Mendekatkan Diri

Dalam sebuah interaksi dialognya, Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Allah, ''Apakah Engkau jauh sehingga aku perlu memanggil-Mu keras-keras, atau Engkau dekat sehingga aku cukup berbisik kepada-Mu?'' Jawab-Nya, ''Kalau Kukatakan jauh, kamu tak dapat mencapainya, dan kalau Kukatakan dekat, kau pun tak bakal mampu menempuhnya.''

Pernyataan Tuhan di atas, menurut pakar tafsir Al-Raghib al-Ashfahani di kitab Al-Mufradat fi Gharib Alqur'an, bermakna bahwa Tuhan pada hakikatnya amat dekat hamba-Nya. Bahkan menurut Q.S. 50: 16, Tuhan justru lebih dekat kepada manusia ketimbang urat nadinya. Namun, kedekatan-Nya tidaklah bersifat fisik seperti dibayangkan Musa dalam dialog di atas, melainkan bersifat rohani dan spiritual.

Mendekatkan Diri
Mendekatkan Diri


Ia mendekati hamba-Nya melewati petunjuk serta limpahan nikmat serta karunia-Nya yang tidak terhingga banyaknya. Inilah makna kedekatan Allah terhadap manusia. Lalu, bagaimana dengan kedekatan manusia kepada-Nya? Menurut al-Ashfahani, kami bisa mendekati-Nya dengan cara rohani pula, yaitu menghiasi diri sebanyak mungkin dengan ''sifat-sifat'' Allah, semacam sifat bijak-bestari (hikmah), sifat ilmu, sifat penyantun, serta kasih sayang. Ini semua bisa terjadi -- walau disadari bahwa manusia tidak mungkin menjadi Tuhan -- bila kami sanggup menghapus beberapa kotoran serta dosa kita.

Setiap kami pasti berbeda-beda kedekatannya dengan Allah, bergantung serta setingkat dengan upaya yang kami lakukan. Menurut Syekh Islam Ibnu Taimiyyah dalam sekian tidak sedikit karyanya, orang-orang yang mendekatkan diri terhadap Tuhan bisa diklasifikasi menjadi dua kelompok.

Pertama, kelompok al-muqtashidun, kelompok sedang alias pertengahan, yaitu orang-orang yang mendekati Allah dengan menjalani semua kewajiban serta menjauhi semua larangan Allah SWT. Kedua, kelompok al-muqarrabun, kelompok terdepan, yang mendekati Allah bukan saja dengan melakukan seluruh kewajiban serta menjauhi semua larangan, melainkan juga melengkapi diri dengan beberapa ibadah-ibadah sunnah (al-mandubat). Bahkan mereka sanggup menjadikan semua aktifitasnya, walau tak bersifat khas keagamaan, bermakna serta mempunyai kualitas pengabdian.

Allah akan menyambut hamba-Nya yang dengan tulus dan ikhlas hendak kembali ke jalan-Nya. Dalam sebuah hadits Qudsi yang sangat populer di kalangan kaum sufi, Allah SWT berfirman, ''Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka aku telah datang menghampirinya sehasta. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang menyambutnya dengan berlari. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berlari, maka aku datang menyongsongnya lebih cepat lagi.''

Sungguh beruntung orang yang mempunyai kesadaran serta kemauan untuk kembali ke jalan-Nya serta mendekatkan diri pada-Nya sebesar apa pun dosa serta kesalahan yang sempat pernah ia lakukan. Pintu taubat serta pintu rahmat-Nya pasti akan selalu terbuka lebar-lebar bagi siapa saja yang mau mengetuk serta membukanya. -ROL/Hidayah.co

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel