Kilau (Harta) yang Menipu

Hati siapa yang tidak berminat dengan godaan harta. Terlebih seseorang sewajibnya memperoleh harta tertentu seusai ia berjuang keras. Berjuang sampai risiko antara hidup dan mati hanya dipisahkan benang tipis.

Ketertarikan atas harta yang lantas tidak sesuai dengan harapan pasti menimbulkan gundah. Keresehan itu pula yang dialami oleh kaum Anshar saat Perang Hunain nan berat itu telah usai. Kaum Muslimin mendapat kemenangan yang besar.

Semacam layaknya perang-perang lain, kaum Muslimin pun berhak mendapat harta rampasan perang (ghanimah). Tetapi betapa sedihnya kaum yang menerima Nabi SAW saat ia diusir dari kaummnya itu. Nabi SAW justru membagikan tahap harta ghanimah terhadap orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam semisal Abu Sufyan, 'Uyainah, Al Aqra' dan Suhail bin 'Amar.


Maka jiwa-jiwa manusia biasa kaum Anshar menyeruak protes. Kenapa orang yang dulunya memusuhi Nabi SAW dan baru masuk Islam mendapat bagian harta? Sementara mereka yang menolong Nabi SAW dan kaum muhajirin, pulang dengan tangan hampa.

Rasulullah seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad, lantas menemui dan menjawab kegundahan sahabat-sahabatnya dari Anshar itu. "Tidakkah kalian ridha, hai orang-orang Anshar," ucap Nabi SAW dalam kalimatnya yang bersejarah, "Manusia berangkat dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kalian pulang ke kampung halamanmu mengangkat Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan sebab hijrah, tentulah aku tergolong salah seorang dari Anshar."

Kita paham bagaimana akhir dari kisah ini. Siapakah yang lebih beruntung bisa mengangkat dan Rasulullah SAW bersama mereka dibandingkan sampah dunia bernama harta. Sesenggukan wajah-wajah Anshar itu terdengar saling bersahutan. Air mata penyesalan mereka basah mengaliri sampai janggut-janggut mereka.

Begitulah kita sejatinya diajarkan untuk bersikap terhadap harta. Mempunyai keinginan untuk menguasai harta merupakan sesuatu yang wajar. Tetapi pada hakikatnya, harta hanyalah suatu sarana. Seperti hanya Rasulullah SAW memberbagi harta terhadap kaum Quraisy yang baru masuk Islam. Semua itu hanya sarana untuk mengikat hati mereka supaya tetap bersama dakwah.

Sementara Rasulullah SAW paham, sejatinya kaum Anshar tidak memerlukan itu semua. Bagi mereka yang mengutamakan kaum muhajirin di atas diri mereka sendiri, pasti harta bukanlah yang paling utama. Apabila kaum Anshar menangis tersedu sebab mereka "mendapat" Rasulullah SAW, kami justru tergugu apabila harta kami tidak lebih.

Otak kita seakan disetting hanya untuk mencari uang dan materi. Bukan dengan niat jihad mencari nafkah, tetapi demi memenuhi buas nafsu diri. Terkadang waktu yang kami miliki 24 jam guna mencari pundi-pundi rupiah. Demi suatu  tas bermerk supaya tidak lagi dijauhi dalam kumpulan arisan-arisan masa kini.

Kehidupan saat ini hanya berlangsung dari satu transaksi ke transaksi berikutnya. Dari satu lembur ke lembur yang sama keesokannya. Muara semuanya itu hanya kelelahan raga dan jiwa yang tidak sempat tenang. Terlalu keras mengais emas terkadang turut melenakan kami pada hal-hal kecil yang sejatinya butuh perhatian.

Mengejar tender milyaran bagi kita tetap terlalu penting dibanding mengajari anak-anak kita belajar huruf hijaiyah supaya mereka bisa membaca kitab sucinya. Kita lupa menolong mengejakan hukum-hukum tajwid supaya nanti saat kami mati, si anak dengan lancar memimpin barisan shalat jenazah.

Padahal bisa sehingga bekal yang sangat ia butuhkan bukanlah properti tidak bergerak sekualitas puluhan miliar. Yang mereka butuhkan sejatinya merupakan apa yang kaum Anshar butuhkan. Keberadaan sosok Rasulullah SAW. Mereka jauh lebih beruntung mengangkat pulang Nabi Muhammad SAW ke kota mereka. Lantas menyerap saripati hidup yang sebetulnya.

Semoga kita ini sama halnya orang-orang Anshar yang mendapat keistimewaan untuk "membawa pulang" Rasulullah SAW bersama mereka. Sebab mereka sadar, walau keberminatan pada kilau harta benar-benar normal tetapi tidak bakal bisa menggantikan kilau cahaya hakiki dari Muhammad SAW (Hafidz Muftisany)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel