Rahasia Bacaan Basmallah

Oleh : Prof Dr Nasaruddin Umar, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Basmalah (bism Allah al-rahman al-rahim) mempunyai tidak sedikit rahasia. Basmalah bukan hanya terkenal bagi Nabi Muhammad SAW serta para umatnya, melainkan juga terkenal di kalangan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Bahkan, ada yang berkata, semenjak zaman Nabi Adam AS, basmalah telah familiar dipakai.

Dalam sebuah riwayat dikatakan Nabi Ibrahim AS sebelum membaca doa ia membaca basmalah. Yang dibaca Nabi Isa AS ketika menghidupkan orang mati ialah basmalah, Nabi Nuh AS menjalankan perahunya dengan basmalah, serta surat sakti yang menjadikan Ratu Balqis tunduk terhadap Nabi Sulaiman AS ialah suratnya yang berisi Bism Allah al-rahman al-rahim. Kalimat basmalah juga menghimpun tiga Nama Tuhan, satu lafdz aljalalah (Allah) serta dua sifat utama-Nya (al-Rahman serta al-Rahim).

Basmalah dalam Islam menjadi sangat penting sebab mengawali surah al-Fatihah (al-fatihah al-Kitab), surah yang harus dibaca pada setiap rakaat shalat. Setiap surah Alquran diawali penulisannya dengan basmalah, pengecualian surah al-Taubah sebab beberapa penjelasan. Allah SWT juga memerintahkan kami untuk mengonsumsi sebuah makanan, terutama daging, yang disembelih dengan membaca basmalah.


Walata'kulu mimma lam yudzkari ism Allah (Dan janganlah mengonsumsi binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya QS al-An'am [6]:121). "Maka konsumsilah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya QS al-An'am [6]:118). Nabi sendiri rutin mengingatkan kami untuk mengawali setiap pekerjaan dengan membaca basmalah.

Pencantuman titik di bawah huruf ba di awal basmalah juga mempunyai pembahasan yang panjang di dalam perspektif tasawuf. namun dari sisi kebahasaan, manfaat huruf ba di situ untuk pertolongan (isti'anah), yaitu menyandarkan niat serta tindakan hanya terhadap Allah SWT. Langkah menerjemahkan Bism Allah di sini ialah "Dengan nama Allah." Ada juga mendefinsikan huruf ba di situ sebagai pengganti (istibdal).

Cara menerjemahkannya ialah "atas nama Allah" alias dalam bahasa Inggris In the name of Allah. Apabila memakai terjemahan pertama, manusia lebih menonjol sebagai hamba yang segalanya untuk serta karena Allah SWT semata. Sedangkan, terjemahan kedua manusia lebih menonjol sebagai khalifah, representatif Allah SWT.

Dalam Tafsir Al-Kafi , mengambil riwayat dari Al-Baqir: "Kitab yang pertama kali Tuhan turunkan dari langit ialah bismillahir- rahmanirrahim, apabila membacanya jangan lupa untuk me mohon perlindungan terhadap Allah SWT. Apabila dibaca, Allah bakal melindunginya dari apa- apa yang ada antara langit serta bumi." (Al-Kasyani dalam Tafsir al-Shafi , Juz 1, h 82).
Sebagian lagi membahas basmalah dengan berbicara al-ba'u Bahaullah, wa al-sin sanaullah, wa al-mim mul- kullah, wa al-Allah Ilahu kulli syai wa al-rahman bi jami'i khalqihi wa al-rahman bi al-mu'minin kha shah (Al-Qummi, Tafsir al- Qummi, Juz 56, h 56).  Riwayat Ibn Abbas: Anna likulli syai'in usas Hadis lain: Wa usas al-Qur'an al- Fatihah wa usas al-Fatihah Bis- millahirrahmanirrahim". (Majma\'al- bayan, oleh Al-Thabrisi, Juz 1 h 20).

Almarhum Nurcholish Madjid suka memakai pengertian yang kedua sebab kalau yang pertama terlihat unsur mistiknya menonjol, sedangkan yang kedua unsur tanggung jawabnya menonjol. Dengan membaca basmalah, melekat sebuah tanggung jawab besar, kami tidak boleh main-main sebab kami memperatasnamakan Allah SWT. Terjemahan ini sesuai dengan kapasitas manusia sebagai khalifah di bumi (inni ja'ilun fi al-ardh khalifah).

Apa pun yang dilakukan terbukti untuk serta atas nama Allah SWT. Dicontohkan, apabila seorang rektor berhalangan, wakil rektor mewakili rektornya membuka alias meresmikan acara, sang wakil rektor pasti bakal berkata: In the name of Rector (atas nama rektor).

Manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi juga harus menjalankan manfaatnya dengan baik. Sebab itu, Nabi memerintahkan apa pun yang bakal dilakukan mulailah dengan basmalah. Tersedia beberapa pendapat pe nu lisan huruf ba didempetkan dengan kata ism, yang menyalahi teori ilmu penulisan bahasa Arab ('ilm ram). Biasanya huruf ba ditulis terpisah dengan kata berikutnya, semacam penulisan kata: Iqra' bi ismi Rabbik (terpisah dengan kata ism).

Sebagian ulama berbicara sebab itu perintah langsung dari Nabi untuk menghapus alif (hamzah washl) setelah huruf ba lalu huruf ba disambungkan dengan kata ism, maka jadilah bism, bukan bi ism. Sebagian ulama menekankan hik mahnya bahwa pendempetan antara huruf ba dengan ism dalam basmalah sebab ada huruf Allah setelah ism. Tidak sama dengan bi ism Rabb yang tidak ditulis bersambung.

Dalam perspektif tasawuf dibedakan dengan jelas antara kata Allah sebagai Lafz al-Jalalah berada dalam level Ahadiyyah. Se- sertagkan, Rabb himpunan dari nama-nama-Nya yang berada di level Wahidiyyah. Allahu a'lam. (ROL)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel