Tiga Pilar Raih Kebahagiaan Hakiki

MENGGAPAI kebahagiaan dalam hidup adalah naluri fitrah yang mengalir dalam diri manusia. Apabila boleh disederhanakan, apapun aktifitas yang dilakukan orang tersebut niscaya bermuara pada keinginan untuk berhasil dan tersanjung dalam hidupnya.



Tetapi rupanya masalah itu berubah menjadi “tidak sederhana” lagi sekarang. Penyebabnya adalah terjadi perbedaan persepsi dalam memaknai kebahagiaan dan kegemilangan hidup itu sendiri.

Di segi lain, pemikiran materialisme dan adat hedonisme juga kian mengarus kuat dalam keseharian manusia saat ini. Gemerlap dunia dengan segala pesonanya seolah sanggup menyihir pandangan manusia. Dampaknya, ia hanya sanggup menakar segala sesuatu dengan ukuran kebendaan. Matanya silau dan menyaksikan setiap urusan dengan kacamata untung menyesal semata. Alih-alih melibatkan keimanan dalam kehidupannya, Akhiratpun nyaris terlupakan olehnya.

Inilah potret buram dari kehidupan manusia yang begitu memuja kedigdayaan ilmu dan capaian teknologi di dalamnya. Tanpa ragu, mereka seolah ingin mencampakkan agama dari kehidupan manusia di dunia. Satu faktor yang pasti, ketika kondisi itu terjadi, maka orientasi hidup manusia sehingga bergeser. Mereka mengejar ketersanjungan tapi malah tersesat di jalan tidak berujung. Puncaknya, orang tersebut kian terabaikan dari mengingat hari Akhirat.

Pilar Bahagia

Allah berfirman;

“Sesungguhnya orang-orang yang rutin membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan setersanjungn dari rezeki yang Kita anugerahkan terhadap mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu menginginkan perniagaan yang tidak bakal memenyesal.” (QS: Surah Fathir [35]: 29).

Ayat di atas memberi penjelasan langkah mudah meraih ketersanjungan. Di saat orang lain tetap s ibuk merenda mimpi mengenai makna dan langkah menggapai ketersanjungan. Orang beriman nyatanya hanya ditawari melakukan tiga faktor sederhana untuk mewujudkan tersanjung tersebut. Perniagaan yang tidak bakal memenyesal (tijaratan lan tabura), demikian tawaran yang Allah berbagi.

Pilar kebahagiaan pertama, membaca al-Qur’an

Qatadah mengingatkan, walau membaca al-Qur’an telah beroleh pahala dan kemuliaan, tetapi sejatinya faktor tersebut tidak lumayan bagi orang beriman. Karena proses selanjutnya adalah menerapkan kualitas-kualitas al-Qur’an itu dalam kehidupan dunia. Al-Qur’an bukanlah ilmu yang dipelajari dan dikualitas dengan cara kognitif semata. Ia adalah implemetasi ilmu dan akhlak setiap orang beriman. Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, demikian jawaban Aisyah, Ummu al-Mukminin ketika ditanya mengenai keseharian Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Syeikh Abdurrahman as-Sa’di menerangkan pola interaksi yang benar dengan al-Qur’an. Hendaknya manusia berupaya mengikuti segala perintah yang datang dari al-Qur’an dan menjauhi semaksimal mungkin larangannya. Menurut as-Sa’di, tergolong langkah berinteraksi dengan al-Qur’an ketika seseorang membaca ayat demi ayat dengan cara rutin dan mempelajarinya. Karena mengenal makna dan kandungan al-Qur’an bakal mempermudah  seseorang untuk mengamalkan dalam kesehariannya (Tafsir Taisir Karim ar-Rahman, Penerbit Muassasah ar-Risalah, Beirut: 2000).

Pilar kebahagiaan kedua ibadah shalat

Shalat adalah ibadah mutlak dari seluruh rangkaian penghambaan terhadap Allah. Shalat adalah tiang agama sekaligus wasilah mutlak dalam meraih kemenangan hidup dalam panggilannya “hayya ala al-falah”. Setali tiga uang, shalat juga sarana paling baik dalam menanggulangi ragam masalah hidup manusia.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…” (QS Al-Baqarah [2]: 45).

pilar ketiga yaitu komitmen berinfak dalam segala kondisi yang dihadapi

Karena infak atau sedekah adalah bukti kejujuran iman dalam hati. Ia sebagai media paling baik dalam mengikis kecintaan yang berlebihan terhadap harta dan sarana untuk memperat ikatan ukhuwah di tengah masyarakat. Menurut asy-Syaukani, tidak ada perbedaan dalam berinfak, baik dengan cara sembunyi (sirran) ataupun terang-terangan (‘alan). Semuanya baik pada situasi dan keadaannya. Tidak lupa pastikan ibadah itu lahir dari panggilan keimanan terhadap Allah semata (Tafsir Fath al-Qadir, Penerbit Dar Ibn Katsir, Beirut: 1993).

Untuk pilar yang disebut terbaru, satu faktor yang menjadi pembeda antara aliran Islam dan selainnya adalah konsep memberi kegunaaan. Kualitas itu tidak diukur dengan kegunaaan yang dibagi. Terus tidak sedikit ia memberi kegunaaan niscaya bibit ketersanjungan itu kian subur dalam jiwa seseorang. Manusia yang paling baik di antara anda adalah yang tertidak sedikit membagi kegunaaan terhadap sesamanya. Demikian Rasulullah memberi motivasi. (HID).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel