Indonesia Laboratorium Kerukunan Umat Beragama

Indonesia sesungguhnya merupakan laboratorium kerukunan umat beragama dalam artian yang sebetulnya. Demikian penegasan Sekjen Kemenag  Nur Syam sehubungan dengan perayaan tahun baru Islam 1437H, Jakarta, Jumat (16/10) lalu.

Menurutnya, perayaan hari besar keagamaan, tahun baru, serta tradisi-tradisi lokal di Indonesia dilakukan hampir tanpa ada konflik. Nur Syam mencontohkan, perayaan tahun baru, baik Masehi maupun Hijriyah, sarat dengan nuansa  kedamaian  serta keselamatan.

“Makna hakiki kebangkitan umat Islam pada 1 Muharram yaitu umat Islam mengedepankan Islam sebagaimana yang diharapkan Nabi Muhammad saw, yaitu Islam yang damai, sejahtera, berkemajuan, serta memberbagi berkat bagi uma manusia,” ucap Nur Syam.

Terkait itu, di tengah nuansa menyambut tahun baru Islam, Nur Syam menyoroti realitas sekarang di mana Negara-Negara Islam di Timur Tengah tetap tercerai-berai. Nur Syam mengaku prihatin bahwa mereka tetap saling menyerang satu dengan lainnya dengan dalih kebenaran masing-masing, serta  itu yang menjadi salah satu problem  umat Islam ke depan.

Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
Kerukunan Umat Beragama di Indonesia (mediasulbar.com)
“Rasanya, apa yang terjadi di berbagai negara di belahan dunia Islam itu  menyedihkan. Ego-faksional di antara mereka menarik tingginya, jadi  ingin saling menguasai. Padahal  mereka memakai bahasa yang nyaris sama, yaitu bahasa Arab. Tetapi  konflik di antara mereka juga sangat tinggi,” tuturnya.

Berangkat dari realitas ini, Nur Syam menyaksikan  Indonesia sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk umat Islam yang mempunyai keunikan. Menurutnya, walau terdiri dari 700-an suku bangsa dengan bahasa serta tradisi yang tak sedikit, kira-kira 500-an bahasa, tetapi demikian Indonesia  dapat bersatu dalam satu bangsa serta negara. “Betapa indahnya Indonesia ini, apabila dibandingkan dengan negara-negara lain. Tetap ada sejumlah masyarakat yang sedang  merumuskan bukti diri kebangsaan serta kenegaraannya di tengah kemodernan serta kemajuan ini, sementara Indonesia telah selesai,” katanya.

Nur Syam tak menutup mata dengan adanya perbedaan di Indonesia. Bahkan, lanjutnya, pasti ada perbedaan dalam menentukan tahun baru Hijriyah 1437H ini. Ada yang memakai hitungan tahun Saka, ada yang memakai hitungan tahun Aboge, serta sebagainya. Tetapi demikian, di antara mereka yang tak sama pendapat tersebut tak saling mencaci serta merendahkan.  “Mereka semua memahami bahwa perbedaan merupakan tahap dari sunnatullah yang wajib dipahami dengan cara mendalam,” terangnya. (Kemenag)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel