Apa Urgensi Malu untuk Muslimah?

Kecantikan dan keanggunan perempuan akan semakin terpancar dengan sifat malu yang dimiliki.

Sifat malu bagi perempuan merupakan perhiasan, kehormatan, sekaligus jati diri yang utama. Karena, pada hakikatnya para kaum Hawa mempunyai peran strategis dan krusial di tengah-tengah peradaban. 

Luhur tidaknya suatu  komunitas masyarakat dan bangsa turut ditentukan oleh sejauh mana tingkat kesalehan para wanitanya. Dan, sejarah Islam membuktikan, kegemilangan kebudayaaan Islam ditopang oleh adab dan kemuliaan para perempuan.

Apa Urgensi Malu untuk Muslimah?
Apa Urgensi Malu untuk Muslimah?

Demikian, ucap Syekh Muhammad bin Musa as-Syarif, dalam karyanya yang berjudul Haya’ al-Mar’ah Ushamh wa Unutsah wa Zinah. 

Serangan bertubi-tubi dunia luar, pada intinya mencoba untuk merobohkan sedikit demi sedikit kemuliaan perempuan, tergolong memudarkan sifat malu, lewat gaya hidup, efek negatif dari keterbukaan informasi, sampai melibatkan propaganda budaya.

Padahal, bandingkan para perempuan di era awal, populer teguh menerapkan sifat malu. Lihatlah sikap yang ditunjukkan oleh putri dari Abu Bakar, yaitu Asma’. 

Suatu ketika, ia sempat menghindar lantaran malu berjumpa segerombol sahabat dari kalangan Anshar. Rasulullah SAW pun menyarankannya supaya mengambil arah lain.

Maka, hiasilah diri dengan malu. Karena malu, kata seorang tokoh salaf, Abu Hatim al-Busti, berarti menjauhkan diri dari segala perilaku yang tidak disukai. 

Selain itu, mengutip Ensiklopedi Fikih Kuwait (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah), sifat malu itu terbagi menjadi dua. 

Malunya seorang hamba terhadap Allah SWT bila melanggar larangan-Nya dan malu melakukan segala perkara yang tidak disukai, baik perkataan alias perbuatan.

Lantas, apa urgensi sifat malu bagi perempuan? Syekh as-Syarif berbicara malu merupakan bukti kecintaan tarhadap Allah SWT dan para rasul-Nya. Dan dengan malu agama seorang Muslimah bakal masih terpelihara. 

Malu membentengi dia dari perbuatan yang tercela. Dan, karena malu itu pula, kehormatan dan keanggunan perempuan terjaga.

Perempuan yang berhias dengan sifat malu bakal terjaga sikap femininnya yang sejati. Jauh bedanya dengan wanita yang tomboi alias kasar, umpama bahkan perempuan yang bersolek terlewat batas sekali pun. Kecantikan dan keanggunan perempuan bakal terpancar dengan sifat malu yang dimiliki.

Sifat malu juga mempertegas bukti diri dan jati diri seorang perempuan. Ia akan selalu sanggup menempatkan diri dengan cara proporsional tidak asal berlebih-lebihan. 

Seperti diriwayatkan oleh Bukhari dari Busyair bin Ka’ab, Rasulullah SAW sempat bersabda, “Telah tertulis dalam takdir, sesungguhnya tersedia kemuliaan dalam sebagian sifat malu dan kedewasaan di tahap lainnya. Dan, bagi seorang istri sifat malu akan senantiasa meningkatkan kecintaan terhadap suami.”

Syekh as-Syarif mengakui memperteguh sifat malu bukan perkara gampang. Potret ketidakmampuan perempuan menguatkan sifat tersebut, semacam tergambar dalam beragam fenomena yang timbul di masyarakat. 

Tak heran didapati perempuan yang berperangai kasar, gaya berbicaranya tidak patut, mengumbar konflik internal keluarga ke orang lain, berbusana tidak etis dan cenderung menampakkan aurat, dan tidak jarang kali didapati sebagian oknum Muslimah merokok tanpa rasa malu.

Syekh as-Syarif tidak terhenti pada kritikan, ia pun mengutarakan sederet solusi untuk menanamkan rasa malu bagi perempuan sejak dini. Yang paling mendasar merupakan menanamkan keimanan dalam pribadi anak-anak perempuan.
Keimanan ini melebihi segalanya. Dengan iman tersebut, seorang hamba bakal tergiring untuk malu. Ketika turun perintah berjilbab dalam surah an-Nuur, segenap sahabat perempuan bergegas menuju kamar dan menutup aurat mereka. Hanya keimanan yang mendorong faktor itu terjadi. 

Selanjutnya, menciptakan pendidikan yang kondusif, paling tidak di level mendasar dan utama, yakni institusi keluarga. Para orang tua berkewajiban memberikan pemahaman yang memadai perihal pentingnya rasa malu bagi anak perempuan mereka.

Dan, jangan lupa memberikan suri teladan yang baik. Keteladanan memancing simpati dan ketertarikan. Berapa tidak sedikit pendidikan gagal lantaran nihil keteladanan. Ingin anak-anak perempuan Kamu malu, jadi mulakan dan biasakan rasa malu dari diri Anda.-HIDAYAH/ROL

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel