Hijrah Lahirkan Umat Terbaik

Hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah adalah babak awal kebangkitan Islam. Dari hijrah, Rasulullah SAW dapat membangun masyarakat baru di Kota Madinah. 

Masyarakat yang terformulasikan dalam bentuk persaudaraan ukhuwah yang sangat kental antara orang-orang yang berhijrah dari Makkah alias kaum Muhajirin dan penduduk Kota Madinah yang menolong mereka alias lebih dikenal kaum Anshar. Rasulullah SAW mengusulkan kita untuk hijrah dari meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. "Dan berbuat dosa tinggalkanlah." (QS al Muddatstsir [74]: 5).  

Hijrah adalah satu momen penting yang wajib rutin melekat dalam benak kaum Muslim. Hijrah adalah perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabat beliau ke Madinah untuk menyongsong kehidupan bernegara yang berdaulat dan berdiri sendiri dan terbebas dari penguasaan negara-negara lain. 
Lahirnya Umat Terbaik

Hijrah itulah yang dijadikan sebagai awal penanggalan dalam Islam, awal munculnya sebuah umat dalam sejarah dunia, yaitu umat Islam yang dikatakan oleh Allah sebagai umat paling baik yang lahir ke dunia.

Sekarang telah memasuki tahun ke-1437 H, umat Islam telah eksis di belantara kehidupan hampir satu setengah milenium. Sebuah umur yang amat panjang jadi amat wajar apabila umat ini telah melalui segala pahit-manis, sulit-bahagia, maju-mundur sebagai umat dan peradaban.

Umat ini sempat melalui masa-masa gemilang yang tak ada tandingannya dalam sejarah. Menaungi kemanusiaan dengan keadilan dan kesejahteraan karena Islam bukan hanya rahmat bagi umat Muslim, melainkan juga rahmat bagi seluruh alam, seluruh manusia. Bukankah Allah SWT telah berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus kalian melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS al-Anbiyaa[21]: 107).

Tetapi, sayang, kini ini umat Islam sedang terbelenggu oleh penguasaan negara-negara kafir. Harta mereka dikuasai, tenaga mereka dikuras, dan mereka hidup dalam kehidupan yang sempit. Semua ini disebabkan oleh umat ini telah berpaling dari mengingat Allah, mengingat aturan-aturan-Nya, dan menerapkannya dalam kehidupan semacam yang difirmankan-Nya dalam ayat 124 surah Thaha: "Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit."

Imam Ibnul Qoyyim dalam Risalah Tabukiyah menyebutkan hijrah yang hukumnya fardhu ain adalah menuju Allah dan Rasul-Nya, tak hanya berupa jasad, tetapi juga diikuti dengan hati. Allah berfirman, "Maka segeralah (berlari) kembali menaati Allah." (QS adz-Dzariyaat [51]: 50). 

Hijrah ini meliputi dari dan menuju: Dari tindakan syirik menuju tauhid, dari jahiliyah menuju Islamiyah, dari mungkar menuju makruf, dari maksiat menuju taat. Dari kecintaan terhadap tidak hanya Allah menuju kecintaan kepada-Nya, dari takut terhadap tidak hanya Allah menuju takut kepada-Nya. 

Hijrah ini adalah tuntutan syahadat la ilaha illallah. Hijrah ini sangat berat. Orang yang menitinya dianggap orang yang asing. Dirinya meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam segala perkara yang diperselisihkan dalam seluruh perkara agama. 

Allah berfirman, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sebuah ketetapan, ada bagi mereka opsi yang lain mengenai urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dirinya telah sesat, sesat yang nyata." (QS al-Ahzab [33]: 36). 

Pada akhirnya, hijrah adalah keberanian untuk tampil beda. Berani menolak suap ketika tradisi suap telah membudaya. Berani menutup aurat ketika sebayanya ramai-ramai membuka aurat. Berani berbicara yang benar, ketika yang lain justru menutup kebenaran. Wallahu 'alam. (Suparman Jassin/ROL)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel