecuali dengan larutan senyawa alkohol.

Bagaimanakah status hukum parfum beralkohol ini?

Para ulama tetap memperbincangkan mengenai boleh tidaknya kaum Muslimin menggunakan parfum beralkohol. Apalagi, apabila digunakan untuk beribadah semacam shalat. Pengkajian awal, butuh ditelisik pada hukum awal dari alkohol tersebut. Apakah ia termasuk benda najis, alias tidak.

Jumhur ulama menganggap alkohol termasuk najis. Dengan dasar ini, mereka menyebutkan tak boleh memakai wangi-wangian alias parfum yang bercampur alkohol. Apabila pakaian yang dikenai parfum digunakan untuk shalat, pasti salatnya tak sah.

Mereka berdalil kenajisan alkohol dari Alquran, "Sesungguhnya khamr, judi, berhala-berhala, panah (yang dugunakan untuk mengundi nasib) adalah rijsun (yang termasuk) dari perbuatan syaitan." (QS al-Maidah [5]: 90).

Rijsun yang dimaksudkan najis alias sesuatu yang menjijikkan. Sedangkan alkohol sendiri termasuk terhadap khamar yang disebutkan dalam ayat tersebut. Berdalil dari hadis Rasulullah SAW, "Setiap yang memabukkan itu khamar, dan setiap khamar itu haram." (HR Muslim). Sehingga disimpulkanlah alkohol termasuk kategori rijsun alias najis. Sedangkan ulama kontemporer lainnya berpandangan alkohol tidaklah najis.


Pendapat ini dikemukakan para ulama fikih semacam Abi Ibrahim Ismail bin Yahya Muzani serta berbagai fukaha kontemporer. Muhammad Rasyid Ridha dalam kitab Tafsirnya Al Manar berkata, belum pasti sesuatu yang diharamkan tersebut merupakan najis. Tak sedikit faktor yang diharamkan dalam syarak namun tak najis. Umpama saja, fauna semacam kucing merupakan haram dikonsumsi. Namun kucing sendiri bukanlah binatang yang najis.

Hal ini dapat berlanjut qiyasnya terhadap alkohol. Khamr sendiri, haram untuk dimakan namun tak najis untuk disentuh. Ketika turun ayat yang mengharamkan khamr, para sahabat memecahkan kendi-kendi berisi khamr di jalan-jalan Kota Madinah. Tentu bukanlah perkara baik apabila menumpahkan najis di jalanan. Misalkan, kencing yang menjadi najis dilarang membuangnya di jalan. Jadi, khamr sendiri tidaklah najis. Bersambung..(ROL)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel