Mengedepankan Diplomasi Hati Untuk Identifikasi

Kalian kerja pakai hati. Kalian bekerja bukan sebab uang alias instruksi. Kalian bekerja dengan hati dan sebabnya kami ingin bicara dari hati untuk sikap saling menghormati.” Demikian sepenggal ungkapan Fadhly Ahmad salah satu anggota tim identifikasi jenazah jamaah haji Indonesia korban Mina.

Segera seusai kejadian, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku Amirul Haj memimpin koordinasi PPIH Arab Saudi untuk menentukan langkah-langkah strategis. Langkahnya, membentuk tiga tim untuk mempercepat proses identifikasi jamaah haji Indonesia korban Mina. Pertama, tim pendataan  jamaah haji yang dilaporkan belum kembali ke rombongan. Kedua, tim pencari jejak korban di rumah sakit Arab  Saudi. Dan, ketiga, tim identifikasi jenazah di Majma ath-Thawary bil-Muaishim (Tempat Pemulasaraan Jenazah di Muaishim).

Fadhly Ahmad merupakan satu dari empat orang yang tergabung dalam tim identifikasi jenazah. Tidak hanya Fadhly, ada Letkol Jaetul Muchlis selaku ketua, dan dr. Taufik Tjahjadi, dan Naif Bahri. Dalam keanggotaan ini, Fadhly mewakili unsur Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah. Pria kelahiran Manado ini mengaku dengan cara khusus bersama tim konsuler ditugaskan oleh Konjen RI di Jeddah Dharmakirty Syailendra Putra untuk ikut menolong tim identifikasi jenazah, terutama dalam membukakan jalan masuk bagi mereka.

Mengedepankan Diplomasi Hati Untuk Akses Identifikasi


“Tim KJRI lebih membuka jalan masuk dengan pendekatan persuasive terhadap otoritas setempat,” terang Fadhly terhadap tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah, Selasa (13/10).

Menurut Fadhly, tim identifikasi PPIH  terdiri dari orang-orang yang smart dan semangat. Tetapi demikian, praktik identifikasi di lapangan, tim ini dihadapkan pada masalah jalan masuk informasi. Terkait dengan itu, lanjutnya, kami bekerja bersama-sama pada proses awal dengan fokus menembus jalan masuk yang ada, baik ke gambar, dokumen, maupun kamar jenazah.

Satu setangah tahun bertugas di KJRI Jeddah, Fadhly mulai memahami kultur birokrasi orang-orang di Arab Saudi. Menurutnya, pendekatan formal diplomatik dalam tak sedikit faktor yang dialaminya justru lama. Tidak hanya itu, sesuatu yang telah disepakati pada level ceo, tak rutin dipersepsikan sama oleh pelaksana teknis di lapangan.

Meski pendekatan formal diplomatik masih dilakukan dengan cara aturan, tetapi Fadhly bersama stafnya Sarbini mengaku melakukan pendekatan-pendekatan informal persuasif juga, terutama pada permasalahan-permasalahan yang urgen yang membutuhkan kecepatan. “Kita tak sedikit melakukan pendekatan persuasif dari pada nota diplomatik yang text-time,” tuturnya.

Sebagai contoh, Fadhly berkisah mengenai permasalahan berat hukuman mati Tenaga Kerja Indonesia. Menurutnya, apabila informasi pelaksanaan sidang hanya dilakukan melewati pendekatan formal, sering surat pengumumannya baru diterima kemarin hari seusai pelaksanaan sidang. “Tapi sebab rekanan kami bagus, pendekatan kami bagus dengan paniteranya, sekretaris hakim, dirinya dengan cara informal memberbagi informasi soal acara siding,” jelasnya.

Hal sama Fadhly lakukan dalam konteks menembus jalan masuk Muaishim. Walau jalur formal masih dilakukan dengan berkirim surat terhadap Kementerian Kesehatan dan Otoritas Muaishim supaya tim PPIH bisa diberi ruang yang luas dalam mengakses informasi terkait jamaah haji Indonesia di rumah sakit dan tempat pemulasaraan jenazah, Fadhly bersama tim PPIH lainnya juga melakukan diplomasi yang disebutnya sebagai diplomasi hati.

“Kepada petugas Muaishim, saya hinggakan, saya tahu kalian sibuk. Saya tahu bagaimana kalian memperlakukan saya sebagai saudara kalian sesama muslim. Saya juga tahu bagaimana kalian bekerja dengan ikhlas tanpa pamrih. Saya juga tahu bagaimana kedekatan hubungan antara Indonesia dengan arab Saudi,” ungkapnya share langkah berkomunikasi dengan orang-orang Arab. Menurutnya, hal-hal semacam itu yang rutin dirinya tekankan dalam berdiplomasi untuk mengakses informasi.

“Saudara kalian nih, seagama, lagi datang terhadap kamu. Tak mungkin saya ganggu kalian kalau saya tak dalam keadaan butuh. Tentu saya dalam keadaan butuh dan kalau tanpa kalian saya tak bisa apa-apa,” tambahnya lagi.

Walhasil, atas kerja keras tim PPIH Arab Saudi, jalan masuk terhadap informasi sedikit demi sedikit mulai terbuka. Keempat tim ini terus bersinergi dan saling melengkapi demi mendapatkan informasi yang bisa mempercepat proses identifikasi jenazah jamaah haji.

Peluang melaksanakan tugas identifikasi di Muaishim memberinya kesan tersendiri bagi Fadhly mengenai pengertian penting silaturahmi. Sarjana lulusan Pondok Modern Gontor ini merasa kini hubungan tim PPIH dan KJRI dengan pihak-pihak di Arab Saudi terus terbina, baik yang di Rumah Sakit Arab Saudi maupun di Muaishim. Faktor ini dikarenakan  tidak hanya Fadhly dan Sarbini, Konjen RI juga membentuk tim yang khusus bertugas menyisir kehadiran jamaah haji Indonesia di rumah sakit – rumah sakit yang ada di Jeddah dan Makkah. Mereka terdiri dari Rahmat AMing, AJat Sudrajat, dan Rofik.

Menurut Fadhly, orang-orang yang ditemuinya selagi bertugas di Muaishim, tergolong juga di rumah sakit, merupakan orang-orang Arab dari lintas kementerian, baik dari Riyad, Madinah dan seluruh wilayah Arab Saudi, yang saat musim haji dikumpulkan di Makkah untuk penanganan permasalahan-permasalahan yang semacam ini.

Pelan tapi pasti, jenazah demi jenazah sukses diidentifikasi. Hingga dengan kali ini, Jumat (16/10), 128 jenazah dipastikan orang Indonesia, terdiri dari 123 jenazah jamaah haji dan 5 jenazah yang mukim di Arab Saudi. Tidak hanya itu, ada satu jamaah haji Indonesia korban Mina yang wafat di rumah sakit seusai sebelumnya dirawat di ICU RS King Fahd Jeddah.

Terima kasih dari hati kami untuk Fadhly, Tim PPIH, dan Tim KJRI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel