Tiga Alasan Bencana Menimpa Manusia



Hampir setiap hari kita disuguhi kabar mengenai bencana, mulai dari banjir, longsor, serta yang paling aktual merupakan bencana asap di tanah Sumatra sampai bencana moral yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan kriminal. Mungkin kita bertanya mengapa semua ini semakin terjadi? Alquran sebagai petunjuk serta pedoman hidup telah memberbagi setidaknya tiga argumen terkait dengan bencana yang menimpa manusia.

Pertama, adakalanya bencana itu datang sebagai "soal ujian" bagi seseorang alias sekelompok manusia. Bencana tipe ini merupakan murni kehendak Allah SWT (QS at- Thagaabun [64]:11) yang didatangkan untuk menguji manusia.

Tidak sedikit sekali teori yang diciptakan oleh manusia supaya terhindar dari bencana alias musibah tipe ini. Dalam aktivitas perdagangan umpama, untuk berhasil serta terhindar dari kebangkrutan, manusia gencar mendesain teori marketing serta promosi, tapi faktanya ada yang berkuasa mengatur arus rezeki.

Sikap yang wajib kita ambil untuk menyikapi bencana ini merupakan bersabar serta bertawakal kepada-Nya. Bersabar artinya kita menerima dengan lapang dada. Berat serta ringan cobaan yang menimpa seseorang bukan rutin bergantung pada bentuk musibahnya, melainkan tergantung pula bagaimana dirinya menerimanya. Apabila diterima dengan hati yang sempit, sekecil apa pun musibah bakal terasa berat. Ibarat sekepal garam yang dituangkan ke dalam air semangkuk, pasti bakal terasa asinnya apabila dibandingkan dengan sekepal garam yang dituangkan ke sertaau.

Kemudian tawakal, yaitu menyerahkan segala urusan terhadap Allah SWT, tetapi bukan berarti menyerahkan pekerjaan kepada-Nya. Artinya, manusia semakin berusaha serta hasilnya terserah bagaimana Allah memberi ketetapan. Di samping itu, manusia juga senantiasa berprasangka baik kepada-Nya.

Kedua, adakalanya bencana itu datang disebabkan oleh kesalahan manusia (khatiiati an-naas) (QS ar-Rum [30]:41). Sifat serakah serta eksploitasi terhadap lingkungan hidup pasti berimplikasi terhadap datangnya bencana alam. Sering bencana yang ditimbulkan berakibat pula terhadap mereka yang tak terlibat dalam pengrusakan lingkungan.

Jutaan manusia di Riau serta kurang lebihnya yang terpapar asap kebakaran hutan mayoritas justru merupakan mereka yang tak terkait sedikit pun dengan keuntungan dari pembakaran hutan yang dilakukan atas nama ekonomi itu. Maka yang wajib dilakukan, yakni, pertama, mengintrospeksi diri serta menata kembali hubungan harmonis antara manusia serta alam. Dalam penataan ini jelas peran serta arahan pihak yang berwenang merupakan yang terdepan.

Kedua, mempertebal kembali humanitas yang mungkin telah mulai meluntur supaya tak ada lagi korban akibat keserakahan dalam mencari keuntungan. Ketiga, adakalanya bencana itu datang disebabkan oleh dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia (dzunubu an-naas). Apabila bencana sebelumnya disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan manusia dengan alam, sedangkan tipe bencana yang satu ini disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan.

Tersedia tak sedikit kisah dalam Alquran yang mengisahkan mengenai bencana yang menimpa kaum-kaum terdahulu yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka. Pasti tidaklah semata-mata kisah tersebut disaapabilan dalam Alquran melainkan supaya menjadi pelajaran. Maka, tak ada yang bisa dilakukan untuk menghindari bencana tipe ini kecuali dengan pertobatan.

Demikianlah Alquran menjawab pertanyaan mengapa bangsa ini semakin dilanda bencana. Boleh sehingga keimanan kami sedang diuji, tetapi tak menutup kemungkinan semua ini akibat dari kesalahan serta dosa-dosa yang kami perbuat. Apa pun yang melatari semua bencana yang melanda negeri ini, berpegang teguh terhadap aliran agama merupakan solusinya. Wallahu a'lam. n (ROL/Hidayah.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel