Bersyukurlah Dengan Segala yang Didapat




Saat pulang kantor, saya memberhentikan mobil. Saya lihat dari kaca spion, seorang nenek berjalan kaki sambil berjualan. Umurnya (tampak dari wajah serta langkah kakinya) mungkin di atas 60 tahun.

Di pinggir jalan menuju rumah yang tiap sore ramai, saya kemudian bertanya. "Mau beli rengginang, Nek! Berapa harganya?" "Enam ribu satu bungkus," jawabnya singkat. "Adik mau beli berapa bungkus?" "Dua bungkus saja, Nek," jawabku. "Dua bungkus Rp 12 ribu," ucap si nenek.

Lalu, saya membuka dompet serta mengambil uang Rp 20 ribu. Nenek buru-buru mengeluarkan uang untuk memberi kembalian. Tetapi, saya bilang, "Kembalian itu untuk Nenek saja." "Terima kasih Den, hati-hati," katanya berpesan.

"Nek, putranya di mana? Kok, Nenek tetap berjualan? Jalan kaki lagi!" tanyaku keheranan. "Anak-anak tidak mau tinggal sama Nenek. Tiap hari Nenek berjalan kaki, berjualan dari Kebayoran Lama hingga Ciledug untuk bisa makan."

"Berapa sehari Nenek bisa untung?" tanyaku penuh kasihan. "Tidak mesti Nak sebab rezeki Tuhan yang atur. Kadang bisa untung Rp 20 r ibu, kadang Rp 10 ribu. Semua itu Nenek syukuri, yang penting Nenek sehat serta tidak menjadi beban orang lain."

Sampai di sini, saya pun malu serta semacam tertampar hebat. Nyatanya, selagi ini saya tidak lebih bersyukur. Pertemuan sore itu menyadarkan saya alangkah hidup itu "harus" hukumnya bersyukur.

Dapat musibah, bersyukurlah. Bisa ujian, bersyukurlah. Bisa persoalan, bersyukurlah. Bisa kesusahan, bersyukurlah. Apalagi bisa kenikmatan, pasti mudah sekali orang untuk bersyukur. Musibah, ujian, persoalan, serta kesusahan boleh jadi itu langkah Tuhan menyaksikan nilai keimanan kita.

Boleh jadi, Tuhan kangen serta rindu pada hamba-Nya jadi ingin memeluknya dengan lebih dulu diberi "ujian" kesusahan demi kesusahan. Bahkan, dalam Alquran pun dijelaskan, "Siapa yang pandai bersyukur, maka Aku bakal tambah nikmatnya serta barang siapa kufur (tak mau bersyukur) atas nikmatku, maka sungguh azabku sangat pedih (QS Ibrahim [14]: 7).

Dari sini, bersyukur merupakan perintah implisit dari Tuhan langsung terhadap hamba-Nya. Sebab dalam hidup ini, sejak kami lahir hingga meninggal, dipenuhi "utang" kami pada Tuhan Sang Pencipta. Coba kami hitung, berapa harga satu jari ketika jari itu putus. Berapa harga satu tangan ketika tangan itu patah. Berapa harga satu kaki ketika kaki itu tiada.

Berapa harga oksigen ketika kami sedang sekarat. Bahkan, berapa harga nyawa ini ketika telah mati. Tentu, semua itu tidak ternilai harganya. Tetapi, kami bisakan dengan cara gratis dari Tuhan. Maka, layak apabila kami rutin diingatkan bakal ayat-Nya, "Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan!" (QS ar-Rahman [55]: 55).

Jadi, bersyukur merupakan keharusan kami sebagai hamba-Nya. Tanpa bersyukur, sejatinya kami tidak layak untuk hidup. Sebab, apa yang sekarang kami miliki merupakan yang paling baik menurut Tuhan serta kita. Bukan sebaliknya!

Bersyukurlah, sebab dengan sesangatlahnya bersyukur, jaminannya bakal ditingkatkan kenikmatan hidupnya. Langkah sederhana bersyukur dengan merawat apa yang telah diberbagi pada kita. Apabila sekarang sehat, jaga kesehatan itu supaya penyakit tidak mendekat. Apabila ada waktu luang, gunakan untuk menebar kebaikan serta kebenaran. Apabila mendapat amanah, hinggakan terhadap yang berhak menerimanya. Telahkah kami bersyukur kali ini?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel